NasDem Bedah Pemikiran Bung Hatta, Gembleng Etika Kader

Pemikiran Bung Hatta dapat menjadi landasan bagi pemimpin untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan masyarakat.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 28 Oktober 2026, 13:50 WIB
Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Partai NasDem menggembleng 50 kadernya melalui kelas khusus pemikiran Mohammad Hatta di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Mereka diajak mendalami etika negarawan, demokrasi, dan keadilan sosial untuk memperkuat integritas dalam menjalankan tugas politik.

Kelas Khusus Sekolah Pemikiran Bung Hatta itu diikuti pimpinan dan anggota legislatif NasDem dari Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Kegiatan ini digelar bersama Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta Yayasan Hatta. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-15 NasDem dan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Ada empat tema yang dibahas, yakni etika negarawan, kemakmuran dan keadilan sosial, pendidikan dan kebudayaan, serta politik dan demokrasi.

Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, mengatakan pemikiran Bung Hatta dapat menjadi landasan bagi pemimpin untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan masyarakat.

“Bagaimana seorang pemimpin mempunyai visi dan misi untuk kenegaraan dan kemasyarakatan. Ini penting untuk membangun jiwa bangsa, karakter bangsa, dan karakter diri untuk menjadikan Indonesia bermartabat dan berkualitas hidupnya,” ujar Halida kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).

Menurut dia, pembelajaran tersebut tidak sebatas menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong semangat bela bangsa dan pemikiran kritis melalui pendalaman gagasan para pendiri bangsa.

Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim, menyebut kelas tersebut sebagai kelas mandiri pertama dalam program Sekolah Pemikiran Bung Hatta. Ia mengatakan NasDem berupaya membangun tradisi diskusi dan literasi melalui berbagai kegiatan di NasDem Tower.

“Ini terus-menerus kami upayakan di NasDem Tower, baik diskusi buku, bedah buku, maupun bedah film sebagai bagian dari upaya kami menuju partai modern yang sesungguhnya,” kata Hermawi.

Direktur Eksekutif LP3ES, Fahmi Wibawa, menilai tradisi riset dan literasi penting bagi partai politik modern.

Menurut dia, kultur tersebut perlu berjalan beriringan dengan kepemimpinan yang menjunjung integritas dan etika.

“Partai politik yang modern adalah partai politik yang punya kultur teknokrasi, punya kultur riset, punya kultur literasi,” ujar Fahmi.

Pendidikan politik berbasis karakter, lanjut Fahmi, juga penting di tengah tantangan keteladanan dan dinamika politik menjelang pemilu.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya