Harga Masker Melonjak, DPRD DKI Ingatkan Pedagang Tak Aji Mumpung

Ia mengingatkan agar pedagang tidak menaikkan harga secara tidak wajar

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 10 September 2026, 21:03 WIB
Aktivitas olahraga warga tetap berlangsung di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta saat kualitas udara menjadi perhatian akibat sebaran abu vulkanik, Minggu (6/9/2026). (KLY/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - DPRD DKI Jakarta menyebut harga masker di sejumlah wilayah ibu kota masih mengalami kenaikan hingga dua kali lipat sejak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke ibu kota.

Menanggapi persoalan ini, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengingatkan agar pedagang tidak menaikkan harga secara tidak wajar. Selain itu, Kenneth menyebut bahwa saat ini anggota dewan turut membagikan masker gratis kepada masyarakat.

“Saya juga berpesan kepada penjual masker untuk tak menaikkan harga semaunya. Harus disesuaikan dengan batas margin yang wajar sesuai arahan Pak Gubernur,” kata Kenneth di Jakarta, dikutip Kamis (10/9/2026).

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu mengatakan paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih dirasakan di sejumlah wilayah Jakarta. Karena itu, masyarakat membutuhkan perlengkapan pelindung, terutama mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

“Kami melihat adanya paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang belum sepenuhnya menghilang. Jadi sebagai langkah antisipasi, saya melakukan kegiatan pembagian masker gratis,” ujar Kenneth.

Kenneth menyebut bahwa 100 dus masker sejauh ini juga telah dibagikan kepada pengendara dan pejalan kaki yang melintas di sekitar Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat.

“Kami bagikan semua sampai habis kepada semua pengendara dan pejalan kaki yang melintas,” ucap dia.

 

Pramono Buka Suara

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung buka suara soal kelangkaan masker dan kenaikan harga yang terjadi di tengah kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Jakarta.

Dia meminta agar masker sebagai kebutuhan perlindungan pernapasan tersebut tidak dipermainkan karena merupakan kebutuhan publik. Kondisi panic buying dikhawatirkan membuat sejumlah masker sulit ditemukan dan harga yang dijual meningkat hingga ratusan ribu rupiah.

“Saya minta untuk tidak menjadi kebutuhan publik, kebutuhan bersama. Jangan dipermainkan (harganya),” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/9/2026).

Pramono menyebut untuk membantu masyarakat memperoleh masker, Pemprov DKI Jakarta akan tetap melakukan pembagian masker di sejumlah tempat umum. Ia bilang langkah tersebut ditujukan terutama bagi warga yang membutuhkan perlindungan dari paparan abu vulkanik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya