Webinar IMDE Dorong Mahasiswa Hasilkan Karya Kreatif dan Bertanggung Jawab

Program Studi Produksi Media IMDE menggelar webinar bertajuk “Tanpa Visual Loe Bisa Mati".

oleh Nanda Perdana PutraDiterbitkan 05 September 2026, 09:47 WIB
Program Studi Produksi Media IMDE menggelar webinar bertajuk “Tanpa Visual Loe Bisa Mati: Ide Sekeren Apa Pun Nggak Akan Berarti Kalau Eksekusinya Biasa Aja” secara daring melalui Zoom, Jumat (4/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Program Studi Produksi Media IMDE menggelar webinar bertajuk “Tanpa Visual Loe Bisa Mati: Ide Sekeren Apa Pun Nggak Akan Berarti Kalau Eksekusinya Biasa Aja” secara daring melalui Zoom, Jumat (4/9/2026).

Webinar tersebut menghadirkan Rifa Yusya Adilah, praktisi media sekaligus dosen IMDE, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Christy Pricilia Lantemona, mahasiswa Program Studi Produksi Media IMDE.

Dalam pemaparannya, Rifa menjelaskan pentingnya kekuatan visual di tengah derasnya arus konten media sosial. Menurutnya, audiens memiliki waktu yang sangat singkat untuk memutuskan apakah akan memperhatikan sebuah konten atau beralih ke konten berikutnya.

“Kita hidup di era banjirnya konten. Setiap konten hanya punya waktu singkat untuk membuat audiens stay atau lanjut scroll. Visual membantu mata audiens menentukan apa yang harus dilihat terlebih dahulu sebelum memahami pesan yang ingin kita sampaikan di media sosial,” ujar Rifa.

Ia juga menekankan pentingnya tiga detik pertama atau hook dalam sebuah konten. Menurutnya, visual hook tidak hanya mengandalkan gambar, tetapi juga dapat dibangun melalui teks dan audio yang mampu menarik perhatian audiens.

Namun, perhatian audiens bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah konten. Setelah perhatian diperoleh, konten perlu mempertahankan ketertarikan melalui cerita sekaligus menghadirkan nilai yang dapat membangun kepercayaan.

“Visual gets them in, story makes them stay, value and truth grow trust. Jadi, visual menarik perhatian, cerita membuat audiens bertahan, sementara nilai dan kebenaran membangun kepercayaan,” jelasnya.

Rifa turut mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam proses produksi konten. Kreator tidak boleh mengabaikan fakta, menyebarkan informasi palsu atau hoaks, maupun membuat konten yang berpotensi memicu keresahan dan konflik di masyarakat.

Selain etika, keselamatan juga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Menurut Rifa, kreator tidak seharusnya mempertaruhkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain demi memperoleh visual yang menarik.

“Don't risk real life for content or visual. Jangan mengorbankan keselamatan diri sendiri maupun orang lain hanya demi visual. Tidak ada gambar atau konten yang sebanding dengan nyawa,” tegas Rifa.

Ide Harus Diikuti Eksekusi yang Kuat

Program Studi Produksi Media IMDE menggelar webinar bertajuk “Tanpa Visual Loe Bisa Mati: Ide Sekeren Apa Pun Nggak Akan Berarti Kalau Eksekusinya Biasa Aja” secara daring melalui Zoom, Jumat (4/9/2026).

Sementara itu, Teguh Setiawan, Kaprodi Produksi Media IMDE, mengatakan perkembangan industri kreatif menuntut mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan ide, tetapi juga menerjemahkannya menjadi karya visual yang kuat, kreatif, dan relevan.

“Di era ketika orang dibanjiri begitu banyak informasi, visual menjadi salah satu cara paling efektif untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesan. Ide yang bagus saja tidak cukup. Bagaimana ide itu dikemas, divisualisasikan, dan dieksekusi dengan baik justru menjadi pembeda sebuah karya,” ujar Teguh.

Ia menambahkan, mahasiswa Produksi Media perlu memiliki keberanian untuk bereksperimen dan menghasilkan karya yang berbeda. Kreativitas, kemampuan teknis, storytelling, serta pemahaman terhadap karakter dan kebutuhan audiens perlu dikembangkan secara beriringan.

Menurut Teguh, pembelajaran di Program Studi Produksi Media tidak sebatas kemampuan menggunakan kamera atau perangkat lunak penyuntingan. Mahasiswa juga didorong memahami bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi pesan yang mampu memberikan pengalaman kepada audiens.

“Melalui webinar ini, kami ingin mahasiswa memahami bahwa Produksi Media bukan sekadar belajar menggunakan kamera atau software editing. Lebih dari itu, mahasiswa belajar bagaimana mengubah gagasan menjadi pesan yang mampu dilihat, dirasakan, dan diingat oleh audiens,” tambahnya.

Peserta Antusias Berdiskusi

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar visual hook, storytelling, hingga produksi konten yang menarik dan bertanggung jawab. Pertanyaan tersebut dijawab secara detail oleh Rifa sehingga diskusi berlangsung interaktif.

Teguh berharap webinar tersebut dapat memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi, berani mengeksplorasi ide, serta menghasilkan karya visual yang kreatif, bermakna, dan bertanggung jawab.

Sebab, dalam industri kreatif, ide yang kuat perlu diikuti dengan eksekusi yang kuat pula.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya