Sekjen PDIP Sebut Kebudayaan Bisa Jadi Benteng Demokrasi

Hasto menyoroti peran kebudayaan dalam menjaga ruang kebebasan masyarakat dan menyuarakan kritik sosial secara damai.

oleh Putu Merta Surya PutraDiterbitkan 04 September 2026, 22:21 WIB
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyambut delegasi CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026) malam. (Foto: Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan delegasi CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia menikmati Welcome Dinner di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026) malam.

Bagi Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, tempat tersebut memiliki makna personal. Di salah satu sudut rumah Jawa itu, dia lahir pada 1966 dan tumbuh di tengah lingkungan masyarakat dengan tradisi agraris yang kuat.

Di hadapan para delegasi internasional, Hasto mengatakan Desa Gadingan dipilih bukan sekadar untuk memperkenalkan seni dan tradisi Nusantara. Menurutnya, kebudayaan juga berperan menjaga ruang kebebasan masyarakat di tengah tekanan populisme otoriter.

"Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya. Namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan," kata dia.

Hasto kemudian mengajak para delegasi mencermati filosofi gamelan yang dimainkan warga Desa Gadingan. Menurutnya, alat musik tradisional menunjukkan keberagaman dapat dipadukan menjadi harmoni, bukan pertentangan.

"Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni," tuturnya.

 

Harmoni

Bagi Hasto, prinsip yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan suara dan pandangan harus mendapat ruang, tetapi semuanya diarahkan untuk kepentingan bersama dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada rakyat.

"PDI Perjuangan percaya bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme meraih kekuasaan, melainkan komitmen moral agar kekuasaan tetap bertanggung jawab kepada rakyat," tegas dia.

Pandangan itu, lanjut Hasto, sejalan dengan Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Baginya, kebudayaan bukan sekadar identitas bangsa, tetapi juga benteng untuk menjaga demokrasi tetap hidup di tengah tekanan zaman.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya