Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR Puan Maharani meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Ia menekankan proses hukum mesti bertumpu pada bukti yang kuat. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
“Ya kita minta semuanya itu diselidiki oleh pihak penegak hukum dengan tuntas dan kita lihat apa yang terjadi dan dituntaskan dengan sebaik-baiknya,” kata Puan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Advertisement
Puan menjelaskan, sejak awal DPR mendorong agar penyampaian aspirasi berlangsung tertib dan tidak memicu gangguan keamanan maupun perusakan fasilitas.
“Ya dari awal kami kan sudah meminta bahwa aspirasi itu supaya dilaksanakan dengan tertib dan jangan sampai kemudian terjadi keributan apalagi pengerusakan,” ujarnya.
Menanggapi informasi adanya keterlibatan anggota ormas tertentu dalam kericuhan, Puan meminta aparat tidak mengabaikan setiap temuan. Namun ia menegaskan, setiap dugaan harus dibuktikan melalui proses hukum.
“Jadi kami meminta pada aparat terkait bisa menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya, dan menuntaskan masalah ini dengan bukti-bukti yang kuat,” kata Puan.
Ia menambahkan, apabila keterlibatan pihak tertentu nantinya terbukti, penanganan hukum wajib dijalankan hingga tuntas.
“Bila memang terbukti ya harus diselesaikan dengan tuntas,” tegasnya.
Kisah Bambang di Pejompongan, Cek Toko Lalu Tak Kembali
Kamis (27/8/2026) sore, Bambang Setiawan (59) masih berjualan cermin bersama istrinya di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat. Usai unjuk rasa di depan Gedung DPR, situasi di sekitar kawasan itu memanas hingga berujung kerusuhan. Pasangan suami istri tersebut menutup toko lebih awal.
Beberapa jam setelah sampai di rumah, Bambang kembali keluar untuk mengecek kondisi tokonya yang letaknya tak jauh dari lokasi kericuhan. Langkah itu menjadi momen terakhir ia terlihat pulang oleh keluarganya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan Bambang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di tengah situasi ricuh. Polisi yang menerima laporan terlebih dahulu memastikan situasi di lokasi memungkinkan untuk evakuasi.
“Polri pun untuk melakukan evakuasi harus melihat, menghitung evakuasi tersebut aman bagi petugas yang melakukan evakuasi,” kata Budi, Jumat (28/8/2026).
Setelah area dinyatakan aman, Biddokkes Polda Metro Jaya mengevakuasi Bambang. Ia dibawa ke Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo dan dinyatakan meninggal dunia saat mendapat penanganan di rumah sakit.
Jenazah kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 23.30 WIB untuk proses identifikasi dan visum.
Menurut Budi, pihaknya telah bertemu keluarga korban, termasuk anak kandungnya. Polisi mengajukan permohonan autopsi guna memastikan penyebab kematian, namun keluarga menolak dan membuat surat pernyataan penolakan.
“Kami tetap melakukan, mengajukan permohonan untuk dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian. Ini juga ditolak oleh pihak keluarga dan sudah mengeluarkan surat pernyataan,” ujarnya.
Putra pertama korban, Wisnu, menuturkan kebiasaan sang ayah yang teliti terhadap hal-hal kecil, termasuk memastikan semua lampu toko padam. Ia menyampaikan gambaran aktivitas terakhir ayahnya sebelum ditemukan tak sadarkan diri.
“Jadi gini, bapakku itu orangnya detail. Keseharian apa yang dilakukan sama dia kayak misalkan mati lampu, semua lampu dimatikan itu harus mati. Gitu. Nah, kebetulan tuh pada hari itu ada lampu yang masih nyala,” cerita Wisnu saat ditemui wartawan di kediamannya, Jumat (28/8/2026).
Menjelang malam itu, Bambang baru pulang setelah mengantar temannya dari Rumah Sakit Pelni. Ia sempat kembali ke rumah untuk mengantarkan makanan kepada keluarganya sebelum memutuskan menuju toko. Istrinya sudah mengingatkan agar tidak keluar karena kondisi lingkungan tidak kondusif.
Waktu terus berjalan hingga larut, tetapi Bambang tidak juga kembali. Keluarga mulai mencari keberadaannya. Anak kedua, Yoga, bersama sang ibu menelusuri informasi dengan menanyakan kepada sejumlah kenalan di sekitar lokasi.
Pencarian berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Beberapa orang mengaku sempat melihat Bambang di sekitar kawasan kericuhan, namun keberadaannya belum terlacak.
Wisnu mengaku tidak berada di lokasi saat kejadian. Ia hanya menerima kabar dari teman-temannya dan melihat beberapa video yang beredar. Dari sana, ia memutuskan mencari informasi lebih lanjut.
Ia mulai bergerak sekitar pukul 00.00 WIB ditemani Ketua RT. Sejumlah rumah sakit didatangi untuk memastikan keberadaan sang ayah, mulai dari RS Pelni, RSAL Dr. Mintohardjo, hingga RS Cipto Mangunkusumo.
Menjelang subuh, titik terang didapat. Wisnu memperoleh kabar bahwa ayahnya berada di RS Polri.
“Saya dapat informasi, otomatis saya langsung ke RS Polri. Ya, pas saya sampai ke sana tuh kurang lebih ya sebelum subuh. Jam 4-an,” ucapnya.
Kabar itu sempat memberi harapan setelah pencarian yang panjang. Namun setibanya di RS Polri, Wisnu mengetahui ayahnya telah dinyatakan meninggal dunia.
Bambang disebut menjadi korban pengeroyokan oleh orang yang diduga perusuh ketika hendak mematikan lampu tokonya. Titin, istri Ketua RT setempat, juga menceritakan proses pencarian yang berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari sebelum akhirnya ia menerima kabar ada warganya yang meninggal dan berada di RS Polri.
Menurut Titin, tubuh Bambang dipenuhi lebam. Dari video yang ia terima, Bambang terlihat diseret secara tidak manusiawi sebelum kemudian dikeroyok.