Liputan6.com, Jakarta - Memasuki usia ke-15 tahun, Garda Pemuda NasDem terus berupaya memperkuat posisinya sebagai organisasi kepemudaan di Indonesia. Momentum ini dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus menyusun strategi agar organisasi semakin relevan bagi generasi muda.
Ketua Umum Garda Pemuda NasDem, Prananda Surya Paloh, mengatakan evaluasi dilakukan di seluruh tingkatan organisasi, mulai dari tingkat pusat hingga provinsi dan kabupaten/kota. Fokus utama evaluasi tersebut meliputi penguatan program kaderisasi, penyusunan program unggulan, serta peningkatan keaktifan anggota di seluruh Indonesia.
Advertisement
"Tentu kita akan mengevaluasi semua, dari tingkat pusat maupun sampai daerah. Dari program kaderisasinya, program unggulan ke depan, dan yang paling penting keaktifan anggota," ujar Prananda di Ballroom DPP Partai NasDem, Selasa (14/7/2026).
Meski kepengurusan dan kader Garda Pemuda NasDem telah tersebar di seluruh provinsi, Prananda mengakui masih terdapat tantangan dalam pemerataan konsentrasi anggota yang saat ini lebih banyak berada di Pulau Jawa dan Sumatera.
Di sisi lain, ia mengapresiasi perkembangan organisasi di sejumlah daerah, termasuk Papua Pegunungan yang kini telah memiliki kepengurusan mandiri.
"Secara keseluruhan, di usia 15 tahun ini, saya melihat progres yang cukup positif terkait kematangan organisasi sebagai salah satu wadah kepemudaan di Indonesia," ucap Prananda.
Soft Approach untuk Milenial dan Gen Z
Dalam upaya menjangkau pemilih pemula dan generasi berusia di bawah 40 tahun, Garda Pemuda NasDem mengedepankan pendekatan yang lebih fleksibel atau soft approach. Menurut Prananda, generasi muda saat ini lebih tertarik pada kegiatan yang dekat dengan gaya hidup mereka dibandingkan sekadar narasi politik formal.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, seperti turnamen padel, program literasi digital, hingga kegiatan jalan sehat (fun walk) yang baru-baru ini digelar di Medan, Sumatera Utara. Melalui kegiatan tersebut, organisasi berharap dapat menarik minat anak muda untuk mengenal Garda Pemuda NasDem tanpa merasa dibatasi oleh sekat-sekat politik.
"Kita melakukan pendekatan yang lebih soft approach. Tujuannya agar bisa memikat kaum pemilih pemula ataupun generasi yang di bawah 40 tahun," kata Prananda.
.
Wadah Berkarya Tanpa Politik Praktis
Prananda juga mengaku banyak menerima aspirasi dari berbagai daerah, termasuk melalui Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Jakarta dan Medan. Dari berbagai pertemuan tersebut, ia melihat besarnya keinginan generasi muda untuk berkontribusi bagi bangsa dengan cara-cara yang lebih kreatif dan out of the box.
Karena itu, Garda Pemuda NasDem diposisikan bukan sekadar sebagai organisasi sayap partai, melainkan sebagai ruang kolaborasi bagi anak muda dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari pengusaha muda, tenaga kesehatan, hingga profesi lainnya diharapkan dapat memberikan kontribusi sesuai bidang keahlian masing-masing.
"Contohnya sebagai entrepreneur, kita buatkanlah program yang bagus. Sebagai dokter muda, kita bicarakan bantuan kesehatan apa yang bisa mereka berikan. Yang penting ini kontribusi untuk bangsa dan negara," papar Prananda.
Ia menegaskan, bergabung dengan Garda Pemuda NasDem tidak berarti seseorang harus terjun ke politik praktis. Menurutnya, keterlibatan dalam politik merupakan pilihan yang dapat diambil apabila muncul minat secara alami.
"Tidak ada paksaan harus memasuki politik praktis. Itu adalah ranah yang saya maksud mungkin langkah selanjutnya kalau memang sudah berminat. Anggaplah organisasi Garda Pemuda NasDem adalah wadah perkumpulan pemuda-pemudi Indonesia untuk berkarya sesuai dengan kelebihannya masing-masing," Prananda menandaskan