Liputan6.com, Jakarta - Jumat, 26 Juni 2026. Jarum jam tepat menunjuk angka 12.00 WIB. Di teras rumah di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Agus Murtini (58) mengunci pintu.
Di mobilnya, deretan botol susu kedelai aneka rasa dan keripik renyah bermerek Soya Ayu tersusun rapi. Hari itu, Murtini bersiap menembus aspal jalanan menuju Auditorium Setda Cibinong untuk mengikuti bazar UMKM.
Advertisement
Dua jam membelah jalanan Bogor, Murtini tiba di lokasi pukul 14.00 WIB. Jemarinya mulai menurunkan tas, menggelar meja, dan menata produk-produk andalannya dengan apik.
Begitu jarum jam bergeser ke angka tiga sore, pengunjung mulai memadati area bazar. Satu per satu botol susu kedelai dan keripik buatannya berpindah tangan. Bahkan beberapa pelanggan setia sengaja datang untuk memborong dagangannya.
"Yang diborong itu susu kedelai original, kemudian rasa dalgona cafe, dan ada juga matcha latte," cerita Murtini saat berbincang dengan Liputan6.com.
Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha susu kedelai, hari-hari Murtini dihabiskan sebagai seorang Persit. Istri prajurit TNI Angkatan Darat. Mengikuti sang suami, Pak Mien, yang bertugas sebagai Batuud (Bintara Tata Usaha Urusan Dalam) alias orang kedua di Koramil Ciampea. Ritme hidup Murtini selalu teratur. Rapat bulanan hingga menghadiri acara di Kodim.
Babak baru kehidupan mereka terjadi pada 16 Juni 2019. Tepat saat badai pandemi Covid-19 mulai membayangi dunia. Kala itu, sang suami memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP).
"Kami merasa waktu itu terlalu sepi. Terlalu banyak ngapain di rumah sampai bengong. Istilahnya, kami ngitungin genteng rumah aja itu nggak beres-beres," kenang Murtini sambil tertawa.
Kegelisahan itu membawa Murtini menemukan arah saat mereka menghadiri undangan pertemuan dari Pangdam III/Siliwangi. Di sana, sebuah pesan membekas kuat di hati mereka, para purnawirawan dan istri diharapkan mencari kegiatan positif setelah pensiun.
Pulang dari pertemuan tersebut, Murtini dan suaminya mulai memutar otak. Beruntung, sang suami sempat mendapatkan pembinaan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sebetulnya sudah mahir membuat tahu, tempe, hingga kecap.
Namun, Murtini menolak membangun usaha tahu dan tempe biasa. Menurutnya, pasar tahu dan tempe sudah dikuasai pabrik-pabrik besar. Bagi pemula skala UMKM seperti mereka, bersaing di sana akan sangat berdarah-darah.
"Saya berpikir, bagaimana kalau kita menciptakan produk dari kedelai tapi yang kekinian? Yang digemari anak muda dan semua kalangan, sebuah produk yang terbaru," cetusnya.
Murtini kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota binaan Dinas Koperasi. Di sana, takdir mempertemukannya dengan program pembinaan diversifikasi kedelai yang diisi seorang pakar dari IPB. Dari sinilah mata Murtini terbuka lebar bahwa mengolah kedelai tidak melulu soal tahu dan tempe. Kedelai bisa bertransformasi menjadi kukis renyah bahkan susu kedelai dengan cita rasa modern.
Dari kolaborasi antara Murtini dan suami, Dinas Koperasi, serta akademisi IPB lahirlah 'Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu'. Menariknya, bisnis yang kini berkembang pesat ini tidak dibangun dari modal pribadi.
Pada medio 2020, bermodalkan satu produk awal bernama Sari Kedelai Original, Murtini nekat mendaftarkan usahanya pada lomba inkubasi bisnis di Science and Techno Park (STP) IPB Taman Kencana. Dia berhasil lolos dan menyabet hadiah modal usaha sebesar Rp 15 juta.
"Dari uang Rp 15 juta itulah modal awal kami. Kami belikan mesin pembuat Sari Kedelai, proyektor, hingga kemasan botol khusus," ujar Murtini.
Keberhasilan di tahun 2020 ternyata membuka keran prestasi berikutnya. Sejak saat itu, dari 2021 hingga 2026, Rumah Kedelai Pak Min Soya Ayu tak pernah absen mendulang penghargaan dan reward dari berbagai ajang kompetisi.
Hadiah terbaru yang berhasil dia sabet adalah kelolosan dalam kurasi ketat program IKM Istimewa Jawa Barat. Sebuah program prestisius yang membuatnya harus bolak-balik mengikuti pembinaan intensif ke Kota Bandung.
"Nanti puncaknya bulan Agustus 2026 ini, baru selesai seluruh rangkaian pembinaan IKM Istimewa," kata Murtini.
Gunakan KUR BRI
Di tengah perjalanan usahanya, Murtini mengenal BRI. Pengenalan itu berawal dari BRI turun langsung ke Desa Benteng, Ciampea melalui program pemberdayaan bertajuk Desa Brilian.
BRI menyadari potensi besar usaha Murtini. Petugas bank langsung mendatangi kediaman Murtini menawarkan bantuan untuk mendongkrak branding Soya Ayu. Setelah melewati proses kurasi, Murtini dinyatakan lolos.
Soya Ayu langsung mendapatkan bantuan pembinaan intensif serta ribuan kemasan standing pouch siap pakai untuk produk baru Peyek Kulit Kedelai. BRI juga menawarkan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp 100 juta. Namun, Murtini hanya memilih Rp 20 juta.
"Usaha saya kan masih awal, buat apa? Akhirnya saya coba pinjam Rp 20 juta saja, biar rasanya pas dan tidak jadi beban," ungkapnya.
Sekitar tahun 2023 atau 2024, dana KUR Rp 20 juta dengan tenor 5 tahun itu resmi cair. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas produksi susu kedelai dan melakukan riset diversifikasi produk. Keputusan ini ternyata menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Soya Ayu.
Hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun berjalan, Murtini merasa fondasi bisnisnya sudah sangat stabil. Merasa tidak ingin memiliki beban cicilan di masa tua, pada Juni 2026, Murtini memutuskan untuk melunasi sisa pinjaman Rp 10 juta terakhirnya lebih cepat dari jadwal.
Modal KUR yang dikelola Murtini membawa perubahan. Di awal berdiri, Soya Ayu hanya memiliki 1 varian rasa Sari Kedelai Original, kini lini produk mereka telah beranak-pinak hingga menyentuh angka 40 item produk. Limbah dan bagian-bagian kedelai yang biasanya terbuang, disulap Murtini menjadi peyek kulit kedelai renyah yang kemasannya disokong oleh BRI.
Inovasi paling mutakhir yang menjadi primadona baru adalah Soy Potato. Produk camilan kentang goreng yang dimasak dengan metode oven, lalu diracik menggunakan bumbu tabur berbahan dasar kedelai murni. Produk Soy Potato inilah yang sukses memenangkan kurasi ketat untuk masuk ke jaringan ritel modern.
Tak tanggung-tanggung, produk camilan ini langsung berhasil menembus 20 toko Indomaret di wilayah Bogor 2. Tidak berhenti sampai di situ, kepakan sayap bisnis Murtini kini sudah merambah ke jaringan grosir raksasa. Produk mereka telah dipasarkan di dua cabang utama Indogrosir, yaitu Indogrosir Kota Bogor dan Indogrosir Bekasi.
"Saat ini kami sedang dalam proses berjalan untuk menyusun bagaimana teknis nota kesepahaman atau MoU ke depannya dengan mereka," kata Murtini.
Masuk 9 Toko di Kampus IPB
Hubungan antara Soya Ayu dengan IPB berbuah manis pada bulan Mei lalu. Soya Ayu berhasil menyabet pendanaan segar senilai Rp 50 juta langsung dari pihak kampus. Bantuan itu dipakai Murtini untuk membeli aset produktif yang siap mendongkrak kapasitas produksi.
"Uang Rp 50 juta itu kami wujudkan dalam bentuk tiga mesin baru, yaitu mesin pemeras kedelai otomatis, mesin pembuat es krim kedelai, dan mesin untuk memproduksi selai," urai Murtini.
Tidak hanya mesin, dana tersebut juga dialokasikan untuk membeli aset kemasan berupa 1.000 botol hot filling dan 1.000 lembar standing pouch. Murtini lalu dipanggil menghadap ke Direktorat Sains dan Teknologi IPB. Hasil dari pertemuan tersebut mengubah peta distribusi Soya Ayu secara drastis.
"Dari yang awalnya produk kami cuma dititip di satu toko milik IPB, sekarang langsung melesat tersebar di 9 toko kampus sekaligus," ungkap Murtini.
Produk Soya Ayu juga menembus pasar pengadaan pemerintah. Tidak main-main, Soya Ayu memenangkan tender program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyuplai kebutuhan nutrisi anak sekolah.
Murtini dan timnya dipercaya untuk memproduksi sekaligus menyuplai total 2.800 botol susu kedelai dalam satu kali masa kerja. Ribuan botol tersebut diproduksi secara khusus ke dalam dua varian ukuran kemasan ramah anak, yaitu ukuran 100 ml dan 50 ml.
Omzet Naik
Konsistensi selama hampir tujuh tahun merawat Soya Ayu kini makin menunjukkan kemajuan. Pada tahun-tahun awal, omzet bulanan Soya Ayu masih berada di bawah angka Rp 4 juta. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, penjualan terus merangkak naik hingga konsisten di atas Rp 5 juta per bulan.
Dalam periode gencar satu bulan terakhir, akumulasi pendapatan dari beberapa kali transaksi besar dan harian sempat menyentuh angka Rp 6 juta.
"Semua ini karena kita sekarang punya banyak link dan relasi," jelas Murtini mengenai faktor utama lonjakan penjualannya.
Alih-alih menggunakan keuntungan membeli rumah atau kendaraan baru, Murtini memilih memutar kembali pendapatan usaha untuk memperkuat produksi dan operasional Rumah Kedelai.
Perubahan paling mencolok terlihat pada peningkatan kapasitas penyimpanan barang. Dulu, Murtini hanya mengandalkan kulkas rumah tangga biasa. Kini, ruang produksinya telah dilengkapi dengan dua unit freezer berukuran sedang dan besar.
Investasi pada alat kerja juga terus bertambah. Ruang produksi kini dihuni oleh berbagai mesin penunjang seperti dua unit mesin penggiling (grinder) kedelai, mesin peniris minyak (spinner) untuk memastikan keripik tetap renyah dan awet, dan proyektor untuk kebutuhan presentasi dan edukasi.
Di luar urusan dapur produksi, keberhasilan bisnis ini memberikan dampak personal bagi Murtini. Finansial yang mandiri memberikannya ruang untuk menikmati hasil keringat sendiri tanpa harus bergantung pada anggaran keluarga purnawirawan.
"Sekarang kalau ada uang bisa creambath, bisa facial ke salon. Sudah mampu beli kosmetik atau baju sendiri dari hasil usaha," ujarnya.
Kemandirian dan kisah suksesnya dalam diversifikasi kedelai juga membuka pintu profesi baru bagi Murtini sebagai narasumber, baik di forum daring maupun luring. Kini, dia rutin diundang menjadi pembicara tahunan dengan honorarium Rp 600.000 per jam yang sudah berjalan selama dua tahun.
Murtini juga didapuk menjadi salah satu pembicara dalam ajang Bogor Innovation Award. Untuk materi singkat selama 30 menit di panggung tersebut, dia mendapatkan apresiasi sebesar Rp 1.500.000, di luar pendapatan dari fasilitas stan bazar yang mampu membawa pulang omzet tambahan di bawah Rp 5 juta.
Buka Lapangan Kerja Warga Desa
PT Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitar. Saat ini, operasional bisnis didukung oleh total 10 orang tim kerja yang dibagi berdasarkan fungsi dan keahlian.
Awalnya, Murtini berniat mengajak para ibu purnawirawan di sekitarnya untuk mengisi waktu luang. Namun karena para ibu tersebut memiliki kesibukan masing-masing, Murtini mengubah strategi dengan merangkul warga dari kampung sekitar Desa Benteng, Ciampea.
Di rumah produksi, Murtini mempekerjakan sembilan orang warga lokal yang berada di rentang usia produktif antara 34 hingga 40 tahun. Sementara untuk urusan manajemen, pemasaran digital, dan administrasi bisnis, Murtini memilih satu mahasiswa aktif dari Sekolah Vokasi IPB University.
Camilan Sehat Favorit Anak IPB
Ita merupakan salah satu mahasiswi IPB yang menjadi pelanggan setia Soya Ayu. Di tengah rutinitas kampus yang melelahkan, dia selalu mencari camilan dan minuman yang tidak hanya praktis, tetapi juga sehat untuk menemani hari-harinya.
Ita kerap mampir ke salah satu toko kampus milik IPB yang menyediakan produk dari Soya Ayu.
"Olahan susu kedelai paling enak yang pernah kita coba!" ungkap Ita.
Sebagai mahasiswi yang kritis, Ita awalnya mengira Soya Ayu sama seperti susu kedelai rumahan pada umumnya. Namun, dia keliru. Teksturnya yang lembut, rasanya yang pas, dan varian rasa kekinian seperti matcha latte dan dalgona cafe langsung membuatnya ketagihan.
Kepuasan Ita tidak berhenti di produk susu saja. Dia takjub melihat bagaimana Soya Ayu bisa menyulap kacang kedelai menjadi berbagai macam produk yang unik dan variatif.
"Bukan cuma susu kedelai aja, Soya Ayu juga ada banyak olahan kedelai lainnya. Mulai dari puding, es krim, peyek, keripik kentang (soy potato), selai, dan masih banyak lagi," kata Ita.
947 Ribu Pelaku UMKM Dapat KUR
BRI terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Sampai akhir triwulan I 2026, total kredit dan pembiayaan yang disalurkan perseroan mencapai Rp 1.562 triliun, meningkat 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa UMKM masih menjadi fokus utama dalam penyaluran pembiayaan perusahaan. Dari total kredit yang disalurkan, sebesar Rp 1.211 triliun mengalir ke segmen UMKM.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).
Dalam paparan kinerja keuangan triwulan I 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI pada 30 April 2026, Hery menegaskan bahwa pembiayaan kepada UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis perseroan.
BRI juga mempertahankan posisinya sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Tanah Air. Selama periode Januari hingga Maret 2026, perseroan telah menyalurkan KUR senilai Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu debitur.
Dari berbagai sektor usaha yang menerima pembiayaan, sektor pertanian menjadi penyerap KUR terbesar. Nilai penyalurannya mencapai Rp 19,86 triliun atau setara dengan 42,16 persen dari total KUR yang telah disalurkan.
Menurut Hery, capaian tersebut mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI sekaligus peran strategis perseroan dalam mendorong kegiatan ekonomi produktif di berbagai daerah. Penyaluran pembiayaan itu juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas usaha pelaku UMKM serta pembukaan lapangan kerja.
Tidak hanya menyediakan akses permodalan, BRI juga terus mengembangkan berbagai program pendampingan dan pemberdayaan. Upaya tersebut dilakukan agar pelaku UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan daya saing dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.