Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 13 kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan tiga seruan penting menjelang pembukaan Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Maklumat ini menekankan pentingnya menjaga tradisi musyawarah dan kebersamaan organisasi.
Pertemuan di kediaman KH M. Abdurrohman Al-Kautsar pada Sabtu (20/6/2026) tersebut dihadiri tokoh-tokoh senior seperti KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Manshur, KH A. Kafabihi Mahrus, KH Ma'ruf Amin, hingga KH Said Aqil Siroj.
Advertisement
Tiga seruan yang disepakati meliputi penataan syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) berbasis struktur syuriyah dan zonasi. Kedua, penguatan akar kultural NU dengan mengembalikan pelaksanaan muktamar di lingkungan pondok pesantren. Ketiga, penegasan mengenai pentingnya akhlak berjam’iyyah dalam setiap proses permusyawaratan.
Bahas Sejumlah Rekomendasi
Di lokasi acara, Ahmad Samsul Rijal atau Gus Rijal mengungkapkan salah satu isu hangat yang menjadi perhatian adalah aturan rangkap jabatan fungsionaris.
Pembahasan ini berkaitan dengan rencana perubahan ketentuan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU hasil Muktamar Lampung.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Munas dan Konbes NU 2026, K.H. Ahmad Said Asrori, menjelaskan bahwa forum kali ini merupakan agenda terakhir kepengurusan PBNU periode berjalan untuk mempersiapkan muktamar.
Selain membahas penataan internal organisasi, forum ini juga dirancang untuk mengupas persoalan keagamaan strategis (waqi'iyah, qanuniyah, maudlu'iyyah) serta merekomendasikan solusi atas isu kemaslahatan bangsa.