Liputan6.com, Jakarta - Depan gudang penggilingan padi di kawasan Jonggol, Jawa Barat, Oming (70) berdiri sambil mengawasi beberapa pekerjanya. Di depannya, padi-padi yang baru datang dijemur, dibolak-balik agar kering merata.
Di dalam gudang, deretan mesin penggilingan berjajar, berdampingan dengan karung-karung berisi gabah yang menumpuk di sisi ruangan.
Advertisement
Sudah hampir dua dekade Oming menjalankan usaha ini. Tepatnya sekitar 19 tahun. Sejak dia benar-benar memutuskan membangun usaha penggilingan padi miliknya sendiri.
Dia mulai mengenal dunia perberasan sejak 1993. Saat bekerja di penggilingan milik orang lain. Dari situ, dia belajar sedikit demi sedikit tentang gabah, proses pengeringan, sampai cara membaca peluang harga.
“Awalnya saya kerja di tempat orang,” cerita Oming saat berbincang dengan Liputan6.com, 8 Juni 2026.
Hingga pada 2007, dia memberanikan diri membangun usaha sendiri. Pada masa awal itu, semuanya masih serba terbatas. Dia tidak langsung punya mesin penggilingan seperti sekarang.
“Waktu itu saya cuma beli padi, disimpan,” ujarnya.
Gabah yang dibeli dari petani biasanya masih basah. Setelah itu dijemur, disimpan, lalu dijual kembali saat harga naik. Lama-lama, pola itu berubah. Oming mulai mengolah sendiri gabah yang dia beli.
“Kalau dihitung-hitung, lebih ada untungnya kalau digiling sendiri,” katanya.
Dari situ, usahanya berkembang. Dia tidak lagi sekadar menjual gabah, tetapi mulai memprosesnya menjadi beras.
Mesin penggilingan sendiri baru dia miliki beberapa tahun setelah usaha berjalan. Tepatnya sekitar 2012. Mesin itu pun bukan unit baru.
“Saya beli bekas, mesin Rhino,” ujarnya sambil menunjuk ke arah mesin di dalam gudang.
Sebelum memiliki mesin itu, Oming mengandalkan peralatan sederhana yang dia sebut “mesin jomplang”. Sistemnya masih jauh dari modern. Bahkan lebih banyak mengandalkan tenaga dan cara kerja manual yang dirakit seadanya.
“Pakai mesin jomplang dulu, dari 2007 sampai 2012, sekitar lima tahun,” katanya.
Pinjaman BRI Topang Usaha Oming
Perjalanan usaha Oming tak lepas dari BRI. Dia mengenal bank pelat merah itu sejak sekitar 2003. Saat itu, Oming belum memiliki usaha penggilingan sendiri.
Pinjaman pertama yang dia ajukan sebesar Rp 20 juta. Seiring waktu, kebutuhan modalnya meningkat. Oming beberapa kali kembali mengajukan pinjaman jenis Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga jumlahnya naik menjadi Rp 50 juta.
Dia sendiri sudah tidak ingat pasti berapa kali mengajukan pinjaman. Menurutnya, proses itu sudah berlangsung lama dan berulang.
“Sudah lama, lupa hitungnya,” ujarnya sambil tertawa.
Pinjaman tersebut bukan untuk konsumsi, melainkan sepenuhnya diputar kembali sebagai modal usaha. Oming membeli gabah dari petani, menyimpannya, lalu mengolahnya menjadi beras untuk dijual kembali.
“Ya buat modal aja. Beli padi, diputer lagi,” katanya.
Dari usaha penggilingan itu, pendapatan harian mulai terbentuk. Meski tidak selalu stabil, ada hari-hari ketika omzet bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu, tergantung jumlah gabah yang digiling.
Usaha itu juga berkembang dalam bentuk distribusi beras. Produksi tidak hanya dijual di sekitar Jonggol, tetapi juga dikirim ke luar daerah seperti Cileungsi dan Bogor Kota. Dalam kondisi ramai, pengiriman bisa mencapai beberapa mobil per hari.
“Kadang dua mobil sehari,” kata Oming.
Satu pengiriman bisa mencapai sekitar 40 bal, dengan nilai yang cukup besar per mobil. Namun angka itu tetap fluktuatif, mengikuti ketersediaan gabah dan kualitas panen petani.
Usaha Keluarga Berkembang
Tak hanya Oming, usaha penggilingan padi juga berkembang di tangan anaknya. Meski sama-sama bergerak di bidang yang sama, lokasi usaha keduanya tidak berdampingan dan dikelola secara terpisah.
Bahkan, skala usaha sang anak lebih besar. Putra Oming juga memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari BRI untuk menopang operasional usahanya.
“Anak juga pakai BRI, dia lebih besar,” ujarnya.
Dalam sistem usaha keluarga itu, total pinjaman yang berjalan mencapai ratusan juta rupiah, terbagi antara dirinya dan anaknya. Namun Oming tidak melihatnya sebagai beban, melainkan bagian dari perputaran usaha.
Persaingan usaha penggilingan di wilayahnya juga cukup dinamis. Dia menyebut, hanya beberapa penggilingan yang masih bertahan, sementara sebagian lainnya sudah tidak beroperasi atau beralih fungsi.
“Dulu banyak, sekarang banyak yang bangkrut,” katanya.
Kini, Oming menjadi salah satu pelaku usaha penggilingan yang masih aktif di wilayahnya. Selain mengolah gabah menjadi beras, limbah produksi seperti dedak dan sekam juga menjadi sumber tambahan pendapatan.
“Sekam, dedak, beras, semua ada nilainya,” ujarnya.
Buka Lapangan Kerja untuk Saudara
Usaha penggilingan padi tak hanya menjadi sumber penghidupan bagi Oming, tetapi juga membuka ruang kerja bagi lingkungan terdekatnya. Kini, dia memiliki delapan karyawan.
Sebagian pekerja itu masih memiliki hubungan keluarga. Ada yang merupakan saudara kandung, ada pula kerabat dekat. Mereka ikut membantu operasional sehari-hari, mulai dari proses pengeringan hingga penjemuran.
Bagi Oming, usahanya justru menjadi cara untuk menjaga agar keluarga tetap memiliki pekerjaan di kampung sendiri, tanpa harus merantau atau mencari pekerjaan di luar daerah.
“Kalau bisa, keluarga kerja di sini saja,” ujarnya singkat.
15 Tahun di Penggilingan Padi Oming
Narik (60) merupakan salah satu karyawan Oming. Sudah 15 tahun dia menggantungkan sumber penghidupannya pada penggilingan padi yang berdiri di tengah hamparan sawah itu.
“Di sini sekitar lima belas tahun. Tadinya di Bogor,” ujarnya.
Di tempat penggilingan itu, Narik menjalankan peran sebagai pekerja lapangan. Tugasnya beragam, mulai dari membantu bongkar muat gabah, mengurus perpindahan barang, hingga menyiapkan beras untuk dikirim ke pelanggan.
“Saya bagian bawain padi, bongkar muat, apa saja di lapangan,” ujarnya.
Pekerjaan tersebut membuatnya cukup akrab dengan ritme distribusi beras yang berjalan setiap hari. Hasil penggilingan biasanya dikirim ke berbagai pelanggan tetap, mulai dari wilayah sekitar hingga luar daerah seperti Cileungsi dan Bogor.
Meski pekerjaan yang dia jalani cukup melelahkan, Narik mengaku sudah terbiasa. Lingkungan kerja yang stabil dan kebersamaan dengan rekan kerja membuat Narik merasa nyaman bertahan cukup lama.
“Enak aja di sini,” ucapnya.
Narik berasal dari wilayah Parung, Depok. Namun kini dia lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi penggilingan, mengikuti keluarga yang telah lebih dulu menetap di sana.
“Sekarang ikut istri, anak-anak juga di sini,” ujarnya.
Kredit BRI Tumbuh 13,7 Persen di Awal 2026
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menyampaikan penyaluran kredit dan pembiayaan BRI menunjukkan pertumbuhan solid pada awal 2026. Total kredit dan pembiayaan tercatat naik 13,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 1.562 triliun.
Dalam paparannya pada Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026), Hery menegaskan bahwa segmen UMKM masih menjadi tulang punggung utama portofolio pembiayaan perseroan.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujarnya.
Di sisi lain, BRI juga terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia, sejalan dengan dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah. Dari total tersebut, sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar dengan pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen.
Hery menyebut, penyaluran ini tidak hanya menunjukkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi penggerak bagi pertumbuhan usaha produktif di masyarakat.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” imbuhnya.
Selain menyalurkan pembiayaan, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.