Perjuangan Made Kuliahkan Tiga Anak dari Toko Pakaian

Di tengah lorong sepi Pasar Cileungsi, Marni Made (60) tetap membuka toko pakaian muslim.

oleh SupriatinDiterbitkan 28 Mei 2026, 10:13 WIB
Marni Made (60) Pemilik Toko Pakaian Muslim di Pasar Cileungsi (Supriatin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah lorong sepi Pasar Cileungsi, Bogor, Jawa Barat Marni Made (60) tetap membuka toko pakaian muslim. Perempuan yang sudah 13 tahun berjualan di pasar itu memilih bertahan, meski banyak kios di sekelilingnya tutup satu per satu.

Sebelum menjadi pedagang, Marni bekerja di PT Kao di kawasan MT Haryono, Jakarta Selatan. Dia bertugas pada bagian riset produk. Namun hidupnya berubah drastis setelah salah satu anaknya mengalami kecelakaan sepulang kuliah.

“Suami minta, udah keluar. Jagain anak-anak aja,” ceritanya saat berbincang dengan Liputan6.com, 26 April 2026.

Dengan berat hati, Made meninggalkan pekerjaannya. Awalnya Marni mencoba menikmati hari-hari di rumah. Tetapi lama-kelamaan dia merasa tidak betah karena terbiasa bekerja.

Singkat cerita, Made membuka toko kerudung karena memang senang memadukan model dan warna. Toko kecilnya pelan-pelan ramai pembeli. Dari satu kios, usahanya berkembang hingga menambah beberapa lokal.

Sebelum pandemi Covid-19 datang, usaha Marni termasuk cukup stabil. Hampir setiap pekan dia rutin kulakan ke sejumlah pusat grosir seperti Joya, El Jata, Rabani, hingga Tanah Abang.

“Kalau ke Tanah Abang paling sedikit bawa Rp 10 juta. Kalau cuma Rp 5 juta tuh rasanya kecil banget,” katanya.

Dalam sebulan, omzet tokonya bisa menyentuh sekitar Rp 40 juta. Namun kondisi berubah drastis saat pandemi melanda. Pembatasan jam operasional pasar membuat pengunjung sepi, sementara penjualan terus merosot.

“Setelah Covid jatuh banget. Berharap laku aja sudah bersyukur,” ujarnya.

Usaha Ditopang Pinjaman BRI

Marni Made (60) Pemilik Toko Pakaian Muslim Sedang Melayani Pembeli di Pasar Cileungsi

Saat usaha terpukul pandemi Covid-19, Made mencari cara agar tetap bertahan. Dia kemudian mendapat bantuan permodalan dari BRI.

Made sebetulnya mengenal BRI sejak 2018. Saat itu, dia bertemu petugas BRI yang sering datang ke pasar menawarkan layanan BRILink dan pinjaman modal usaha kepada para pedagang.

Awalnya, Made ragu menggunakan layanan perbankan. Dia bahkan sempat takut menerima mesin EDC karena merasa gagap teknologi.

Namun, petugas BRI terus meyakinkannya bahwa penggunaan EDC cukup mudah. Meski sempat berkali-kali salah pencet hingga harus bolak-balik ke kantor BRI, Made akhirnya mulai terbiasa menggunakan layanan tersebut.

Dari situlah hubungan Made dengan BRI terjalin. Pinjaman modal usaha pertama yang diambil Made sekitar Rp 25 juta.

Menurut Made, pinjaman itu sebenarnya bukan untuk hal besar. Dia hanya ingin menjaga perputaran usaha tetap stabil tanpa harus memaksakan diri membeli aset atau memperbesar usaha secara berlebihan.

“Saya orangnya enggak mau neko-neko. Jalan aja begitu,” katanya.

Bisa Kuliahkan Anak

Marni Made (60) Pemilik Toko Pakaian Muslim di Pasar Cileungsi (Supriatin/Liputan6.com)

Meski sempat jatuh bangun, usaha kecil Made punya peran besar dalam kehidupan keluarga. Dari hasil berjualan pakaian muslim ditambah layanan BRILink, Made bisa membantu membiayai kuliah ketiga anaknya.

“Kalau enggak dari usaha ini, kan enggak mungkin,” ucapnya.

Seiring waktu, Made beberapa kali kembali mengambil pinjaman KUR dari BRI. Ada juga pinjaman non-KUR yang sempat dipakai membantu kebutuhan pendidikan anaknya.

Namun, Made mengaku selalu berhati-hati saat meminjam uang. Dia tidak pernah tergoda mengambil pinjaman besar jika belum tahu jelas akan digunakan untuk apa.

“Kalau belum tahu buat apa, saya enggak mau. Takut jadi beban,” ujarnya.

Pinjaman terakhir yang dia ambil mencapai Rp 80 juta pada tahun lalu. Uang itu dipakai untuk menopang modal usaha sekaligus menjaga kebutuhan keluarga tetap aman.

Made punya prinsip kuat. Selama masih mampu membayar cicilan dan usaha tetap berjalan, dia tetap menjalani pelan-pelan. Tanpa memaksakan diri.

“Yang penting cukup, jalan aja,” katanya.

Omzet Belum Pulih

Marni Made (60) Pemilik Toko Pakaian Muslim di Pasar Cileungsi (Supriatin/Liputan6.com)

Meski mendapat tambahan modal, Made mengaku omzet usahanya belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19. Kini, omzet tokonya bahkan tidak lagi mencapai Rp 20 juta per bulan.

“Sekarang kecil banget. Yang penting cukup jalan,” ujarnya.

Dulu, Made rajin mencatat detail keuntungan harian. Setelah Covid-19, pemasukan toko turun drastis hingga kadang tak semangat lagi membuat pembukuan.

“Dulu modal Rp 100 ribu, jual Rp 120 ribu itu dicatat semua. Setelah Covid, kadang jual kerudung doang,” katanya.

Menurut Made, kondisi pasar berubah jauh. Pengunjung semakin sepi. Sementara keuntungan yang didapat sangat tipis. Bahkan, dari keuntungan Rp 15 ribu sehari, uang itu bisa langsung habis untuk makan siang.

Ribuan UMKM Cileungsi Andalkan KUR

Marni Made (60) Pemilik Toko Pakaian Muslim di Pasar Cileungsi (Supriatin/Liputan6.com)

Di tengah persaingan usaha dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pelaku UMKM di Cileungsi masih mengandalkan pembiayaan perbankan untuk menjaga usaha tetap berjalan. Di wilayah yang tumbuh sebagai kawasan penyangga industri itu, Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi pilihan utama para pedagang dan pelaku usaha kecil untuk menambah modal usaha.

Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, KUR menjadi skema pembiayaan yang paling diminati pelaku UMKM dibanding kredit komersial seperti Kupedes. Selain bunganya disubsidi pemerintah, syarat agunannya juga lebih ringan.

“Kalau Kupedes kan biasanya butuh jaminan seperti sertifikat tanah,” kata Luki.

Menurut dia, banyak pelaku UMKM di Cileungsi merupakan pendatang yang tinggal di kontrakan sehingga belum memiliki aset tetap untuk dijadikan jaminan kredit.

Aktivitas ekonomi di kawasan industri Cileungsi juga mendorong tumbuhnya usaha perdagangan dan jasa, mulai dari warung makan, kontrakan hingga usaha pasar.

“Perdagangan banyak di pasar-pasar. Kontrakan juga berkembang karena banyak pabrik,” ujarnya.

Saat ini, jumlah nasabah UMKM aktif di BRI Cileungsi mencapai sekitar 4.800 hingga 5.000 debitur. Untuk mendukung pengembangan usaha, BRI tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga melakukan pendampingan rutin dan mendorong digitalisasi transaksi melalui QRIS.

“Fokus kami bukan hanya kasih modal, tapi juga mendampingi supaya usaha bisa naik kelas,” kata Luki.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya