Liputan6.com, Jakarta - Rasa takut sempat membayangi Safa Sifa saat menatap seutas tali tambang kapal yang membentang di area lapangan tak jauh dari sekolahnya. Siswi kelas 10 di SMAN 1 Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi ini tak pernah membayangkan bahwa ia harus bertarung dengan ketinggian dan keseimbangan di bawah pengawasan ketat pasukan elite Marinir TNI AL.
Namun, ketakutan itu tak bertahan lama. Di bawah bimbingan instruktur profesional, Safa justru mengaku ketagihan.
Advertisement
"Awalnya beneran deg-degan, tapi setelah tahu tekniknya kalau kaki kanan itu pendorong dan kaki kiri penyeimbang, saya malah ingin coba lagi. Ini pengalaman yang sangat menantang!" ungkapnya dengan wajah sumringah.
Safa merupakan satu dari 400 siswa yang mengikuti agenda tahunan bertajuk Pancawaluya. Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini sengaja dikemas berbeda dengan menyulap area sekolah dan lahan eks perkebunan sekitar menjadi medan latihan ketangkasan ekstrem layaknya markas militer.
Bukan sekadar ajang uji nyali, latihan ini menyimpan pesan filosofis yang mendalam bagi para peserta.
Kepala Pelatih outbound, Lettu Marinir Komarudin, menjelaskan bahwa kunci dari latihan merayap tali hingga melempar pisau ini bukanlah kekuatan otot semata, melainkan ketenangan batin.
"Sebetulnya yang membuat tali goyang itu adalah ketidakyakinan diri sendiri. Jika hati tenang dan fokus, rintangan setinggi apa pun bisa dilewati," ujar Lettu Komarudin di sela-sela pelatihan.
Ia menambahkan bahwa latihan ini dirancang untuk mendidik siswa agar memiliki kendali penuh atas rasa takut mereka.
"Kami tidak hanya melatih otot, tapi melatih kesiapan mental siswa agar mereka tetap sabar dan tidak tergopoh-gopoh saat menghadapi situasi darurat di medan yang sebenarnya," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kunci utama di medan latihan adalah fokus. "Hal ini melatih siswa agar memiliki konsentrasi tinggi dan ketenangan di bawah tekanan," imbuhnya.
Efisiensi Pengganti Study Tour
Di sisi lain, Kepala SMAN 1 Jampangtengah, Bahrudin, memaparkan bahwa kolaborasi dengan pasukan elite ini merupakan terobosan cerdas sekolah untuk menghapus kejenuhan belajar tanpa harus membebani kantong orang tua.
Menurutnya, ini adalah solusi cerdas pengganti study tour dengan memanfaatkan fasilitas sekitar agar edukasi karakter tetap berjalan tanpa kendala finansial.
"Ini adalah solusi cerdas pengganti study tour. Kita manfaatkan fasilitas sekitar agar edukasi karakter tetap jalan tanpa membebani keuangan orang tua," papar Bahrudin.
Ia pun mengungkapkan rasa bangganya terhadap perubahan perilaku para siswanya.
"Perubahannya sangat nyata. Sekarang anak-anak jauh lebih disiplin, bahkan urusan rambut rapi saja mereka lakukan tanpa perlu disuruh lagi," ungkapnya.
Tak hanya soal disiplin pribadi, program ini juga diklaim efektif menekan masalah sosial di sekolah.
"Melalui latihan fisik dan mental bersama Marinir ini, alhamdulillah hingga hari ini sekolah kami bersih dari aksi perundungan (bullying) karena mereka diajarkan untuk saling menghargai teman dan guru," tegasnya.
Adrenalin yang Membentuk Karakter
Antusiasme serupa juga dirasakan oleh Ramadan, siswa kelas 10 yang gemar berolahraga. Ia mengaku tidak merasakan lelah meski harus melewati berbagai rintangan fisik yang menguras tenaga.
Baginya, digembleng langsung oleh pasukan khusus memberikan rasa percaya diri baru yang tidak didapatkan di dalam ruang kelas.
"Seru banget, yang bikin menantang itu pas melangkah kita harus seimbangin badan biar tidak jatuh. Karena saya sudah biasa olahraga jadi tidak terasa lelah, tapi serunya luar biasa," ujarnya.
Kegiatan Pancawaluya yang telah memasuki tahun keempat ini sukses membuktikan bahwa pendidikan karakter di level menengah bisa dilakukan dengan cara yang sangat seru.