Cerita di Balik Tradisi Betawi Depok Potong Kebo Andil

Potong kebo andil merupakan salah satu tradisi atau budaya masyarakat betawi Depok tempo dulu.

oleh Dicky Agung PrihantoDiterbitkan 08 Mei 2026, 10:11 WIB
Mengenal tradisi potong Kebo Andil saat lebaran Depok. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Liputan6.com, Jakarta - Warga Betawi yang tinggal di Kota Depok, Jawa Barat, memiliki tradisi unik dan menarik dalam merayakan Idulfitri, yaitu potong Kebo Andil. Tradisi yang berlangsung turun temurun ini tidak hanya sebuah seremonial, namun memiliki banyak makna di antaranya kebersamaan dan toleransi.

Wakil Ketua komunitas Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Maksum mengatakan, potong kebo andil merupakan salah satu tradisi atau budaya masyarakat betawi Depok tempo dulu. Masyarakat dahulu menjadikan kerbau sebagai hidangan pada hari raya Idulfitri.

“Jadi kita memberitahukan pada lebaran Depok, bahwa orang tua kita dulu memiliki tradisi potong kebo andil,” ujar Maksum kepada Liputan6.com, Kamis (7/5/2026).

Maksum yang merupakan salah satu tokoh Betawi Depok melanjutkan, dahulu masyarakat betawi melakukan urunan atau tabungan bersama untuk membeli kerbau. Pengumpulan uang dilakukan selama sepuluh bulan atau sampai sesuai harga kerbau yang akan dibeli.

“Nantinya uang yang terkumpul akan dibelikan kerbau untuk disembelih pada hari raya Idulfitri,” jelas Maksum.

Potong kebo andil turut memberikan arti sendiri pada kehidupan masyarakat. Potong kebo andil memberikan contoh bagaimana masyarakat untuk bersabar mendapatkan sesuatu yang diinginkan, salah satunya berupa makanan.

“Filosofinya bahwa orang-orang kampung ini tidak ada yang sifatnya instan, untuk makan enak, makan daging satu tahun sekali itu perlu proses,” ucap Maksum.

 

Maksum menjelaskan, pemilihan kerbau sebagai hewan potong karena untuk menjunjung sikap toleransi kepada pemeluk agama lain yang mensakralkan sapi.

“Dulu di Betawi ini kan bukan hanya kita yang beragama Islam, ada agama lain yang memang mensakralkan yang namanya sapi. Sehingga kita mengalah demi toleransi, yang kita potong adalah kerbau, supaya mereka merasa dihargai keyakinannya,” terang Maksum.

Adapun alasan lainnya, yakni pada tekstur kerbau yang berbeda dengan daging sapi. Daging kerbau memiliki tekstur yang lebih keras saat dimakan dibandingkan dengan daging sapi, sehingga dapat dihidangkan dalam waktu lama.

“Daging kebo itu tekstur dia lebih keras daripada daging sapi, jadi nanti makannya sedikit-sedikit. Kalau sering banyak dimasak, sering banyak diolah, dimatengin, diangetin, kebo itu tetap dalam keadaan segar, makanya dipilihlah kebo,” ungkap Maksum.

KOOD bersama Pemerintah Kota Depok berusaha melestarikan budaya betawi Depok. Pada lebaran Depok, turut diperkenalkan tradisi nyuci perabotan, ngubek empang, malam pasar penghabisan, ngaduk dodol, nyedengin baju lebaran, dan sejumlah tradisi lainnya.

“Jadi kami ingin memperkenalkan tradisi dan budaya Betawi Depok untuk kita lestarikan, mulai dari anak dan cucu, hingga masyarakat luas,” pungkas Maksum.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya