Kronologi Ibu 4 Anak Tewas Dibunuh Kekasih di Sukabumi

Polisi mengungkap motif tewasnya EM (33) di Sukabumi: utang dalam hubungan asmara. Jasad dibuang di perkebunan jati; identifikasi diperkuat autopsi.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 18:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Misteri penemuan kerangka EM (33), ibu empat anak di Sukabumi, terjawab. Polisi menyebut motif pembunuhan berawal dari persoalan utang piutang dalam hubungan asmara. Terduga pelaku berinisial H alias Delon (42) dituding menghabisi nyawa korban setelah cekcok soal tagihan.

Menurut penyidik, pelaku dan korban berpacaran selama sekitar lima bulan. Pada malam 29 Juni, pelaku menagih uang yang pernah dipinjamkan. Korban menyatakan belum memiliki dana dan menolak saat diminta menjual sepeda motornya untuk melunasi utang.

"Pelaku dan korban sudah menjalin hubungan selama lima bulan. Saat berpacaran, korban meminjam sejumlah uang kepada pelaku. Ketika ditagih pada malam 29 Juni, korban mengaku belum memiliki uang," ujar Iptu Dudi Suharyana, Kamis (16/7/2026).

Versi polisi, penolakan korban untuk menjual motor membuat pelaku tersulut emosi. Aksi kekerasan fisik kemudian terjadi dan berujung fatal hingga korban meninggal dunia di tempat kejadian.

"Karena korban menolak menjual motornya, pelaku langsung gelap mata dan melakukan tindakan kekerasan fisik. Kekerasan tersebut berakibat fatal hingga menyebabkan korban meninggal dunia," jelas Dudi.

Setelah memastikan korban tak bernyawa, pelaku panik dan mencoba menghilangkan jejak. Upaya itu dilakukan pada malam yang sama, beberapa saat setelah pertikaian yang memicu kekerasan.

Pembuangan Jasad di Perkebunan Jati

Masih pada malam 29 Juni, jasad korban diangkut dan dibuang di area perkebunan jati milik PT Indah Bumi Plantasi (IBP), Blok 17, Kampung Cimahi, Desa Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Lokasi yang sepi dipilih untuk menyamarkan perbuatan tersebut.

"Jasad korban langsung dibuang oleh pelaku pada malam itu juga di area perkebunan. Pelaku sengaja memilih lokasi sepi tersebut untuk menyembunyikan aksi kejinya dan menghilangkan jejak," kata Dudi.

Jasad baru ditemukan warga dalam kondisi tinggal kerangka. Di RS Bhayangkara Setukpa, kakak korban, Nuryamah, mengenali beberapa ciri yang masih melekat saat menunggu proses visum.

"Dari bajunya, dari rambutnya, mungkin tadi kata polisi masih ada rambutnya. Terus giginya yang bekas pakai behel. Dari tanggal 29 Juni sudah hilang kontak," ungkap Nuryamah.

Kecocokan identitas yang disampaikan keluarga diperkuat secara ilmiah melalui autopsi menyeluruh oleh Tim Forensik RS Bhayangkara yang dipimpin IPDA drg. Yurinda Reygita.