Solar Langka di Sukabumi, Sopir Truk Kebingungan

Tersendatnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Kota Sukabumi membuat para sopir truk ekspedisi kebingungan.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 14:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sukabumi - Tersendatnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Kota Sukabumi membuat para sopir truk kebingungan. Demi dapur di rumah bisa mengepul, mereka harus berburu bahan bakar solar hingga ke luar wilayah operasional rutin dengan jarak yang cukup jauh.

Kondisi ini dialami langsung oleh para sopir yang mengantre di SPBU 34.43107 Jalan Didi Sukardi, Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Antrean kendaraan besar terpantau mengular panjang tepat setelah waktu salat Jumat.

Dedi Rustandi (56), seorang sopir truk distributor dari PSC Putasolo, mengeluhkan bahwa keterlambatan pasokan solar di area perkotaan membuat para pekerja angkutan logistik kehabisan waktu di jalan. Situasi sulit ini diakuinya sudah terjadi berulang kali.

"Kalau biasa-biasanya mah lancar gitu. Tapi sekarang mah ya begitu, telat," keluh Dedi saat ditemui di lokasi antrean, Jumat (12/6/2026).

Pada awal pekan lalu, Dedi bahkan terpaksa mencari solar hingga ke wilayah Parungkuda, Kabupaten Sukabumi karena stok di dalam kota kosong.

Padahal, area dalam kota sebetulnya bukan merupakan jalur distribusi rutinnya pada hari tersebut.

"Wah, susah. Kemarin juga saya hari Senin cari dari wilayah kota keluar dari gudang gitu ya baru dapat di Parungkuda," tambah Dedi menggambarkan sulitnya memperoleh solar subsidi.

Untuk mendapatkan solar tersebut, armada logistik ini harus menempuh perjalanan dari Kota Sukabumi menuju SPBU Parungkuda yang berjarak sekitar 24 kilometer, atau memakan waktu sekitar satu jam perjalanan.

Pengiriman Barang Molor

Kondisi ini dinilai sangat merugikan bagi mobilitas angkutan barang. Rute operasional Dedi yang seharusnya mengarah langsung ke Jakarta via Cicurug menjadi terhambat karena ia harus membuang waktu dan energi untuk mengantre di dalam kota.

"Kalau saya kan dari hari Senin sampai hari Selasa jalur ke arah Jakarta, ke Cicurug, Parungkuda gitu kalau saya mah," paparnya mengenai rute asli yang terganggu.

Selain merugikan dari segi efisiensi waktu, pembengkakan durasi perjalanan ini juga membuat operasional pengiriman barang menjadi molor. Para sopir logistik kini dihantui rasa cemas jika kelangkaan ini terus berlarut-larut.

Mereka pun mendesak pihak berwenang untuk memperketat pengawasan di lapangan agar tersendatnya pasokan solar ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin berbuat curang.

"Ya kalau pengiriman (telat) gitu kalau mengantre gini kan makan waktu, jadi lama," sambung dia.