Bleng-Blengan jadi Pilihan Petani Blora Hindari Penggunaan Jebakan Tikus Berujung Maut

Jebakan tikus dengan aliran listrik yang selama ini kerap memakan korban nyawa petani, diganti oleh bleng-blengan, alat tradisional yang membantu mereka.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Blora - Suara dentuman keras dari area persawahan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) pada malam hari ternyata bukan berasal dari petasan ataupun suara ledakan lainnya.

Bunyi tersebut berasal dari alat tradisional bernama 'bleng-blengan' yang masih digunakan sejumlah petani untuk mengusir hama tikus perusak tanaman.

Di tengah maraknya penggunaan jebakan modern hingga setrum listrik, sebagian petani di Blora justru tetap mempertahankan cara tradisional yang dinilai lebih aman dan murah.

Bleng-blengan biasanya digunakan alias dinyalakan pada malam hari, saat tikus mulai keluar dan menyerang tanaman milik petani.

Alat sederhana itu menghasilkan suara ledakan kecil secara berkala yang dipercaya mampu membuat tikus menjauh dari area pertanian.

Salah satu petani yang masih menggunakan alat tersebut adalah Rofiq (39), warga Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Selain menjadi guru SDN, ia juga aktif menggarap sawah miliknya.

Rofiq mengaku alat tersebut dirakit sendiri menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

"Bleng-blengan rakitan dewe (Bleng-blengan rakitan sendiri)," kata Rofiq kepada Liputan6.com, Senin 11 Mei 2026.

 

 

Alat Tradisional yang Bantu Petani 

Menurut Rofiq, alat tradisional itu cukup membantu petani dalam mengurangi serangan tikus yang selama ini menjadi momok di area pertanian.

"Nggurak tikus (Mengusir tikus)," ujarnya singkat saat ditanya fungsi alat tersebut.

Ia menjelaskan, bleng-blengan dibuat menggunakan kaleng bekas susu yang dipadukan dengan platina kompor gas. Sementara bahan bakarnya menggunakan spiritus.

"Kaleng susu karo platina kompor gas, bahan bakare pirtus (Kaleng susu dan platina kompor gas, bahan bakarnya spiritus)," ucap Rofiq.

Cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Api dari spiritus memicu tekanan di dalam tabung sehingga menghasilkan suara dentuman keras menyerupai ledakan kecil.

Di sejumlah desa di Blora, penggunaan bleng-blengan sebenarnya bukan hal baru. Cara tradisional itu telah digunakan petani sejak lama untuk menghalau tikus yang merusak tanaman.

Selain biaya pembuatannya murah, alat tersebut juga dianggap lebih aman dibanding penggunaan jebakan tikus dengan aliran listrik yang selama ini kerap memakan korban nyawa petani.

Warga Blora lainnya, Sulis (42), menilai penggunaan bleng-blengan jauh lebih aman dibanding metode setrum listrik yang berbahaya bagi manusia.

"Alat tradisional bleng-blengan lebih aman, dan kalau bisa jangan pakai setrum listrik," kata Sulis.

 

Sering Ada Korban Jiwa

Menurut Sulis, penggunaan jebakan tikus beraliran listrik di area sawah selama ini sering menimbulkan korban jiwa, termasuk di Kabupaten Blora.

"Belajar dari kasus-kasus di Blora, setiap tahun selalu ada petani yang tewas gara-gara jebakan tikus pakai setrum listrik," ucap Sulis.

Kasus petani meninggal akibat tersengat listrik jebakan tikus marak terjadi di wilayah Blora. Kondisi itu membuat sebagian petani ada yang memilih metode yang lebih aman meski tradisional.

Selain dianggap tidak membahayakan orang lain, bleng-blengan juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan racun kimia maupun aliran listrik bertegangan tinggi.

Meski demikian, petani tetap diminta berhati-hati saat menggunakan alat tersebut karena memakai api dan bahan bakar yang mudah terbakar.

Di tengah perkembangan teknologi pertanian modern, keberadaan bleng-blengan menunjukkan bahwa sebagian petani Blora masih mempertahankan cara-cara sederhana demi menjaga sawah mereka dari serangan hama.

Bagi para petani, dentuman keras di tengah malam itu bukan sekadar suara biasa, melainkan bagian dari perjuangan menjaga hasil panen agar tidak habis diserang tikus.