Megawati Temui Dubes Kuba dan Kuwait, Ini yang Dibahas

Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Duta Besar Kuba dan Kuwait untuk saling bertukar informasi terkait masalah geopolitik hari ini.

Diterbitkan 19 Mei 2026, 00:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengarah BRIN Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar Gonzalez Grau, di mana keduanya berdialog soal kondisi perekomian saat ini, di kediamannya, Menteng, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah dan Direktur Hubungan Luar Negeri PDIP, Hanjaya Setiawan.

Dalam pertemuan itu, Hasto menjelaskan, selain kerja sama dengan BRIN di bidang kesehatan, khususnya mengembangan obat kanker dan juga vaksin halal serta obat-obatan juga mendorong terwujudnya kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, mereka juga berharap bisa kerja sama dengan beberapa rumah sakit seperti RS Harapan Kita dan RS Pusat Otak Nasional (RS PON).

"Kepada Dubes Kuba, Ibu Megawati mengatakan kesehatan penting sekali untuk rakyat sehingga ketika saat menjabat presiden berinisiatif membangun RS PON," jelas Hasto.

Saat pertemuan, Megawati juga sempat menyinggung kunjungannya ke Kuba pada tahun 2011, lalu.

"Ibu Mega bernostalgia ketika berkunjung ke Kuba melihat secara langsung pabrik cerutu. Ternyata ada insentif bagi pekerja yang bisa mencapai target, kemudian ketika ada produksi lebih dari target maka kelebihan itu menjadi hak pekerja tersebut," kata Hasto.

Dubes Grau juga menjelaskan Kuba memiliki program khusus pemberantasan buta huruf, teknologi terapan hingga spesialis. Program pemberantasan buta huruf sangat efektif dan sudah diterapkan di 30 negara dan menjangkau 10 juta orang.

Selain itu, saat pertemuan, Dubes Kuba memaparkan kesulitan kehidupan perekonomian akibat tekanan Amerika Serikat yeng berniat menguasai Kuba. Banyak analis menggambarkannya sebagai krisis ekonomi terburuk di negara itu sejak ‘Periode Khusus’ tahun 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet.

Dubes Kuba menyinggung krisis energi dan listrik yang parah, dengan dampaknya ke sektor pariwisata yang menjadi andalan perekonomian Kuba.

Langkah-langkah tambahan AS yang membatasi ruang gerak pengiriman bahan bakar dan jalur pelayaran meningkatkan tekanan pada perekonomian Kuba. Atas berbagai persoalan tersebut, Megawati mengungkapkan pentingnya solidaritas antarbangsa-bangsa merdeka dan berdaulat, termasuk berjuang melalui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Dalam pertemuan tersebut, Dubes Kuba menyerahkan buket bunga mawar, parfum oles yang bahannya dari bunga Mariposa Putih, yang merupakan bunga nasional Kuba dan cerutu Kuba.

“Setelah menerima parfum, Ibu Mega spontan menjelaskan bahwa Beliau juga telah memiliki bunga Mariposa Putih yang ditanam di kebunnya di Bali," ujar Ahmad Basarah.

Ditambahkan Basarah, Megawati menyerahkan miniatur Candi Borobudur dan satu set cangkir tradisional sebagai cendera mata.

Dubes Kuba pun mengutarakan ketertarikannya dengan lukisan Megawati kecil yang sedang dipangku ayahandanya, Soekarno. Lantas, Megawati pun menerangkan soal lukisan tersebut.

Bertemu Kuwait, Bahas soal Dampak Penutupan Selat Hormuz

Hari ini juga Megawati menerima kunjungan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Al-Yassin. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas dampak berlanjutnya konflik di Timur Tengah serta hubungan baik antara kedua negara.

Hasto menjelaskan bahwa Duta Besar Kuwait menyampaikan apresiasinya atas dukungan historis Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

"Duta Besar Kuwait memuji peran kepemimpinan Indonesia di dunia melalui semangat Bandung, yaitu nilai solidaritas, perdamaian, dan anti-kolonialisme yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika, yang turut berkontribusi terhadap kemerdekaan Kuwait. Kuwait kemudian bergabung dengan Gerakan Non-Blok. Saat ini, Indonesia memiliki posisi yang sangat penting di kawasan Global South, terutama karena sejarah perjuangannya dalam meraih kemerdekaan yang menginspirasi negara-negara Asia dan Afrika, termasuk Kuwait," kata Hasto.

Menanggapi hal tersebut, Megawati menyatakan bahwa Indonesia memainkan peran geopolitik yang sangat penting dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika.

"Salah satu poin penting dalam kesepakatan Konferensi Asia-Afrika adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina," ucap Megawati.

Pembahasan kemudian berlanjut pada konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. "Sebagai seorang ibu, saya merasakan kesedihan mendalam atas dampak perang yang tidak menentu terhadap nasib anak-anak dan para ibu di negara-negara yang dilanda konflik," ujar Megawati.

Sementara itu, Duta Besar Khalid menegaskan bahwa Kuwait telah menyatakan secara jelas bahwa negaranya bukan pihak dalam konflik bersenjata tersebut dan menolak penggunaan wilayah maupun ruang udaranya sebagai titik awal serangan terhadap negara-negara tetangga.

Dubes Khalid Jassim Al-Yassin menegaskan bahwa Kuwait tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan tetap berkomitmen untuk memperkuat perdamaian.

"Posisi tersebut telah disampaikan kepada Iran, namun diabaikan dan serangan terhadap Kuwait terus berlanjut. Kami berharap Indonesia, dengan posisi internasionalnya yang terhormat, dapat turut mendukung upaya mewujudkan perdamaian di Timur Tengah," sebut Dubes Kuwait.

Pertemuan itu juga membahas berbagai solusi atas perang di Timur Tengah, termasuk persoalan Selat Hormuz. Duta Besar Khalid menekankan pentingnya pembukaan kembali selat tersebut sebagai jalur perdagangan internasional mengingat perannya yang vital bagi stabilitas pasar energi global.