Gibran Ungkap Pekerjaan Rumah Indonesia di Industri Kendaraan Listrik

Gibran Rakabuming bertemu Profesor Chan membahas pengembangan kendaraan listrik.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 13:50 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menerima akademisi asal Magelang yang berkiprah dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik, Profesor Ching-Chuen Chan. Pertemuan berlangsung di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026.

Keduanya membahas penguatan riset dan inovasi dalam negeri, dukungan pemerintah terhadap industri kendaraan listrik, serta peran generasi muda dalam membangun kemandirian teknologi.

Gibran menyampaikan bahwa pengembangan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik, menjadi salah satu perhatian pemerintah sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut dia, industri kendaraan listrik di Indonesia mulai berkembang sehingga perlu didukung dengan kebijakan insentif yang tepat untuk mendorong minat masyarakat.

"Bapak Presiden juga sedang fokus pada sepeda motor listrik. Industrinya sebenarnya sudah mulai melangkah maju. Jadi, kita tinggal melihat insentif apa yang bisa diberikan kepada konsumen," kata Gibran dikutip dari siaran pers, Kamis (29/10/2026).

Meski memiliki sumber daya yang mendukung, dia menyebut Indonesia masih perlu memperkuat kapasitas inovasi agar mampu mengembangkan teknologi kendaraan listrik secara mandiri.

Gibran menilai ketersediaan sumber daya perlu diimbangi dengan kemampuan menghasilkan inovasi yang dapat memperkuat daya saing industri nasional.

"Kita memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan. Namun, dalam hal inovasi, kita masih berada pada tahap yang sangat awal," ungkapnya.

 

 

Generasi Muda Perlu Diberi Insentif

Sementara, Profesor Chan menekankan pentingnya kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan mobilitas listrik, termasuk untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia.

Menurut dia, insentif dan dukungan yang tepat diperlukan agar anak muda terdorong menghasilkan terobosan teknologi.

"Untuk mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia, perlu ada insentif yang dapat memacu mereka untuk berinovasi," tutur Chan usai pertemuan.

Dia juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pembelian teknologi dari negara lain. Penguasaan teknologi unggulan, menurutnya, harus dibangun melalui riset, pengembangan, dan inovasi yang dilakukan secara mandiri.

"Kita tidak bisa berharap negara lain memberikan teknologi terbaiknya. Mereka bisa menjual teknologi kepada kita, tetapi teknologi yang dijual itu belum tentu merupakan teknologi kelas satu. Yang bisa kita beli mungkin teknologi kelas dua atau tiga," jelasnya.

"Teknologi kelas satu harus kita bangun sendiri. Karena itu, dorong generasi muda untuk berinovasi. Teknologi tidak bisa sekadar dibeli," sambung Chan.