Menelusuri PLTP Kamojang, Saat Panas Bumi Diubah Jadi Listrik

Kawasan Kamojang menawarkan suasana yang berbeda dari gambaran sebuah pembangkit listrik.

Liputan6.com, Jakarta - Pepohonan tinggi berjajar di sisi kanan dan kiri kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Udara sejuk dengan latar perbukitan dan hamparan hijau menjadi pemandangan sepanjang perjalanan.

Di antara rimbunnya hutan, pipa-pipa berukuran besar membentang mengikuti jalan dan saling terhubung, meski di beberapa titik terdapat persimpangan.

Kawasan Kamojang menawarkan suasana yang berbeda dari gambaran sebuah pembangkit listrik. Alih-alih bangunan beton dan cerobong industri, fasilitas energi panas bumi ini berdampingan dengan bentang alam pegunungan.

Pemandangan tersebut menjadi bagian dari kunjungan Liputan6.com ke PLTP Kamojang yang berada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kawasan ini terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sumur uap pertama di Kamojang bahkan ditemukan pada 1926 oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Wilayah kerja panas bumi Kamojang memiliki luas sekitar 45.380 hektare. Di kawasan ini, Pertamina Geothermal Energy (PGE) memiliki kapasitas terpasang mencapai 235 megawatt (MW).

Listrik yang dihasilkan dari panas bumi Kamojang disalurkan ke sistem jaringan Jawa-Madura-Bali. Selain menjadi sumber energi listrik, pemanfaatan panas bumi ini juga berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun serta memasok kebutuhan listrik setara dengan sekitar 260 ribu rumah.

PLTP Kamojang terdiri dari lima unit pembangkit. Unit 4 dan 5 berada di bangunan yang saling berdampingan, dilengkapi berbagai fasilitas untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi tersebut.

Memasuki salah satu ruangan di gedung pembangkit, deretan komputer tampak memantau kondisi mesin turbin. Berbagai kode dan data real-time terpampang di layar, menyajikan informasi mengenai kondisi mesin yang terus dipantau.

Bagi orang awam, deretan angka dan kode tersebut mungkin tampak rumit. Namun, data itu menjadi bagian penting untuk memastikan operasional pembangkit berjalan dengan baik.

Mesin turbin berukuran besar menjadi salah satu pusat perhatian. Peralatan berwarna kuning kecokelatan itu berada di antara penyangga, pagar pengaman, dan berbagai instalasi. Tubuh mesin tampak memanjang dengan sejumlah komponen yang terhubung di sekelilingnya, termasuk generator.

Turbin tersebut dipantau petugas selama 24 jam tanpa henti. Mereka bekerja dalam tiga shift, dengan masing-masing shift terdiri dari tiga personel.

Di luar bangunan utama, jaringan pipa kembali mendominasi pemandangan. Pipa-pipa berukuran kecil hingga besar membentang di antara gedung-gedung berlapis panel logam. Ada pula menara pendingin (cooling tower) yang berfungsi mendinginkan air kondensat panas hasil pemisahan uap di kondensor. Dengan begitu, air tersebut dapat digunakan kembali sebagai media pendingin.

Pada salah satu pipa, uap putih tampak keluar dari sebuah saluran di sisi bangunan. Uap tersebut merupakan hasil proses kondensasi.

Peralatan dan jalur pipa yang tertata menunjukkan bahwa kawasan ini bukan sekadar hamparan hutan, melainkan juga tempat berlangsungnya proses pengolahan energi panas bumi.

Selain pipa-pipa, jaringan transmisi listrik tampak membentang melalui sejumlah tiang baja dan peralatan gardu. Kabel-kabel bertegangan tinggi saling terhubung untuk mendukung penyaluran listrik yang dihasilkan dari pemanfaatan energi panas bumi.

Perjalanan kemudian berlanjut ke area sumur uap yang masih berada di dalam kawasan tersebut. Lokasinya cukup terbuka, tetapi lebih kecil dibandingkan area mesin turbin. Sejumlah pipa melintang di dalam area berpagar, sementara peralatan sumur berada di tengah instalasi.

Sumur uap menjadi bagian penting dari sistem panas bumi. Melalui sumur produksi, fluida panas bumi di bawah permukaan dialirkan menuju fasilitas pembangkit.

Dari luar pagar, instalasi sumur terlihat sederhana jika dibandingkan dengan mesin turbin di dalam bangunan pembangkit. Namun, di balik rangkaian pipa dan peralatan tersebut, terdapat peran penting dalam menghubungkan sumber panas di bawah tanah dengan proses produksi listrik di permukaan.

PLTP Kamojang memperlihatkan perpaduan teknologi dan alam. Di dalam bangunan, mesin turbin dan jaringan pipa berperan dalam proses pengolahan panas bumi menjadi listrik. Sementara itu, di luar, pepohonan rindang dan lanskap pegunungan mengelilingi kawasan pembangkit.

Di antara rimbunnya hutan, pipa-pipa besar menghubungkan sumur panas bumi dengan fasilitas pembangkit. Panas dari dalam bumi kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik bagi masyarakat.

 

Pertamina Garap Bisnis Panas Bumi

Pertamina selama ini dikenal sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor minyak dan gas. Namun, pengembangan usahanya tidak berhenti di sektor tersebut. Pertamina Geothermal Energy (PGE) menjadi salah satu bagian dari pengembangan bisnis Pertamina dengan memanfaatkan potensi panas bumi di Indonesia.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, PGE mengembangkan bisnis panas bumi dari hulu hingga hilir. Prosesnya mencakup berbagai tahapan, mulai dari eksplorasi dan pengeboran hingga pembangkitan listrik.

Menurut Joko, strategi tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan tingginya risiko eksplorasi dengan pendapatan dari listrik yang dihasilkan.

“Jadi itu mungkin kenapa kami masuk ke bisnis hilir, karena memang geothermal itu hulu-hilir itu harus jadi satu kesatuan. Satu kesatuan bisnis,” tutur Joko kepada wartawan di PLTP Kamojang, Selasa (20/10/2026).

Joko mengatakan, PGE memiliki potensi pengembangan panas bumi sebesar 3,2 gigawatt dari total potensi nasional yang mencapai 24 gigawatt. Namun, kapasitas pembangkit listrik yang telah beroperasi saat ini baru mencapai 727 megawatt.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PGE terus melakukan pengeboran di sejumlah wilayah, mulai dari Kamojang, Lahendong, Lumut Balai, hingga Ulubelu. Upaya ini menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit sekaligus memperluas pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia.

“Tahun 2030 kita harus menjadi nomor satu geothermal di dunia,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Tina Talisa, mengungkapkan bahwa transisi energi menjadi salah satu upaya besar yang tengah dilakukan pemerintah. Terlebih, transisi energi membutuhkan waktu yang panjang.

Sejak pembangkit pertama beroperasi di Kamojang pada 1983, kapasitas panas bumi Indonesia terus berkembang. Namun, upaya tersebut perlu dilanjutkan, termasuk melalui pencapaian target pengembangan kapasitas PGE.

“Kita tidak boleh berpuas diri, karena itulah dengan semangat PGE 1 gigawatt kita sangat mendorong, kemudian 1,8 giga. Karena sekarang posisinya kita bahkan 3 gigawatt pun belum secara nasional,” jelas Tina kepada wartawan di PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, Selasa (20/10/2026).

Tina mengatakan, 52 persen kapasitas panas bumi nasional berada di Jawa Barat. Menurut dia, PLTP Kamojang menjadi tolok ukur pengembangan energi panas bumi yang tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

“Dari mulai sumur kemudian di PLTP-nya sendiri. Nah, ini sebetulnya yang perlu bersama-sama dijaga terutama kolaborasi dan komunikasi yang intensif dengan masyarakat, dengan pemerintah daerah agar keberlanjutannya bisa sama-sama dijaga,” ungkapnya.