Menag: Indeks Kerukunan Umat Beragama Capai 78 Persen di Era Prabowo

Capaian tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan indeks kerukunan umat beragama di Indonesia mencapai 78 persen pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Capaian tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.

Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam konferensi pers dua tahun capaian kinerja Kementerian Agama (Kemenag) di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).

“Semenjak Indonesia merdeka baru kali ini di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo mencapai angka 78%, berarti angka kerukunan umat beragama tertinggi semenjak ya semenjak Indonesia ini ada ya,” kata Nasaruddin.

Berdasarkan data yang disampaikan, Indeks Kerukunan Umat Beragama meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Angka tersebut melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 sebesar 76,77.

Nasaruddin mengatakan, penguatan kerukunan umat beragama juga berdampak hingga tingkat daerah. Dia menyebut DKI Jakarta dinilai sebagai salah satu kota paling rukun di Asia Tenggara dan menempati posisi kedua setelah Singapura.

"Sekarang ibu kota negara paling rukun dalam penilaian-penilaian internasional adalah DKI Jakarta, berada pada urutan kedua sesudah Singapura. Jadi Singapura itu kan sebetulnya negaranya sangat kecil, tapi kita berada pada urutan kedua negara paling rukun itu juga satu prestasi tersendiri karena kita ibu kota yang paling besar terutama di Asia Tenggara ini," jelasnya.

Dia menegaskan, keberhasilan Kemenag dalam membangun kerukunan umat beragama tidak hanya diukur melalui angka statistik formal. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat semakin mendekatkan diri pada ajaran agama masing-masing.

“Saya sering mengatakan kepada teman-teman sebagai motivasi, ukuran keberhasilan Kementerian Agama itu bukan hanya berdasarkan angka-angka formal yang telah disusun, ya tetapi yang paling penting buat kita secara global ya bagaimana mendekatkan antara umat beragama dengan agamanya itu sendiri. Ya semakin sadar orang itu beragama, semakin sadar orang itu menjalankan mempraktikkan ajaran agamanya, maka itu artinya kontribusi yang terbesar bagi bangsanya sendiri,” terang Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, meningkatnya pemahaman dan kesadaran beragama di tengah masyarakat dapat berdampak positif terhadap penurunan pelanggaran hukum dan gangguan ketertiban.

“Karena kalau orang itu akan sadar beragama, saya kira masalah korupsi, masalah penyimpangan-penyimpangan, dan juga masalah ketertiban masyarakat itu pasti dengan sendirinya tidak akan terwujud,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya integritas di lingkungan Kemenag, yang memiliki lebih dari 360 ribu pegawai dan 3.000 satuan kerja.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenag mencetak buku antikorupsi dari berbagai perspektif agama. Buku itu mendapat apresiasi khusus dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Kemudian juga kita mencetak dan menyebarkan beberapa buku ya antikorupsi dalam berbagai macam perspektif agama: agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan itu sangat diapresiasi oleh KPK dan kita mendapatkan penghargaan khusus juga," kata Nasaruddin.

 

Kunci Kerukunan

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menyampaikan bahwa ketaatan terhadap ajaran agama menjadi salah satu kunci utama terwujudnya kerukunan.

“Kalau ingin kerukunan umat beragama itu berjalan dengan baik, maka masing-masing penganut agama mengutip pendapat Pak Menteri, harus semakin dekat dengan agamanya. Ini semakin mereka mentaati agamanya, semakin bisa diwujudkan kerukunan beragama,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan menilai penyampaian capaian tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah sekaligus keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Tentu kita ketahui bahwa penyampaian keberhasilan ini adalah bagian dari pertanggungjawaban pemerintahan dan keterbukaan informasi publik. Jadi tidak ada negara, pemerintahan yang makan uang rakyat melalui pajak kemudian merahasiakan apa yang dia lakukan. Dan ini adalah bagian dari itu,” kata Syahganda.

 

Apresiasi Kemenag

Syahganda juga mengapresiasi peran Kemenag dalam mendorong agama menjadi kekuatan yang memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, upaya tersebut terlihat dari penguatan persatuan nasional, pembangunan integritas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program Kemenag.

“Dari Bakom, kami sangat mengapresiasi tiga hal yang saya catat tadi. Pertama, Bapak Menteri Agama dan jajarannya telah berhasil meningkatkan agama sebagai alat persatuan nasional. Yang kedua, telah berhasil menjadikan agama sebagai alat pembebasan dari budaya korupsi. Saya lihat tadi bagaimana agama itu bisa meyakinkan orang-orang untuk menjadi orang yang bersih dari korupsi. Yang ketiga, agama itu ikut berperan serta dalam memajukan pembangunan manusia dan sumber daya manusia, seperti pembelajaran jarak jauh, beasiswa, dan lain-lain,” pungkasnya.