Kebakaran TPA Jatiwaringin, Warga Keluhkan Sesak Napas dan Mata Perih

Kebakaran TPA Jatiwaringin membuat warga terpaksa memakai masker. Asap pekat juga mengganggu pengendara.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 19:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran yang melanda 15 hektare gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, selama tiga hari terakhir mulai mengganggu aktivitas warga. Kepulan asap tebal membuat warga terpaksa mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah karena udara terasa sesak dan perih di mata.

Hingga kini, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) masih bersiaga di sekitar lokasi kebakaran. Asap yang terus mengepul dari sejumlah titik gunungan sampah tersebut juga membatasi jarak pandang para pengendara yang melintas.

"Pedih banget ke mata," teriak salah seorang pengendara sepeda motor saat melintasi kawasan tersebut.

Tak sedikit pengendara mobil juga menyalakan lampu hazard untuk meningkatkan kewaspadaan karena pandangan tertutup asap tebal.

Selain mengganggu jarak pandang, kebakaran juga menimbulkan aroma menyengat khas sampah yang terbakar. Bau menyengat itu tercium hingga ke jalan raya dan membuat warga maupun pengendara yang tidak terbiasa merasa pusing dan tidak nyaman.

Dampak kepulan asap juga dirasakan Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid. Saat memantau sekaligus memimpin upaya pemadaman pada hari kedua kebakaran, ia diduga mengalami sesak napas. Dalam video yang beredar, Maesyal terlihat mendapat bantuan oksigen dari petugas di lokasi.

Keluhan serupa juga dirasakan warga sekitar. Dedi Yulianto (43), warga Kampung Gintung yang rumahnya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kebakaran. Ia mengatakan asap mulai menyelimuti permukimannya sejak Selasa 30 Juni 2026.

"Kalau angin dari barat, asapnya langsung ke kampung. Dari kemarin sudah kelihatan asapnya banyak sekali," ujar Dedi, Kamis (2/7/2026).

Menurut Dedi, asap dari kebakaran TPA tidak hanya menimbulkan bau menyengat, tetapi juga menyebabkan sesak napas dan mata perih, terutama saat melintas di sekitar lokasi.

"Namanya asap ya, sesak. Mata juga perih. Tadi pagi waktu saya lewat ke arah Pasar Jati, asapnya masih tebal. Terasa sekali di mata karena ini asap dari TPA," katanya.

Dedi mengaku, kebakaran di TPA memang kerap terjadi setiap musim kemarau. Namun, kali ini menurutnya skala kebakaran jauh lebih besar karena asap terus keluar membesar.

"Kalau musim kemarau memang sering kebakaran. Tapi ini lumayan parah. Asapnya ke mana-mana," ujarnya.

Dia pun berharap, kebakaran segera padam dan mereda. Sehingga warga sekitar bisa beraktifitas biasa tanpa harus mengungsi.

 

Status Tanggap Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin Ditetapkan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran TPA Jatiwaringin.

"Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran TPA Jatiwaringin melalui Keputusan Bupati Tangerang Nomor 609 Tahun 2026 yang berlaku mulai 1 hingga 14 Juli 2026," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari seperti dikutip, Kamis (2/7/2026).

Dia pun meminta seluruh unsur terkait terus bersinergi untuk mempercepat pengendalian kebakaran.

"Dan meminimalkan dampak terhadap masyarakat maupun lingkungan," jelas Abdul.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran agar mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, terutama saat paparan asap meningkat.

"Warga juga disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, menjaga kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita penyakit pernapasan dari paparan asap, serta mengikuti arahan petugas apabila diperlukan langkah evakuasi maupun penanganan lebih lanjut," kata Abdul.