Momen Dua Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar Sumpah Pemuda di Makassar

Dua siswa Sekolah Rakyat memimpin ikrar Sumpah Pemuda di hadapan ribuan peserta.

oleh Nasrul FaizDiterbitkan 29 Oktober 2026, 11:35 WIB
Siswa Sekolah Rakyat saat memimpin pembacaan ikrar Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar. (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, berlangsung meriah pada Rabu (28/10).

Ribuan peserta yang terdiri dari siswa Sekolah Rakyat, orang tua siswa, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga pilar-pilar sosial memadati tribun. Mereka bersama-sama mengikrarkan Sumpah Pemuda.

Dua siswa Sekolah Rakyat, Linggar Ardiansyah dari SRMA 9 Jakarta dan Muhammad Yusuf dari SRMA 27 Takalar, memimpin pembacaan ikrar. Keduanya secara bergantian membacakan teks Sumpah Pemuda dengan lantang dan penuh percaya diri, diikuti suara ribuan peserta yang menggema di GOR Sudiang.

“Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,” demikian penggalan teks Sumpah Pemuda yang diikrarkan.

Selain membacakan teks Sumpah Pemuda, sejumlah siswa Sekolah Rakyat menampilkan drama teatrikal. Mereka menunjukkan bakat dalam berbagai bidang, mulai dari seni peran, pembacaan puisi, hingga menyanyi.

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan satu tahun program Sekolah Rakyat ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan dari 741 siswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menampilkan beragam kesenian dan keterampilan, mulai dari tarian tradisional khas Aceh, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga pertunjukan karate, pencak silat, pramuka, serta baris-berbaris variasi.

“Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, sekaligus satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Dalam arahannya, Mensos Gus Ipul menerangkan tiga hal penting dalam satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat. Yakni dari mana Sekolah Rakyat berangkat, apa yang sudah dikerjakan bersama, dan perubahan apa yang mulai terlihat dari siswa Sekolah Rakyat.

Gus Ipul menambahkan, Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata pelaksanaan amanat Pasal 31, Pasal 34 ayat (1), dan Pasal 33 UUD 1945. "Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak," ujarnya.

Ia menjelaskan, kehadiran Sekolah Rakyat tidak terlepas dari tiga upaya negara dalam memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar, yakni melalui Perlindungan dan Jaminan Sosial, Rehabilitasi Sosial, serta Pemberdayaan Sosial. Dalam hal ini, Sekolah Rakyat menjadi bagian penting dari proses pendidikan dan rehabilitasi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Karena itu, Bapak Presiden memandatkan tiga hal kepada kami, pertama, Data Akurat, kedua, Sasaran Tepat, dan ketiga, Sekolah Rakyat. Data kami benahi bersama BPS dan pemerintah daerah. Hasilnya, bantuan semakin tepat sasaran, lebih dari empat juta keluarga yang dulu terlewat, kini terjangkau. Inilah yang kami sebut Kerja Cepat Pasal 34,” jelasnya.

 

Progres Sekolah Rakyat

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menghadiri peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa)

Hingga saat ini, Sekolah Rakyat terus berkembang, mencakup pembangunan 100 titik Sekolah Rakyat Permanen, 93 titik di antaranya sudah beroperasi dan 7 titik lainnya dalam proses pembangunan. Saat ini juga terdapat puluhan Sekolah Rakyat Rintisan, sehingga total ada 182 titik yang melayani 44 ribu siswa.

Meski baru berjalan satu tahun, para siswa Sekolah Rakyat telah mencatatkan prestasi gemilang. Di antaranya 11 prestasi internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, serta lebih dari 1.100 siswa berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.

Proses pengasuhan dan pembelajaran di Sekolah Rakyat didukung oleh hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Pendekatan yang diterapkan mencakup tiga perubahan utama, yakni fisik (gizi/kesehatan), mental (kepercayaan diri/karakter), dan akademik.

“Mereka bukan sekedar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” kata Gus Ipul mengapresiasi guru dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat.

Sebagai informasi, turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Ketua Ombudsman RI Nuzran Joher, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan, Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI (Purn) Anton Nugroho, Founder ESQ Corporation Ary Ginanjar Agustian, dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Meutia Farida Hatta Swasono.

Kemudian, hadir Sekretaris Jenderal Kemensos Hasan Chabibie, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih, jajaran Pejabat Tinggi Madya dan Pratama Kemensos, para staf khusus menteri, tenaga ahli menteri sosial, serta pejabat terkait lainnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya