Karhutla Gunung Lawu Belum Padam Total

Karhutla Gunung Lawu mulai terkendali, namun tim gabungan tetap bersiaga karena masih ada satu titik api aktif.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 27 Oktober 2026, 10:41 WIB
Proses pemadaman karhutla di Gunung Lawu. (Dok. Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu mulai terkendali. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyebut saat ini hanya tersisa satu titik api aktif di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Meski demikian, Ahmad Luthfi mengingatkan tim gabungan agar tetap waspada dan bersiaga di pos masing-masing untuk melakukan penyisiran secara menyeluruh.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Bupati dan BPBD. Nanti helikopter BNPB dari Lanud Adi Soemarmo akan diterjunkan satu sorti lagi. Penanganan satu titik api ini sangat krusial agar tidak memicu munculnya titik-titik api baru," ujar Ahmad Luthfi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, menjelaskan bahwa api sempat padam sepenuhnya pada Minggu (25/10/2026). Namun, pemantauan pada Senin pagi menunjukkan munculnya titik api baru di atas kawasan Gondosuli.

Sugiharto mengatakan, kondisi lahan menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman kebakaran di Gunung Lawu.

"Sebagian tanah tertutup lapisan ilalang tebal hingga 30 sentimeter yang menyerupai lahan gambut, sehingga membutuhkan pemadaman ekstra dan penanganan khusus," jelasnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, operasi pemadaman melalui udara (water bombing) telah dilakukan sebanyak 34 kali dengan total air mencapai 68.000 liter, atau 2.000 liter dalam setiap penyiraman. Operasi water bombing lanjutan akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di puncak Gunung Lawu.

 

Instruksi Gubernur

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. (Dok. Istimewa)

Sebagai upaya pencegahan jangka panjang, Ahmad Luthfi menginstruksikan Dinas PUPR Jawa Tengah, Dinas PUPR Karanganyar, dan Perhutani untuk merancang pembangunan tandon atau embung air di kawasan Gunung Lawu. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dengan cepat saat terjadi kebakaran.

Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mencegah karhutla akibat kelalaian manusia, seperti membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, atau menyalakan api di kawasan hutan.

"Keterlibatan masyarakat adalah yang paling utama karena mereka memiliki kearifan lokal untuk menjaga wilayahnya. Untuk penyebab pasti kebakaran saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian," pungkas Luthfi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya