Lowongan Pasukan Oranye Diserbu Sarjana, Ini Kata Pramono

Pramono menyinggung ketatnya kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi persaingan dalam memperoleh pekerjaan.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 15 Oktober 2026, 21:54 WIB
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye (Liputan6.com/Maulandy)  

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut persaingan mencari kerja di Jakarta amat ketat. Hal itu terlihat dari banyaknya pelamar pekerjaan untuk menjadi petugas Pasukan Oranye atau Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Hampir 30 persen di antaranya merupakan lulusan sarjana.

Pramono mengatakan, tingginya jumlah pelamar juga terlihat ketika pemerintah membuka lowongan pekerjaan, baik untuk Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) maupun posisi lainnya. Dalam sehari, jumlah pendaftar disebut bisa menembus lebih dari 100.000 orang.

“Dan itu terlihat dari begitu ada lowongan pekerjaan yang dibuka apakah itu PJLP ataupun apapun, dalam satu hari yang daftar bisa 100.000 lebih. Dalam satu hari,” kata Pramono di acara Jakarta Contributors Award 2026, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan besarnya persaingan mendapatkan pekerjaan di tengah kondisi ekonomi global yang ketat.

Ia menilai, kemudahan akses teknologi juga membuat masyarakat dapat mendaftar pekerjaan secara daring ketika lowongan dibuka.

 

Turunkan Persyaratan Pendidikan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Istimewa)

Pramono berujar bahwa Pemprov DKI Jakarta telah menurunkan persyaratan pendidikan bagi pelamar PPSU. Jika sebelumnya persyaratan pendidikan untuk menjadi petugas Pasukan Oranye adalah lulusan SMA, kini persyaratan tersebut diturunkan menjadi lulusan SD.

“Bahkan untuk Pasukan Oranye sebagai contoh, yang dulu syaratnya SLTA, saya sengaja turunkan syaratnya tinggal SD. Yang daftar adalah hampir 30 persen sarjana,” ujar Pramono.

Dia menilai kondisi tersebut menjadi gambaran betapa sulitnya situasi ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat. Dia pun menyinggung ketatnya kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi persaingan dalam memperoleh pekerjaan.

“Artinya apa? Artinya memang kondisi dunia, ekonomi global sedang tight sekali,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya