Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Komisi III Ahmad Sahroni meminta polisi mengusut tuntas dugaan penyerangan terhadap Koordinator Sospol BEM UI Hafiz Hernanda alias Bapis di Tebet, Jakarta Selatan.
Sahroni menilai tindakan teror dan kekerasan terhadap masyarakat tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Polisi diminta mengungkap pelaku, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik penyerangan tersebut.
Advertisement
“Polisi harus usut tuntas kejadian ini. Bongkar siapa pelakunya, siapa aktor intelektualnya, dan apa motifnya. Harus terang benderang dan dibuka ke publik,” kata Sahroni saat dihubungi, Rabu (7/10/2026).
Terkait dugaan penyerangan terjadi setelah Hafiz mengikuti konsolidasi terkait aksi untuk mengkritik pemerintah, Sahroni meminta polisi lebih dulu mengungkap pelaku dan motifnya.
Menurut dia, polisi perlu memastikan apakah serangan tersebut merupakan tindakan acak atau bagian dari aksi yang terstruktur. Kesimpulan itu, kata Sahroni, harus didasarkan pada temuan penyelidikan.
“Apakah nantinya ini merupakan serangan acak atau terstruktur, biarkan kepolisian yang menyimpulkan berdasarkan temuan,” ujarnya.
Sahroni juga meminta polisi bergerak cepat mengumpulkan seluruh bukti yang dapat mengarah kepada pelaku.
“Polisi harus langsung bertindak cepat, kumpulkan semua bukti yang bisa mengarahkan kepada pelaku,” katanya.
Dia menegaskan proses pengusutan harus dilakukan secara objektif, tegas, dan transparan agar tidak berlarut-larut dan korban mendapat keadilan.
Sahroni menyatakan Komisi III DPR RI mendorong kepolisian segera menuntaskan kasus tersebut. Dia juga menegaskan kekerasan dan teror terhadap masyarakat tidak dapat dibenarkan.
“Kebebasan berpendapat kan sudah jelas dijamin pemerintah,” ujarnya.
Penyerangan Aktivis BEM UI Disebut Janggal, Ini Ciri Pelakunya
Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Hafidz Hernanda, diduga diserang orang tidak dikenal (OTK) pada Minggu (4/10/2026).
BEM UI mengungkap sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tersebut.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI Namora Siahaan mengatakan, pihaknya juga telah mengantongi sejumlah ciri pelaku yang disebut terlibat dalam penyerangan.
Menurut Namora, pelaku memiliki tubuh kekar. Saat beraksi, pelaku disebut mengenakan helm, masker, dan hoodie berwarna hijau.
"Ciri-ciri pelaku, (menggunakan) masker, helm, hoodie hijau, dan berbadan kekar," kata Namora saat dikonfirmasi Liputan6.com, Selasa (6/10/2026).
Namora mengatakan terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal dalam peristiwa tersebut. Salah satunya berkaitan dengan fitur Find My pada ponsel milik Hafidz.
Saat dilakukan pengecekan, fitur tersebut diketahui telah dimatikan pada pukul 23.39 WIB. Menurut Namora, Hafidz tidak mengetahui fitur tersebut dalam kondisi mati.
Hal itu dinilai janggal karena dugaan penyerangan baru terjadi sekitar pukul 23.50 WIB.
Kejanggalan lain, menurut Namora, terlihat dari tindakan pelaku saat kejadian. Setelah menendang sepeda motor Hafidz, pelaku disebut justru memukuli Hafidz.
"Setelah menendang motor Hafidz, pelaku justru memilih untuk memukuli Hafidz. Tidak ada upaya dari pelaku untuk mengambil motor Hafidz," katanya.
Selain itu, Namora menyebut pelaku baru mengambil ponsel Hafidz setelah pertikaian berakhir.
Menurut dia, rangkaian kejadian tersebut membuat BEM UI mempertanyakan apakah peristiwa tersebut semata-mata merupakan aksi pembegalan.
Namora menilai sejumlah kejanggalan itu perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui secara jelas kronologi dan motif di balik dugaan penyerangan terhadap Hafidz.