Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan, kapal induk pertama Indonesia, KRI Sriwijaya-100 tak hanya sekedar untuk memperkuat pertahanan nasional.
Dia menuturkan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan KRI Sriwijaya-100 dimodifikasi sehingga mampu mendukung pengoperasian helikopter dan drone untuk penanggulangan bencana.
Advertisement
"Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan," kata Qodari, Rabu (30/9/2026).
Dia menyampaikan, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas dan kondisi geografis yang beragam. Sehingga, diperlukam kemampuan untuk bergerak cepat dan menjangkau berbagai wilayah merupakan kebutuhan strategis.
Untuk itu, penguatan KRI Sriwijaya-100 memiliki makna yang lebih besar dari sekadar modernisasi alutsista.
"Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang semakin kuat, mandiri, tangguh, dan siap melindungi rakyat dalam setiap keadaan," ucap Qodari.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi berbagai risiko bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga berbagai keadaan darurat lainnya.
Qodari menjelaskan, KRI Sriwijaya-101 diharapkan dapat membantu menyalurkan bantuan saat terjadi bencana.
"Dalam situasi seperti itu, tantangannya bukan hanya menyediakan bantuan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana bantuan, personel, dan kebutuhan pokok dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama ketika jalan, jembatan, pelabuhan, atau fasilitas lainnya mengalami gangguan. Di sinilah KRI Sriwijaya-100 dapat memberikan manfaat nyata," jelas dia.
Memperkuat Negara
Dengan kemampuannya mendukung pergerakan helikopter serta membawa dan menyalurkan berbagai kebutuhan, KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat maupun jalur lainnya.
Hal ini sejalan dengan tugas pertahanan Indonesia yang tidak hanya berkaitan dengan menghadapi ancaman militer, tetapi juga lebih digunakan untuk operasi militer selain perang, termasuk penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
"Dengan demikian, kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berbicara mengenai bertambahnya kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal ini juga dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat dan membantu masyarakat ketika mereka membutuhkan," tutup Qodari.