Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 265 gempa bumi susulan tercatat setelah gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan data tersebut merupakan pembaruan hingga pukul 15.00 WITA.
Advertisement
"Update gempa bumi susulan hingga 15 Agustus 2026 pukul 15.00 WITA, total gempa bumi susulan sebanyak 265 kejadian," ujarnya.
Dari 265 gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar mencapai 6,2 dan terkecil 2,5. Sebanyak 10 gempa susulan tercatat berkekuatan di atas M 5, sementara 22 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Arief mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG.
Update Korban Gempa NTT
Tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian dan pertolongan di sejumlah wilayah terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT.
Gempa M 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA, dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Hingga saat ini, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 79 orang terdampak gempa. Berdasarkan pendataan sementara, 38 orang meninggal dunia, 40 orang mengalami luka-luka, dan satu orang masih dilaporkan tertimbun.
Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman mengatakan seluruh personel dan sarana yang dimiliki dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian dan pertolongan di wilayah terdampak.
"Kantor SAR Maumere mengerahkan seluruh personel ke wilayah yang menjadi pusat gempa di Nagekeo. Kami juga menggerakkan KN SAR Puntadewa untuk mengoptimalkan operasi SAR. Bersama potensi SAR di seluruh Flores, kami berupaya melakukan penyelamatan dengan cepat, tepat, dan aman," ujar Fathur.
Fathur mengatakan pendataan korban masih berlangsung dan dikoordinasikan dengan BPBD setempat. Sementara itu, Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dan pertolongan terhadap warga yang membutuhkan bantuan.
Sebanyak 281 personel dikerahkan dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari unsur TNI, KSOP, Polri, BPBD, PMI, pemerintah daerah, serta potensi SAR lainnya.
Para personel ditempatkan di sejumlah titik terdampak untuk mempercepat pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban.
Operasi SAR masih berlangsung. Tim SAR gabungan memprioritaskan pencarian korban yang masih tertimbun serta evakuasi masyarakat terdampak ke lokasi aman.