AHY Ingin Bawa Model Pembangunan Jakarta ke Daerah Lain

AHY memuji kepemimpinan Pramono Anung dan menyebut Jakarta bisa jadi contoh. Best practice Jakarta akan ia bawa ke provinsi lain dengan izin gubernur.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 11 Agustus 2026, 17:40 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menghadiri Jakarta Asset Forum and Expo (JAFEX) 2026 di St Regis Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026) (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - AHY menilai Jakarta di bawah Gubernur Pramono Anung layak dijadikan rujukan pembangunan kota besar. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu menyebut akan membawa praktik terbaik yang lahir di ibu kota ke provinsi lain, dengan terlebih dulu meminta izin kepada Pramono.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus Harimurti Yudhoyono saat menghadiri Jakarta Asset Forum and Expo (JAFEX) 2026 di St Regis Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026). Ia menempatkan Jakarta sebagai contoh yang relevan untuk menjawab kebutuhan kota-kota besar, mulai dari penguatan infrastruktur hingga konektivitas dan keberlanjutan lingkungan.

Menurut AHY, tantangan pemerintah hari ini bukan menghentikan urbanisasi, melainkan memastikan kota-kota memiliki standar pelayanan, sumber daya, dan sistem logistik yang sanggup menopang lonjakan penduduk. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan dan manajemen dalam mewujudkannya.

Best Practice Jakarta Akan Diadopsi ke Daerah

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menghadiri Jakarta Asset Forum and Expo (JAFEX) 2026 di St Regis Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026) (Liputan6.com/Winda Nelfira)

AHY mengungkap rencananya menyalurkan pengalaman dan pola pengelolaan aset serta pembangunan Jakarta kepada kepala daerah lain. Ia menegaskan langkah itu dilakukan setelah mendapat restu Gubernur DKI Jakarta.

“Saya punya kepentingan untuk membawa best practice di Jakarta ini, ke provinsi-provinsi lain kalau diizinkan oleh Pak Gubernur, karena selalu kita memberikan atau menghadirkan sebuah contoh, case study yang baik dari Jakarta ketika bertemu dengan berbagai kepala daerah lainnya,” kata AHY.

Ia menilai praktik-praktik yang terbukti efektif di Jakarta dapat menjadi materi pembelajaran yang konkret bagi daerah, terutama untuk tata kelola aset dan proyek strategis. Pendekatan ini diharapkan memudahkan transfer pengalaman tanpa perlu memulai dari nol.

Dalam forum tersebut, AHY menempatkan Jakarta sebagai etalase kebijakan yang bisa direplikasi dengan menyesuaikan konteks lokal masing-masing daerah, agar manfaatnya langsung terasa bagi warga.

Urbanisasi 70 Persen dan Tuntutan Kepemimpinan

AHY juga menyinggung tren urbanisasi yang kian menguat dan menempatkan kota besar sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial di masa depan. Ia menyebut proporsi penduduk perkotaan bakal terus meningkat.

“Saya yakin semua yang ada di ruangan ini menyadari bahwa Indonesia sebagai negara yang besar populasinya dan mengikuti tren dunia bahwa semakin hari menuju ke 70 persen penduduk akan hidup, bekerja, membangun usaha, dan keluarga di kota-kota besar,” jelas AHY.

Dalam kerangka itu, fokus pemerintah, menurut AHY, adalah memastikan kesiapan standar layanan perkotaan, pasokan sumber daya, dan dukungan logistik yang memadai alih-alih mengerem arus urbanisasi.

“Pertanyaannya, bukan bagaimana kita memitigasi atau menghentikan laju urbanisasi, tapi apakah kita sudah bisa menyiapkan kota-kota kita untuk memiliki standar yang dibutuhkan, memiliki sumber daya atau sumber logistik yang bisa mendukung penduduk dalam jumlah yang semakin besar tersebut,” katanya.

Ia menekankan peran kepemimpinan dan tata kelola yang kuat untuk menjawab tuntutan tersebut, seraya menilai Jakarta memenuhi prasyarat itu di bawah Pramono.

“Dan ini perlu leadership, perlu manajemen, dan saya yakin di bawah kepemimpinan Bapak Gubernur, Jakarta bukan hanya siap, tapi bisa menjadi model yang ideal bagi kota-kota besar di tempat lainnya,” ucap AHY.

Konektivitas, Transportasi Publik, dan Keberlanjutan

AHY menyoroti konektivitas sebagai prasyarat utama daya saing kota global. Ia menunjuk layanan transportasi publik seperti Transjakarta dan LRT Jakarta sebagai bukti pengelolaan aset publik yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

“Dan kita harus memastikan jika Jakarta ingin menjadi kota yang semakin global tadi, semakin punya daya saing, maka selain isu lingkungan, konektivitas juga harus kita perkuat,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan kota tidak semata mengejar laju ekonomi. Keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan agar manfaatnya merata.

“Prosperity dan sustainability harus diperjuangkan dalam satu tarikan napas yang sama,” ujar AHY.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya