Kebakaran TPS Liar Tewaskan Petugas, Legislator Jakarta Minta Evaluasi Menyeluruh

Sampah yang dibiarkan menumpuk di TPS liar bukan hanya mengotori kota, tetapi dapat berubah menjadi ancaman yang merenggut nyawa.

oleh Jonathan Pandapotan PurbaDiterbitkan 04 Agustus 2026, 19:00 WIB
Kebakaran tumpukan sampah di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboebakar Alhabsyi, bersuara ihwal kebakaran tumpukan sampah yang menelan korban jiwa dari unsur petugas pemadam kebakaran. Dia menegaskan, hal itu menjadi peringatan keras bahwa persoalan sampah di Jakarta tidak lagi sekadar isu kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan keselamatan publik.

"Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas gugurnya petugas pemadam yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan, sekaligus mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Jakarta," kata Nabilah, Selasa (4/8/2026).

Nabilah menyebut, keberadaan TPS liar yang terus bermunculan menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan belum optimalnya sistem pengelolaan sampah di tingkat wilayah. Kondisi tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran, gangguan kesehatan, hingga mengancam keselamatan petugas dan masyarakat.

"Peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi serius. Sampah yang dibiarkan menumpuk di TPS liar bukan hanya mengotori kota, tetapi dapat berubah menjadi ancaman yang merenggut nyawa," tegas Nabilah.

Nabilah menilai penanganan TPS liar tidak cukup dilakukan melalui pembersihan sesaat. Pemerintah Provinsi Jakarta perlu memperkuat regulasi, memperjelas mekanisme penindakan, serta meningkatkan pengawasan terhadap lokasi-lokasi yang berulang kali menjadi tempat pembuangan sampah ilegal.

Ia juga mendorong agar setiap kecamatan memiliki sistem deteksi dan penanganan cepat terhadap potensi munculnya TPS liar, disertai edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membuang dan memilah sampah pada tempat yang telah disediakan.

"Penanganan sampah harus dimulai dari hulu, diperkuat di tingkat wilayah, dan diiringi penegakan aturan yang konsisten," jelas Nabilah.

Selain itu, Nabilah meminta perhatian terhadap aspek keselamatan kerja petugas pemadam kebakaran dan petugas kebersihan yang berada di garis depan penanganan kondisi darurat. Sebab, mereka harus didukung dengan perlengkapan, standar operasional, dan mitigasi risiko yang memadai.

"Jangan sampai pengorbanan para petugas hanya kita kenang sebagai musibah. Kehadiran negara harus terlihat melalui penguatan regulasi, pengawasan yang lebih tegas, dan sistem pengelolaan sampah yang benar-benar mampu melindungi masyarakat maupun para petugas di lapangan," ungkapnya.

Nabilah meyakini, Jakarta tidak bisa mewujudkan cita-cita sebagai kota global apabila persoalan mendasar seperti TPS liar dan tata kelola sampah masih terus menimbulkan korban.

"Keselamatan warga harus menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan lingkungan, bukan sekadar berkurangnya volume sampah yang diangkut," tutup politis PKS tersebut.

 

 

 

Kronologi Petugas Damkar Meninggal saat Padamkan Kebakaran di Kramat Jati

Petugas damkar DKI Jakarta meninggal dunia. (Foto Dokumentasi humasjakfire).

Anggota Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur meninggal dunia saat bertugas memadamkan kebakaran tumpukan sampah di Jalan Penggilingan Baru, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara mengatakan, petugas tersebut bertugas mencari sumber air untuk mendukung operasi pemadaman. Saat menyambungkan selang, korban tiba-tiba mengeluhkan nyeri dada.

"Almarhum bertugas mencari sumber air sebagai bagian dari dukungan operasi dan tidak berada pada posisi penyerangan atau pemadaman api secara langsung. Saat melakukan penyambungan selang, almarhum tiba-tiba mengeluhkan nyeri dada," kata Bayu dalam keterangannya, dikutip Minggu (2/8/2026).

Korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Setibanya di rumah sakit, tim medis sempat melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.30 WIB.

Bayu menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Peristiwa itu bermula saat Dinas Gulkarmat menerima laporan kebakaran tumpukan sampah pada pukul 07.02 WIB. Sebanyak 10 unit mobil pemadam dan 50 personel dikerahkan ke lokasi, dengan operasi pemadaman dimulai pukul 07.11 WIB.

Api berhasil dilokalisasi pada pukul 11.35 WIB, kemudian dilanjutkan proses pendinginan sejak pukul 13.15 WIB.

Menurut Bayu, proses pemadaman sempat terkendala karena tumpukan puing di permukaan menutupi sampah di lapisan bawah. Kondisi tersebut memicu ground fire atau titik api bawah tanah yang terus mengeluarkan asap pekat.

Hingga Minggu siang, petugas Gulkarmat bersama Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) masih melakukan pendinginan dan mengurai material sampah untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam.

Atas peristiwa itu, Bayu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga memastikan seluruh hak almarhum akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

"Dinas Gulkarmat Provinsi DKI Jakarta menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum serta akan memastikan pemenuhan hak-hak almarhum sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya