PDIP Minta Anak Muda Tak Sekadar Jadi Penonton

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mendorong generasi muda menjadi pelopor ide dan gagasan untuk perubahan besar.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 28 Juli 2026, 12:58 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPP PDIP MY Esti Wijayati di Sekolah Partai, Jakarta. (Foto: Liputan6.com/Ady Anugrahadi).

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan perubahan besar dalam sejarah dunia selalu berawal dari keberanian anak muda melahirkan ide, gagasan, dan imajinasi.

Karena itu, generasi muda diminta tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pelopor lahirnya kepemimpinan intelektual menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan itu disampaikannya saat peluncuran wadah intelektual progresif Public Pulse 28 di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026). Ini sekaligus rangkaian menyambut peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028.

 

"Di Sekolah Partai ini seluruh ide dan gagasan, suatu imajinasi tentang masa depan dibuka seluas-luasnya dengan mengambil spirit para pendiri bangsa, mulai dari Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir hingga Tan Malaka," kata Hasto.

Menurut dia, sejarah menunjukkan perubahan besar selalu lahir dari keberanian anak muda. Ia mencontohkan Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada usia 26 tahun hingga menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

Begitu pula W.R. Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia muda di tengah penjajahan.

"Bagaimana menghancurkan kekuatan kolonialisme yang saat itu terbesar di dunia? Itu dimulai dengan ide dan imajinasi anak muda," ujarnya.

Hasto juga mengaitkan semangat Sumpah Pemuda dengan “Sumpah Rakyat” yang lahir saat peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan dan pembelaan terhadap demokrasi.

Menurutnya, Public Pulse 28 harus menjadi ruang lahirnya kepemimpinan intelektual baru yang mampu menawarkan solusi atas persoalan masyarakat, bukan sekadar forum diskusi.

Ia bahkan mengusulkan agar gerakan tersebut berkembang menjadi Millennium Public Pulse 28 yang memiliki visi jangka panjang, tetapi tetap berpijak pada persoalan riil masyarakat.

Karena itu, peserta didorong tidak hanya berdiskusi di dalam ruangan, melainkan juga turun langsung menemui masyarakat, pelaku UMKM, pedagang pasar, budayawan, hingga anak muda di ruang-ruang publik untuk menangkap berbagai keresahan yang mereka hadapi.

 

Dirintis Sejak Lama

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga MY Esti Wijayati mengatakan Public Pulse 28 sebenarnya telah dirintis sejak 2024 dan kini resmi dijadwalkan berlangsung setiap tanggal 28 hingga puncak peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028.

Menurut Esti, Sekolah Partai dibuka sebagai ruang aman bagi anak muda untuk berdialog, menyampaikan kritik, sekaligus memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan.

“Di ruang inilah anak muda diberikan ruang untuk berdialog, memberikan masukan, mengkritik jika memang ada kebijakan yang kurang tepat. Ini menjadi ruang aspirasi dan ruang berekspresi,” ujarnya.

Berbeda dengan forum diskusi pada umumnya, peserta tidak hanya mendengarkan paparan narasumber. Sebanyak 30 mahasiswa diminta menuliskan pulse atau denyut gagasan serta keresahan mereka mengenai masa depan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Tulisan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama Co-Founder What is Up Indonesia (WIUI) Abigail Limuria dan ekonom INDEF Berly Martawardaya.

Moderator Muhammad Syaeful Mujab mengatakan, Public Pulse 28 diharapkan menjadi ruang untuk menangkap denyut aspirasi anak muda dari berbagai daerah menjelang satu abad Sumpah Pemuda.

“Dua tahun lagi kita akan memperingati satu abad Sumpah Pemuda. Momentum itu harus diisi dengan mendengarkan denyut rasa, ide, dan keresahan anak muda Indonesia,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya