Momen Megawati Terpaku Lihat Lukisan Masa Kecil Bersama Bung Karno

Megawati meninjau pameran “Mata Hati Soekarno” di Yogyakarta yang menampilkan karya seni tentang perjalanan hidup, pemikiran, dan sisi personal Bung Karno.

oleh Putu Merta Surya PutraDiterbitkan 06 Juni 2026, 17:42 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyusuri ruang pameran seni rupa bertajuk 'Mata Hati Soekarno; di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Tim Media DPP PDIP).

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyusuri ruang pameran seni rupa bertajuk 'Mata Hati Soekarno; di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Didampingi Permaisuri Karaton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, pemrakarsa pameran, Butet Kartaredjasa, serta tim kurator, Megawati berjalan perlahan mengitari galeri untuk meninjau satu demi satu karya seni yang terpajang di dinding.

Karya pertama yang membuat Megawati terpaku dan tersenyum penuh nostalgia adalah sebuah lukisan bersejarah berjudul "Ku Antar ke Seberang" karya perupa Agus Noor.

Lukisan tersebut menangkap momen hangat masa kecil Megawati saat masih berusia tiga tahun, duduk manis di boncengan sepeda yang tengah dikayuh oleh sang ayah, Bung Karno.

Tatapan mata Megawati tampak berkaca-kaca memandangi representasi visual kebersamaannya dengan Sang Proklamator di masa lampau.

Karena Megawati terlihat begitu menikmati lukisan masa kecilnya tersebut, Butet Kartaredjasa langsung memanggil sang seniman, Agus Noor, untuk maju dan menemui Megawati secara langsung di depan karyanya. Megawati mengajak Agus Noor berbincang sejenak.

"Ide lukisan itu, Bung Karno oleh sejarah disebut yang mengantar Bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Apakah hari ini hanya sampai gerbang saja, bagaimana membawa ke seberang setelah kemerdekan," kata Agus Noor.

Ditambahkannya, sepeda itu lambang kendaraan rakyat yang dikayuh.

 

Karya Lainnya

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyusuri ruang pameran seni rupa bertajuk 'Mata Hati Soekarno; di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Tim Media DPP PDIP).

Setelah berbincang hangat, Megawati melanjutkan langkahnya lebih dalam ke ruang galeri. Ia kemudian mengamati sebuah karya kontemporer sarat kritik sejarah yang bertajuk "Supermemar".

Karya ini merupakan sebuah plesetan visual dari dokumen historis Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) tahun 1966.

Melalui lukisan ini, sang perupa mencoba menghadirkan autokritik sejarah atas mandat pemulihan keamanan pasca-peristiwa G30S/PKI, yang pada akhirnya memicu pelengseran kekuasaan Bung Karno dan menyisakan "memar" mendalam bagi sejarah demokrasi Indonesia.

Megawati juga sempat melirik sejenak ke lukisan mata uang rupiah dengan nominal 100 ribu.

Pelukis Melodia mengatakan dirinya terinspirasi mengambil kata Mencapai Indonesia Merdeka yang ditaruh di dalam uang dengan nilai tertinggi tersebut. "Itu saya ambil dari goresan tangan Bung Karno tahun 1933. Bung Karno visioner mendambakan kemerdekaan Indonesia dan dikaitkan dengan situasi saat ini," ucap Melodia.

Sebelum mengakhiri turnya, Megawati juga memberikan perhatian mendalam pada lukisan karya Josua Tobing yang berjudul "Restu".

Lukisan ini menangkap momen sakral saat Bung Karno bersimpuh takzim memohon doa di hadapan ibunda tercinta, Ida Ayu Nyoman Rai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya