Tiang-Tiang Miring di Jalanan Jakarta yang Mengancam Keselamatan

Bukan hanya tiangnya yang tak lagi berdiri tegas, di pucuk tiang juga penuh lilitan kabel membentuk simpul hitam.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 14 Mei 2026, 15:25 WIB
Tiang-Tiang Miring di Jalanan Jakarta (Foto: Ady Anugrahadi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Matahari baru naik ketika perjalanan dimulai dari arah Depok menuju Jakarta. Jalanan masih longgar saat melewati Lenteng Agung. Namun ritme kota berubah pelan-pelan begitu masuk Pasar Minggu.

Di Jalan Raya Pasar Minggu, jalur pedestrian tampak tak benar-benar steril. Di sepanjang bentangan jalur pejalan kaki itu, tiang-tiang utilitas berdiri rapat, menyatu dengan jalur pedestrian. Sebagian tegak. Sebagian lain miring tipis. Kabel internet menggantung semrawut di pucuk tiang. Menumpuk seperti simpul hitam yang tak pernah selesai diurai.

Laju kendaraan melambat di kawasan Mampang. Sebuah tiang besi tampak condong di tepi trotoar. Kabel hitam menggumpal di atasnya, melilit ke tiang lain dan menjuntai tanpa bentuk jelas.

Trotoar di bawahnya sebenarnya telah dilengkapi guiding block kuning untuk penyandang tunanetra. Namun, jalur itu terpotong tiang yang berdiri tepat di tengah lintasan pejalan kaki. Orang yang berpapasan harus sedikit turun ke bibir jalan untuk melewatinya.

Siang bergerak lebih panas ketika tiba di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Aspal memantulkan cahaya putih yang menyilaukan. Sebuah tiang penerangan jalan umum berdiri condong ke kiri di tepi jalan. Cat abu-abunya mulai kusam.

Pemandangan serupa muncul lagi di Palmerah Utara, Gelora, Tanah Abang. Sebuah tiang besi tampak miring tajam ke arah badan jalan, seolah tak lagi mampu menahan berat kabel yang menumpuk di atasnya. Motor berseliweran cepat di bawah kabel-kabel yang menggantung kusut.

 

Jangan Sampai Ada Korban Baru Dilakukan Perbaikan

Tiang-Tiang Miring di Jalanan Jakarta (Foto: Ady Anugrahadi/Liputan6.com)

Tak jauh dari sana, seorang perempuan bernama Nia berdiri menunggu angkutan umum. Wajahnya datar ketika memandang tiang miring yang setiap hari ia lewati. “Sudah lama begitu,” katanya.

Menurut Nia, kemiringan tiang itu makin terlihat jelas, tetapi belum pernah diperbaiki. Ia heran karena tiang tersebut tetap dibiarkan berdiri di tengah lalu lintas yang padat.

"Kalau dibilang membahayakan, tentu berbahaya. Apalagi kalau ada angin kencang. Khawatirnya kena orang,” kata dia saat ditemui, Kamis (14/5/2026).

Namun setelah itu, Nia kembali memandang arus kendaraan yang terus bergerak di bawah kabel-kabel kusut.

Di tengah jalan yang tak pernah benar-benar sepi, ia hanya berharap tiang itu tidak sampai memakan korban.

"Jangan sampai ada korban baru diperbaiki," ujar dia.

Kondisi yang lebih parah terlihat di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Di jalur pedestrian yang lebar dan rapi, sebuah tiang utilitas miring tajam.

Guiding block kuning tetap membentang lurus menuju titik tempat tiang itu berdiri. Jalur pejalan kaki menyempit di salah satu sisi.

Di dekat situ, Adit duduk di atas sepeda motor yang sekaligus menjadi lapak dagangannya. Ia beberapa kali melihat pejalan kaki hampir menabrak besi yang condong itu.

"Kadang-kadang orang enggak melihat, suka kejedot,” ujar dia saat ditemui.

Adit sudah berjualan di sekitar lokasi sejak sebelum pandemi Covid-19. Menurut dia, posisi tiang itu sudah miring sejak sekitar 2020. Kabel-kabel hitam menggantung kusut di atas kepala, sementara badan tiang berdiri terlalu dekat dengan arus pejalan kaki.

Pada siang hari, posisi tiang terlihat jelas memotong jalur pedestrian. Guiding block kuning untuk penyandang tunanetra tetap membentang lurus hingga berhenti tepat di titik tempat tiang berdiri. Orang yang melintas harus sedikit bergeser ke sisi trotoar.

Kawasan itu biasanya ramai, terutama pada pagi dan malam hari ketika warga berjalan kaki atau berolahraga menuju Lapangan Banteng. Dalam kondisi gelap, menurut Adit, risiko menjadi lebih besar.

“Orang lagi olahraga waktu malam. Kadang-kadang enggak kelihatan," ujar dia.

Ia mengaku pernah melihat orang menabrak bagian tiang yang menonjol ke jalur pejalan kaki. Anak-anak juga kerap memanfaatkan besi yang miring itu untuk bermain dan memanjat.

“Kadang-kadang juga dimainin anak-anak buat panjat-panjat,” ujar Adit.

 

Bahaya yang Mengancam

Posisi tiang yang terus condong membuat warga sekitar khawatir. Kabel yang menggantung semrawut tampak menambah beban pada besi yang sudah miring tajam ke arah trotoar.

“Bahaya banget. Takutnya entar rubuh.”

Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda perbaikan. Tiang tetap berdiri di tempat yang sama, membelah jalur pedestrian yang setiap hari dilalui warga.

Adit berharap kerusakan itu tidak dibiarkan sampai menimbulkan korban. “Takutnya pas ada korban baru dipindahin,” katanya.

Terkait kondisi ini, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Budi Awaluddin belum memberikan respons.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya