Cerita Warga di Balik Insiden Prajurit TNI Ngamuk di Warung Rokok Kemayoran

Berdasarkan cerita warga, keributan TNI dengan penjaga warung di Kemayoran dipicu perbedaan pendapat soal biaya tambahan Rp1.000.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 06 Mei 2026, 18:00 WIB
Penampakan sebuah warung di Kemayoran, Jakarta. Di mana sempat viral dengan aksi keributan prajurit TNI. (Foto: Liputan6.com/Rifqy Alief Abiyya).

Liputan6.com, Jakarta - Warung bernama Toko Adi Jaya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat masih tertutup beberapa hari setelah insiden viral yang melibatkan prajurit TNI.

Salah satu warga bercerita, insiden ini bermula dari oknum anggota TNI yang ingin membeli rokok di warung tersebut menggunakak sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Penjaga warung mengatakan kepada anggota TNI bahwa dikenakan admin Rp1.000 jika pembayaran menggunakan QRIS. Namun, anggota TNI tersebut enggan membayarnya, bahkan memprotes dan menuduh penjaga warung korupsi.

"Beli rokok, cuman mau bayar pakai QRIS. Tapi kata si tukang penjaganya kena admin 1.000. Nah terus kata si petugasnya (anggota TNI), 'Kok bisa sih dikenain admin 1.000? Saya setiap belanja nggak pernah ada admin loh kalau pakai QRIS', gitu kan," jelas salah satu warga di Kemayoran kepada Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

"Terus si TNI ini ngomong 'berarti situ korupsi dong', gitu. 'Ya saya mah bukan korupsi, kalau saya kan cuma kerja'," sambungnya.

Dia menambahkan, penjaga tersebut membalas bahwa dirinya hanya diperintah oleh bos atau warung tersebut untuk melakukan pekerjaan sesuai ketentuannya.

Diketahui, penjaga warung memberikan opsi kepada anggota TNI tersebut supaya bayar menggunakan uang cash. Hingga akhirnya cekcok antara penjaga warung dan anggota TNI tak bisa dihindarkan.

Selain itu, warga tersebut menerangkan cekcok ini berlanjut kepada pemukulan kepada penjaga warung perempuan. Anggota TNI tersebut juga mengambil tabung gas elpiji 3 kg dan menghantamkannya berkali-kali ke etalase warung.

Terkait soal ada anggota TNI itu terluka akibat tusukan, dia tak mendengar jelasnya. "Ya mungkin di situ kali pas lagi refleks aja dia ditojokin terus, dipukulin terus, enggak sengajalah kena sabet gitu," jelasnya.

Dia menyebut, saat insiden itu penjaga warung juga sedang membereskan dagangannya, memasukan sejumlah minuman ke dalam freezer. Setelah itu, anggota TNI yang terluka tadi menelpon beberapa temannya. Tak lama, datang sejumlah temannya ke area warung tersebut.

Kedatangan anggota lain tidak langsung menyerang warung, melainkan standby menunggu penjaga warung keluar. Kondisi ini seakan-akan membuat situasi sudah kondusif dan tenang.

"Karena ya si TNI ini juga kan udah agak menjauh dari warung Madura, Mas," ucapnya.

"Nah dia berarti kan udah adem tuh. Dia cuma nunggu kapan dia keluar. Ditungguin sampai dia keluar. Nah pas bilang 'itu orangnya keluar, itu orangnya keluar', baru datang rame. Baru yang ngerusuh itu," sambung dia.

 

Warga Tak Berani Melerai

Penampakan sebuah warung di Kemayoran, Jakarta. Di mana sempat viral dengan aksi keributan prajurit TNI. (Foto: Liputan6.com/Rifqy Alief Abiyya).

Lebih lanjut, dia mengatakan sejumlah warga juga tak berani melerai, apalagi berurusan dengan aparat. Menurutnya, warga tak ingin ambil risiko lebih untuk menghadapi seorang aparat.

"Iya sebenarnya 'aduh itu TNI', gitu. Jadi pada enggak berani ambil risiko lah istilahnya. Kalau udah main sama aparat lebih baik menghindar gitu emang. Orang-orang itu udah pada tahu kalau misalkan 'wah itu kan orang aparat gitu', jadi pada enggak mau bantuin," ucapnya.

Sementara, pedagang lainnya yang berada di sekitar tersebut, merasa terkejut atas insiden yang terjadi beberapa hari lalu.

Selama dua tahun berdagang di area tersebut, peristiwa ini jadi pertama kali ia lihat. Dia juga mengatakan sejauh ini belum ada aparat yang mengganggu para pedagang.

"Kalau selama ini resek sih enggak ada ya, rnggak ada, ini gue juga kaget baru ini," katanya kepada Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

"Cuma kalau ini sih, kalau ketegangan enggak juga, baru tahu ini. Karena kan ini gue di sini dua tahun juga baru lihat ini doang," sambungnya.

Penjelasan Pihak TNI

Ilustrasi TNI.

Sebelumnya, viral video seorang pria mengamuk dan mengacak-acak warung di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui, pria menggunakan helm putih itu adalah anggota TNI bernama Sertu AW.

Kadispenad Brigadir Jenderal TNI Donny Pramono buka suara setelah video itu ramai tersebar.

"Memang benar telah terjadi insiden keributan antara seorang prajurit TNI AD dengan warga sipil di lokasi tersebut," katanya dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

Menurut Kadispenad, kejadian itu bermula dari kesalahpahaman antara anggota TNI dan ibu-ibu yang menjaga warung.

Setelah terjadi cekcok, anggota TNI itu mengambil tabung elpiji 3 kg dan menghantamkannya berkali-kali ke etalase warung. Ujung dari percekcokan tersebut, anggota TNI dikabarkan terkena tusukan.

"Dalam peristiwa itu, justru prajurit TNI AD mengalami luka akibat penusukan oleh pemilik warung dan saat ini yang bersangkutan sedang mendapatkan penanganan medis di RS Hermina Kemayoran," katanya.

Kadispenad mengimbau warga tidak mudah percaya pada potongan video yang beredar. Namun dia pastikan, prajurit TNI AD yang terlibat pelanggaran akan mendapat hukuman.

"TNI AD memastikan bahwa setiap prajurit yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku apabila terbukti melakukan pelanggaran," katanya.

Situasi Sudah Kondusif

Menurutnya, peristiwa itu sudah selesai dan saat ini situasi di lokasi sudah kondusif. Untuk kasus hukum, ditangani Polres Jakarta Pusat.

"Seluruh peristiwa ini saat ini telah ditangani oleh Polres Jakarta Pusat dan juga didalami oleh pihak terkait untuk memastikan fakta secara utuh. Saat ini situasi di lapangan sudah aman dan kondusif, serta kami juga terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian agar penanganan berjalan dengan baik," ujarnya.

Informasi dihimpun, peristiwa itu yang terjadi Minggu sore itu bermula saat anggota TNI membeli rokok. Saat akan membayar, dia menggunakan QRIS karena tidak membawa uang tunai. Penjaga toko menjelaskan menggunakan QRIS bayar Rp 1.000. Anggota tersebut mempertanyakan kenapa ada biaya tambahan. Hal itu berujung cekcok.

Kemudian, dalam video yang beredar terdengar ucapan wanita yang menyebut agak tidak membawa-bawa profesi dan melakukan pengancaman. Hingga akhirnya anggota TNI itu memukul wanita penjaga toko.

Suasana makin panas. Meski berusaha dilerai, anggota TNI itu lebih beringas. Dia menghantamkan tabung gas elpiji 3 kg ke etalase warung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya