Liputan6.com, Jakarta - Sebuah insiden yang melibatkan prajurit TNI di sebuah warung kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, viral di sosial media. Peristiwa tersebut diketahui berawal dari prajurit bernama Sertu AW yang hendak berbelanja rokok di warung tersebut.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com, Rabu (6/5/2026), hingga pukul 14.30 WIB atau tiga hari setelah peristiwa tersebut kondisi warung masih tertutup rapat.
Advertisement
Pintu rolling door juga tampak terkunci dari luar. Pada bagian depan toko juga terlihat sejumlah barang ditutup dengan terpal warna biru.
Di lokasi juga tampak beberapa peralatan seperti etalase dan kunci tampak berantakan. Bahkan, bagian kaca pada etalase tersebut pecah dengan serpihan kaca masih berserakan di sekitar area toko.
Selain itu, bagian lantai teras terlihat kotor dan terdapat kantong plastik sampah hitam besar di teras toko.
Namun, masih terpampang jelas banner toko tersebut bernama Toko Adi Jaya.
Sementara, salah satu warga bercerita, insiden ini bermula dari oknum anggota TNI yang ingin membeli rokok di warung tersebut menggunakak sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Penjaga warung mengatakan kepada anggota TNI bahwa dikenakan admin Rp1.000 jika pembayaran menggunakan QRIS. Namun, anggota TNI tersebut enggan membayarnya, bahkan memprotes dan menuduh penjaga warung korupsi.
"Beli rokok, cuman mau bayar pakai QRIS. Tapi kata si tukang penjaganya kena admin 1.000. Nah terus kata si petugasnya (anggota TNI), 'Kok bisa sih dikenain admin 1.000? Saya setiap belanja nggak pernah ada admin loh kalau pakai QRIS', gitu kan," jelas salah satu warga kepada Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).
"Terus si TNI ini ngomong 'Berarti situ korupsi dong', gitu. 'Ya saya mah bukan korupsi, kalau saya kan cuma kerja'," sambungnya.
Penjelasan TNI
Sebelumnya, viral video seorang pria mengamuk dan mengacak-acak warung di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui, pria menggunakan helm putih itu adalah anggota TNI bernama Sertu AW.
Kadispenad Brigadir Jenderal TNI Donny Pramono buka suara setelah video itu ramai tersebar.
"Memang benar telah terjadi insiden keributan antara seorang prajurit TNI AD dengan warga sipil di lokasi tersebut," katanya dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).
Menurut Kadispenad, kejadian itu bermula dari kesalahpahaman antara anggota TNI dan ibu-ibu yang menjaga warung.
Setelah terjadi cekcok, anggota TNI itu mengambil tabung elpiji 3 kg dan menghantamkannya berkali-kali ke etalase warung. Ujung dari percekcokan tersebut, anggota TNI dikabarkan terkena tusukan.
"Dalam peristiwa itu, justru prajurit TNI AD mengalami luka akibat penusukan oleh pemilik warung dan saat ini yang bersangkutan sedang mendapatkan penanganan medis di RS Hermina Kemayoran," katanya.
Kadispenad mengimbau warga tidak mudah percaya pada potongan video yang beredar. Namun dia pastikan, prajurit TNI AD yang terlibat pelanggaran akan mendapat hukuman.
"TNI AD memastikan bahwa setiap prajurit yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku apabila terbukti melakukan pelanggaran," katanya.