Berita Terpopuler
- PBB: Pembakaran Alquran Tidak Dapat Dimaafkan
- Sammy "Kerispatih" Jalani Rehabilitasi Lima Bulan
- Jalur Mudik Selatan Terendam Banjir
- Anggota DPR: Pidato Presiden belum Jadi Solusi
- PBNU Putuskan Idulfitri 10 September
- Banjir Bandang Terjang Polewali Mandar
- Jalur Bandung-Cirebon Macet 20 Kilometer
- Ibu dan Dua Anaknya Terlindas Bus Pemudik
- KA Penumpang Tabrak KA Barang di Serdang Bedagai
- Mobil Mengular 1 Km Menuju Pintu Tol Cikampek
Komarudin: Perbedaan Hal Biasa
Tim Liputan 6 SCTV
13/03/2010 01:34
Liputan6.com, Jakarta: Meski dicap teroris, antusiasme warga mengantar jenazah Dulmatin tidak surut. Ribuan pelayat mengantar jasad otak bom Bali ke liang lahat di Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (12/3) pagi. Menurut Rektor Universitas Islam Negeri Komaruddin Hidayat, gejala masyarakat terbelah menyikapi tindakan para tersangka teroris adalah hal biasa. "Karena sepaham ada, ada yang mereka kecewa dengan pemerintah. Kita tidak bisa membuat kesimpulan garis lurus yang universal," kata Komarudin di Jakarta, Jumat kemarin.
Pemakaman Dulmatin juga dihadiri anggota ormas Front Pembela Islam (FPI). Jenazah pria yang juga dikenal Joko Pitono ini tiba di rumah duka, kompleks Pasar Petarukan, Pemalang, Jumat dini hari. Ia disambut sebagai mujahid [baca: Dulmatin Telah Dimakamkan].
Antusiasme pelayat juga muncul pada pemakaman sejumlah gembong teroris lain. Misalnya kepada para terpidana mati bom Bali I yakni Imam Samudera, Ali Imron, dan Amrozi pada dua tahun silam. Gejala ini tentu menjadi tantangan, khususnya bagi pemerintah, meyakinkan warga terorisme adalah tindakan keliru.
Atas nama apapun terorisme tidak dibenarkan. Sebab di balik tindakan ini banyak orang tak berdosa menjadi korban. Tapi pemerintah juga ditantang menumpas akar penunjang tumbuh suburnya terorisme, seperti kemiskinan dan ketidakadilan.(AIS)
Pemakaman Dulmatin juga dihadiri anggota ormas Front Pembela Islam (FPI). Jenazah pria yang juga dikenal Joko Pitono ini tiba di rumah duka, kompleks Pasar Petarukan, Pemalang, Jumat dini hari. Ia disambut sebagai mujahid [baca: Dulmatin Telah Dimakamkan].
Antusiasme pelayat juga muncul pada pemakaman sejumlah gembong teroris lain. Misalnya kepada para terpidana mati bom Bali I yakni Imam Samudera, Ali Imron, dan Amrozi pada dua tahun silam. Gejala ini tentu menjadi tantangan, khususnya bagi pemerintah, meyakinkan warga terorisme adalah tindakan keliru.
Atas nama apapun terorisme tidak dibenarkan. Sebab di balik tindakan ini banyak orang tak berdosa menjadi korban. Tapi pemerintah juga ditantang menumpas akar penunjang tumbuh suburnya terorisme, seperti kemiskinan dan ketidakadilan.(AIS)
