Kudus Lacak Tengkorak Homo Erectus  

Zumrotul Muslimin
09/11/2009 00:09
Liputan6.com, Kudus: Forum Komunikasi Pelestari Situs Patiayam Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berupaya mendapatkan kembali tengkorak kepala Homo erectus, manusia purba yang pernah ditemukan di tempat itu. "Fosil tengkorak Homo erectus tersebut ditemukan oleh Doktor Yahdi Yaim, peneliti geologi Institut Teknologi Bandung pada 1979," kata Ketua FKPSP Suprapto di Kudus, Ahad (8/11) seperti dikutip ANTARA.

Suprapto mengatakan, hasil temuan fosil tengkorak manusia purba itu berupa sebuah gigi pra-geraham bawah dan tujuh pecahan tengkorak manusia. "Keberadaan fosil manusia purba memang belum bisa dipastikan, mengingat di Museum Geologi tak ada. Tapi kami akan berupaya melacak dengan mencari informasi melalui penemunya," katanya.

FKPSP bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Kudus mencoba mendapatkan informasi keberadaan tengkorak kepala itu di Museum Geologi Bandung. "Ternyata, saat ini sudah tak ada di museum, meski sebuah gigi pra-geraham bawah dan tujuh pecahan tengkorak manusia purba tersebut telah direkonstruksi dan menjadi tengkorak kepala manusia purba," katanya.

DIa mengatakan, akan berupaya melacak dan mengumpulkan sejumlah informasi keberadaan tengkorak Homo erectus supaya dapat disimpan di Kudus karena temuan itu dapat mengangkat nama Situs Patiayam. Selain itu, katanya, kehadiran fosil Homo erectus tersebut juga menambah koleksi temuan fosil hewan dan manusia purba lainnya.

"Untuk mendapatkan fosil dalam bentuk aslinya memang sulit, tetapi kami akan berupaya meskipun nantinya mendapatkan dalam bentuk replika," kata Suprapto. Meski sedang berupaya membawa fosil purba kembali ke Kudus, ia mengakui pemerintah daerah belum memiliki tempat khusus untuk menyimpan temuan berbagai benda purbakala tersebut.

Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Kudus Sancaka Dwi Supani, mengatakan, hingga kini pihaknya belum punya tempat penyimpanan berbagai benda purbakala secara representatif. "Seharusnya upaya mendapatkan tempat penyimpanan benda-benda purbakala lebih diprioritaskan dibandingkan harus mengupayakan keberadaan benda purbakala yang belum diketahui," katanya.

Tanpa tempat yang representatif terlebih dahulu, imbuh Sancaka, keberadaan benda-benda purbakala dikhawatirkan mudah rusak karena tidak tahan terhadap suhu udara yang tidak teratur. "Perawatan benda-benda purbakala tidak mudah. Selain dibutuhkan tempat khusus juga dibutuhkan temperatur udara yang teratur," kata Sancaka.

Temuan lainnya di Situs Patiayam, yakni sejumlah tulang belulang binatang purba seperti Stegodon trigono chepalus dan Elephas sp (sejenis gajah purba), Cervus zwaani dan Cervus lydekkeri martin (sejenis rusa), Rhinoceros sondaicus (badak), Sus brachygnatus dubris (babi), Felis sp (macan), Bos bubalus palaeoharabau (kerbau), Bos banteng paleosondicus (banteng), dan Crocodilus sp (buaya).(JUM/ANS)


Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code