Festival Tato Diselenggarakan di Kota Pahlawan
14/09/2003 07:23
Liputan6.com, Surabaya: Tato atau rajah tubuh yang sudah mulai memasyarakat mulai merambah segala usia dan jenis kelamin di Indonesia. Ini terlihat dari tingginya animo masyarakat dalam mengikuti kontes pamer rajah pada festival tato yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini. Festival tersebut digelar dengan tujuan untuk memudarkan kesan buruk, terutama kriminal yang melekat pada pemilik tato. Sebab, seni tato memerlukan apresiasi dan keahlian tersendiri.
Dulu memiliki tato cukup memberikan kesan buruk dan membuat orang malu-malu untuk menunjukkan rajah di tubuhnya. Akibatnya, mereka hanya mau ditato di bagian tubuh yang tertutup. Tak heran bila seni menghias kulit itu hanya menjadi perhatian di saat-saat tertentu saja.
Kini keadaannya sudah berubah. Sejumlah orang yang memiliki tato tanpa malu-malu memperlihatkan pahatan gambar pada tubuhnya. Dengan kualitas tinta dan gambar tertentu, tato bisa menjadi kebanggaan bagi yang memilikinya.
Pada festival tersebut, setiap peserta harus menunjukkan letak tato kepada penonton dan dewan juri. Sedangkan penilainnya meliputi keserasian tato dengan bentuk tubuh, warna kulit, motif, dan penempatannya. Selain itu sensasi juga menjadi nilai tambah. Sebab, ada beberapa peserta yang seluruh tubuhnya penuh rajah dan ada pula perempuan dengan tato mungil di punggungnya.
Tak hanya kontes tersebut yang digelar di festival itu. Demonstrasi tato di atas kulit kepala juga dipertontonkan. Tato di kepala ini cukup unik. Sebab, hanya orang tertentu saja yang mau kepalanya ditato. Padahal, proses membuatnya sama dengan membuat tato di bagian tubuh lain.
Kaum muda di Kota Pahlawan rupanya sedang dimabuk tato. Belum lama berselang, sebuah salon tato di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya, Jatim, diserbu anak muda [baca: Seni Tato Semakin Digemari Kaum Muda Surabaya]. Mereka beramai-ramai ingin ditato, baik yang permanen atau temporary.(LIA/Hasan Sentot dan Iwan Gunawan)
Dulu memiliki tato cukup memberikan kesan buruk dan membuat orang malu-malu untuk menunjukkan rajah di tubuhnya. Akibatnya, mereka hanya mau ditato di bagian tubuh yang tertutup. Tak heran bila seni menghias kulit itu hanya menjadi perhatian di saat-saat tertentu saja.
Kini keadaannya sudah berubah. Sejumlah orang yang memiliki tato tanpa malu-malu memperlihatkan pahatan gambar pada tubuhnya. Dengan kualitas tinta dan gambar tertentu, tato bisa menjadi kebanggaan bagi yang memilikinya.
Pada festival tersebut, setiap peserta harus menunjukkan letak tato kepada penonton dan dewan juri. Sedangkan penilainnya meliputi keserasian tato dengan bentuk tubuh, warna kulit, motif, dan penempatannya. Selain itu sensasi juga menjadi nilai tambah. Sebab, ada beberapa peserta yang seluruh tubuhnya penuh rajah dan ada pula perempuan dengan tato mungil di punggungnya.
Tak hanya kontes tersebut yang digelar di festival itu. Demonstrasi tato di atas kulit kepala juga dipertontonkan. Tato di kepala ini cukup unik. Sebab, hanya orang tertentu saja yang mau kepalanya ditato. Padahal, proses membuatnya sama dengan membuat tato di bagian tubuh lain.
Kaum muda di Kota Pahlawan rupanya sedang dimabuk tato. Belum lama berselang, sebuah salon tato di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya, Jatim, diserbu anak muda [baca: Seni Tato Semakin Digemari Kaum Muda Surabaya]. Mereka beramai-ramai ingin ditato, baik yang permanen atau temporary.(LIA/Hasan Sentot dan Iwan Gunawan)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...

