Setelah Hambali, Siapa Lagi Diburu?
28/10/2002 22:24
Liputan6.com, Jakarta: SEPERTI hantu di siang bolong, nama Hambali menjadi topik perbincangan hangat sejumlah kalangan pada satu pekan terakhir ini. Bukan lantaran dia mempunyai sederet nama, Ridwan Isamuddin alias Abu Patih atau Encep Nurjaman. Melainkan polisi menunjuk hidung pria yang diduga pentolan Jamaah Islamiyah itu sebagai tersangka pengebom di Bali, 12 Oktober 2002 [baca: Menapak Jejak Teror di Bali].
Adalah Kepala Kepolisian Da`i Bachtiar yang pertama menyatakan pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, ini sebagai otak pelaku Bom Bali. Nama Hambali memang tak asing bagi penyidik kasus peledakan di Tanah Air. Betapa tidak, buronan berusia 42 tahun ini dituding sebagai otak di balik sejumlah pengeboman di Jakarta, Bandung, Medan, Batam, Bekasi, Pematang Siantar, Pekanbaru, dan Sukabumi. Tak main-main memang. Buktinya, sejumlah ledakan itu menimbulkan korban tewas 19 orang dan ratusan lainnya luka-luka [baca: Hambali Tersangka Bom Bali].
Tak cuma itu, Da`i juga mengungkapkan bahwa Hambali adalah target penangkapan polisi selanjutnya setelah Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir [baca: Penahanan Ba`asyir dan Skenario Asal Senang]. Kendati demikian, Da`i belum dapat memastikan pria yang bernama asli Encep Nurjaman itu terkait dengan peledakan di Bali. "Dia tokoh sentral yang dicari tak hanya Indonesia tapi juga Malaysia, Singapura, dan Filipina," ujar dia. Karenanya Kapolri meminta siapa pun yang mengetahui keberadaan Hambali agar segera melaporkan kepada polisi [baca: Hambali Bersembunyi di Malaysia].
Tudingan terhadap Hambali sebelumnya diembuskan sejumlah media massa Barat, Singapura, dan Filipina. Tanpa tedeng aling-aling, Hambali disebut-sebut sebagai "tangan kanan Ba`asyir" dalam Jamaah Islamiyah. Tudingan itu berdasarkan pengakuan Umar Al-Faruq--ditangkap dan diserahkan kepada Amerika Serikat pada Juni 2002--yang menyatakan peledakan Atrium Senen dilakukan atas perintahnya (Hambali) dan ditujukan untuk membunuh Presiden Megawati Sukarnoputri [baca: Misteri dari Tragedi Bali].
Jauh sebelumnya atau tepatnya 11 Februari 2002, harian The Strait Times terbitan Singapura melaporkan bahwa berdasarkan temuan intelijen Indonesia, kelompok Jamaah Islamiah berencana menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Singapura, Malaysia, dan Indonesia pada 4 Desember 2001. Rencana ini terpapar dalam dokumen setebal 12 halaman, berjudul &uotOperasi Jihad di Asia". Bersamaan dengan itu, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menyatakan bahwa Indonesia sebagai sarang teroris. Kendati demikian, tudingan tersebut bisa dikatakan belum terbukti hingga kini [baca: Pernyataan Lee, Ketakutan Singapura].
Terlepas dari benar tidaknya tuduhan itu, persoalannya sekarang adalah: tangkap Hambali dan cross check keterangannya dengan pengakuan beberapa tersangka lainnya. Seolah tak peduli dengan asumsi tersebut, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Saleh Saaf bertekad menjadikan Hambali sebagai orang yang paling diburu dan diduga sebagai tersangka. "Hambali adalah The Most Wanted yang kita dan negara lain cari," ujar dia. Bahkan, polisi mencurigai Hambali pelaku peledakan beberapa tempat di Indonesia, dan sudah buron sejak 2000.
Lebih jauh Saleh mengungkapkan, keterkaitan Hambali dalam pengeboman Bali berdasarkan laporan Biro Penyelidik Federal AS (FBI) yang mendapatkan pengakuan seseorang bernama Muhammad Mansur Jabarah. Menurut laporan itu, Jabarah bersama Hambali telah lama merancang teror di berbagai tempat wisata di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jabarah kini ditahan oleh Amerika Serikat. Namun, Saleh enggan menjelaskan bahwa Hambali termasuk yang wajahnya dibuatkan sketsa oleh polisi dan diduga pelaku peledakan Bali. Dia hanya menjelaskan bahwa tiga wajah sketsa itu para warga Indonesia. "Bila sudah selesai, akan kami sebarkan ke publik," ujar dia.
Menyoal hubungan Hambali dengan Ba`asyir, Saleh mengakui bahwa polisi mendapatkannya dari para tersangka pelaku peledakan bom yang telah tertangkap di Malaysia, Singapura, dan Filipina. Para tersangka ini, ungkap Saleh, mengaku kenal Ba`asyir sebagai tokoh Jamaah Islamiyah yang memiliki tangan kanan bernama Hambali. "Tetapi sejauh mana keterkaitannya, akan dibuktikan saat pemeriksaan nanti," ucap Saleh.
Jamaah Islamiyah, nama ini seolah hantu yang menakutkan bagi sebagian warga dunia. Sejak tahun lalu, Gedung Putih menuduh Jamaah Islamiyah sebagai kaki tangan kelompok teroris Al Qaeda. Kelompok yang dituduh negara adidaya itu sebagai dalang serangan ke menara kembar WTC New York 11 September 2001. Dan kini setahun kemudian, lebih-lebih setelah terjadi serangan teror bom di Bali, nama Jamaah Islamiyah kembali disebut-sebut berada di balik tragedi itu.
Mudah ditebak, Malaysia, Singapura, Australia dan Filipina segendang sepenarian mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa memasukkan Jamaah Islamiyah ke dalam daftar organisasi teroris. Juru bicara Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan pemerintah juga melakukan hal yang sama. Bersama-sama 48 negara lainnya Indonesia secara resmi meminta Dewan Keamanan PBB memasukkan Jamaah Islamiyah ke dalam daftar organisasi teroris dunia.
Namun anehnya, pernyataan Deplu ini dibantah sejumlah menteri lainnya. Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil, misalnya. Dia membantah Indonesia mengusulkan Jamaah Islamiyah masuk dalam daftar teroris internasional. Apalagi menurut dia, Jamaah Islamiah tidak dikenal di Tanah Air. Sebelumnya Wakil Presiden Hamzah Haz serta Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan bantahan serupa. Menurut Yudhoyono Jamaah Islamiyah tidak berada di Indonesia, melainkan di Malaysia dan Singapura. Meskipun Yudhoyono mengaku sejumlah warga Indonesia terlibat di dalam Jamaah Islamiyah, seperti Abdullah Sungkar dan Hambali [baca: Pemerintah Tak Mendaftarkan Jamaah Islamiyah Sebagai Teroris].
Lepas dari usulan puluhan negara terhadap PBB itu, Polri justru pusing tujuh keliling memburu Hambali. Hal itu tak aneh. Soalnya tokoh misterius--versi Washington Post, Hambali adalah mata rantai yang menghubungkan Al Qaeda dengan kelompok garis keras di Asia Tenggara--sebenarnya bukanlah nama baru dalam daftar Pusat Intelijen AS (CIA) maupun FBI. Tengok saja pada tahun 1994, ia diduga terlibat dalam rencana peledakan pesawat jumbo jet Philippine`s Air Lines. Namun, rencana ini dibatalkan, setelah api membakar apartemen tempat merakit bom di Manila. Tak cuma itu, Hambali dan dua rekannya juga berencana meledakkan 12 pesawat penumpang AS di udara Asia.
Dengan berbekal sejumlah pengalaman kegiatan teror itulah yang mungkin membuat Hambali sangat licin atau sulit dijamah. Bisa jadi, dia leluasa mondar-mandir di sejumlah negara Asia Tenggara. Apalagi, menurut berbagai informasi intelijen asing yang dikutip sejumlah media massa Barat, Hambali pernah melarikan diri ke Asia Selatan, khususnya Pakistan atau Afghanistan.
Menelusuri jejak Hambali memang sulit. Buktinya, saat SCTV berkunjung ke kediamannya di Desa Sukamanah, Kecamatan Karang Tengah, Cianjur, ibunda Hambali, Eni Mariani, tak percaya dengan tudingan polisi. Ia tak yakin anaknya terlibat dalam jaringan teroris internasional. Sebab, sejak kecil putranya dikenal sebagai lelaki pendiam yang taat beragama.
Menurut Eni, nama anaknya sebenarnya bukan Hambali atau Ridwan Isamuddin, seperti yang disebut selama ini. Nama anaknya itu adalah Encep Nurjaman. Encep adalah anak tertua dari 12 bersaudara yang lahir di Desa Sukamanah, 1966. Namun, saat Encep berusia 20 tahun, ia sudah meninggalkan Sukamanah untuk pergi ke Malaysia. Saat itu Encep yang baru menamatkan sekolah menengah umum mengaku ingin berjualan batik di Negeri Jiran.
Bibinya Encep, Entin mengungkapkan, pada mulanya ia masih sempat mengirim kabar kepada ibunya di Sukamanah. Bahkan, sesekali Encep pulang ke kampung halamannya. Namun, setelah itu tak ada lagi kabar dari Encep. Bahkan, ada anggota keluarganya yang menyangka Encep sudah meninggal dunia. Lantaran itulah, baik Eni maupun Entin sangat kaget begitu nama Hambali atau Encep disebut-sebut sebagai anggota jaringan teroris internasional.
Keterangan dua anggota terdekat Hambali diamini sejumlah warga Desa Sukamanah. Mereka juga tak percaya Encep Nurjaman melakukan hal itu. Jelas tudingan itu membuat mereka mengaku bingung karena selama ini kampung tersebut aman-aman saja. Bahkan warga tidak pernah melihat perilaku menyimpang pada Encep, yang oleh polisi disebut sebagai Hambali dan dikaitkan dengan aksi peledakan bom [baca: Warga Membantah Encep Nurjaman Teroris].
Pengakuan mereka diperkuat Ustad Wahyuddin, seorang pengurus Pondok Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Wahyuddin yang dikonfirmasi mengaku tak mengenal Hambali atau lelaki bernama Ridwan Isamuddin. Menurut dia, banyak santri bernama Hambali. Bahkan, dia secara tegas menyatakan tak merasa Hambali--dengan wajah seperti yang terpampang di media massa--pernah menjadi murid Pesantren Ngruki. "Saya tidak mengenal orang ini. Walaupun tanpa jenggot, saya tidak kenal," ujar Wahyuddin [baca: Ustad Wahyuddin: Hambali Bukan Santri Ngruki].
Wahyuddin berpendapat, dokumen yang menyebutkan Hambali pernah menjadi santri Ponpres Ngruki hanyalah rekayasa. Pengajar agama yang telah bekerja selama 30 tahun ini mengatakan sangat mengenal para alumninya. Tapi dia mengakui bisa tak mengenali siswa yang hanya tinggal beberapa hari atau beberapa pekan saja.
Beberapa pengakuan itu jelas menohok jajaran Polri. Akhirnya, Kapolri tak dapat memastikan keberadaan Hambali atau Ridwan Isamuddin. Hanya, dia menduga pria tersebut kini tak ada di Indonesia. Selain itu, Kapolri sekaligus membantah pemerintah mendapat tekanan dari negara Barat dan lambat memerangi terorisme. Buktinya, dia memaparkan, pemerintah sudah lama memburu Hambali, bahkan jauh sebelum Tragedi World Trade Center di New York, AS, 11 September 2001.
Kapolri boleh saja berpendapat begitu. Yang jelas, teror bom dan ancaman peledakan masih menghantui sejumlah kota di Tanah Air, meski pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang Antiterorisme.(ANS)
Adalah Kepala Kepolisian Da`i Bachtiar yang pertama menyatakan pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, ini sebagai otak pelaku Bom Bali. Nama Hambali memang tak asing bagi penyidik kasus peledakan di Tanah Air. Betapa tidak, buronan berusia 42 tahun ini dituding sebagai otak di balik sejumlah pengeboman di Jakarta, Bandung, Medan, Batam, Bekasi, Pematang Siantar, Pekanbaru, dan Sukabumi. Tak main-main memang. Buktinya, sejumlah ledakan itu menimbulkan korban tewas 19 orang dan ratusan lainnya luka-luka [baca: Hambali Tersangka Bom Bali].
Tak cuma itu, Da`i juga mengungkapkan bahwa Hambali adalah target penangkapan polisi selanjutnya setelah Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir [baca: Penahanan Ba`asyir dan Skenario Asal Senang]. Kendati demikian, Da`i belum dapat memastikan pria yang bernama asli Encep Nurjaman itu terkait dengan peledakan di Bali. "Dia tokoh sentral yang dicari tak hanya Indonesia tapi juga Malaysia, Singapura, dan Filipina," ujar dia. Karenanya Kapolri meminta siapa pun yang mengetahui keberadaan Hambali agar segera melaporkan kepada polisi [baca: Hambali Bersembunyi di Malaysia].
Tudingan terhadap Hambali sebelumnya diembuskan sejumlah media massa Barat, Singapura, dan Filipina. Tanpa tedeng aling-aling, Hambali disebut-sebut sebagai "tangan kanan Ba`asyir" dalam Jamaah Islamiyah. Tudingan itu berdasarkan pengakuan Umar Al-Faruq--ditangkap dan diserahkan kepada Amerika Serikat pada Juni 2002--yang menyatakan peledakan Atrium Senen dilakukan atas perintahnya (Hambali) dan ditujukan untuk membunuh Presiden Megawati Sukarnoputri [baca: Misteri dari Tragedi Bali].
Jauh sebelumnya atau tepatnya 11 Februari 2002, harian The Strait Times terbitan Singapura melaporkan bahwa berdasarkan temuan intelijen Indonesia, kelompok Jamaah Islamiah berencana menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Singapura, Malaysia, dan Indonesia pada 4 Desember 2001. Rencana ini terpapar dalam dokumen setebal 12 halaman, berjudul &uotOperasi Jihad di Asia". Bersamaan dengan itu, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menyatakan bahwa Indonesia sebagai sarang teroris. Kendati demikian, tudingan tersebut bisa dikatakan belum terbukti hingga kini [baca: Pernyataan Lee, Ketakutan Singapura].
Terlepas dari benar tidaknya tuduhan itu, persoalannya sekarang adalah: tangkap Hambali dan cross check keterangannya dengan pengakuan beberapa tersangka lainnya. Seolah tak peduli dengan asumsi tersebut, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Saleh Saaf bertekad menjadikan Hambali sebagai orang yang paling diburu dan diduga sebagai tersangka. "Hambali adalah The Most Wanted yang kita dan negara lain cari," ujar dia. Bahkan, polisi mencurigai Hambali pelaku peledakan beberapa tempat di Indonesia, dan sudah buron sejak 2000.
Lebih jauh Saleh mengungkapkan, keterkaitan Hambali dalam pengeboman Bali berdasarkan laporan Biro Penyelidik Federal AS (FBI) yang mendapatkan pengakuan seseorang bernama Muhammad Mansur Jabarah. Menurut laporan itu, Jabarah bersama Hambali telah lama merancang teror di berbagai tempat wisata di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jabarah kini ditahan oleh Amerika Serikat. Namun, Saleh enggan menjelaskan bahwa Hambali termasuk yang wajahnya dibuatkan sketsa oleh polisi dan diduga pelaku peledakan Bali. Dia hanya menjelaskan bahwa tiga wajah sketsa itu para warga Indonesia. "Bila sudah selesai, akan kami sebarkan ke publik," ujar dia.
Menyoal hubungan Hambali dengan Ba`asyir, Saleh mengakui bahwa polisi mendapatkannya dari para tersangka pelaku peledakan bom yang telah tertangkap di Malaysia, Singapura, dan Filipina. Para tersangka ini, ungkap Saleh, mengaku kenal Ba`asyir sebagai tokoh Jamaah Islamiyah yang memiliki tangan kanan bernama Hambali. "Tetapi sejauh mana keterkaitannya, akan dibuktikan saat pemeriksaan nanti," ucap Saleh.
Jamaah Islamiyah, nama ini seolah hantu yang menakutkan bagi sebagian warga dunia. Sejak tahun lalu, Gedung Putih menuduh Jamaah Islamiyah sebagai kaki tangan kelompok teroris Al Qaeda. Kelompok yang dituduh negara adidaya itu sebagai dalang serangan ke menara kembar WTC New York 11 September 2001. Dan kini setahun kemudian, lebih-lebih setelah terjadi serangan teror bom di Bali, nama Jamaah Islamiyah kembali disebut-sebut berada di balik tragedi itu.
Mudah ditebak, Malaysia, Singapura, Australia dan Filipina segendang sepenarian mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa memasukkan Jamaah Islamiyah ke dalam daftar organisasi teroris. Juru bicara Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan pemerintah juga melakukan hal yang sama. Bersama-sama 48 negara lainnya Indonesia secara resmi meminta Dewan Keamanan PBB memasukkan Jamaah Islamiyah ke dalam daftar organisasi teroris dunia.
Namun anehnya, pernyataan Deplu ini dibantah sejumlah menteri lainnya. Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil, misalnya. Dia membantah Indonesia mengusulkan Jamaah Islamiyah masuk dalam daftar teroris internasional. Apalagi menurut dia, Jamaah Islamiah tidak dikenal di Tanah Air. Sebelumnya Wakil Presiden Hamzah Haz serta Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan bantahan serupa. Menurut Yudhoyono Jamaah Islamiyah tidak berada di Indonesia, melainkan di Malaysia dan Singapura. Meskipun Yudhoyono mengaku sejumlah warga Indonesia terlibat di dalam Jamaah Islamiyah, seperti Abdullah Sungkar dan Hambali [baca: Pemerintah Tak Mendaftarkan Jamaah Islamiyah Sebagai Teroris].
Lepas dari usulan puluhan negara terhadap PBB itu, Polri justru pusing tujuh keliling memburu Hambali. Hal itu tak aneh. Soalnya tokoh misterius--versi Washington Post, Hambali adalah mata rantai yang menghubungkan Al Qaeda dengan kelompok garis keras di Asia Tenggara--sebenarnya bukanlah nama baru dalam daftar Pusat Intelijen AS (CIA) maupun FBI. Tengok saja pada tahun 1994, ia diduga terlibat dalam rencana peledakan pesawat jumbo jet Philippine`s Air Lines. Namun, rencana ini dibatalkan, setelah api membakar apartemen tempat merakit bom di Manila. Tak cuma itu, Hambali dan dua rekannya juga berencana meledakkan 12 pesawat penumpang AS di udara Asia.
Dengan berbekal sejumlah pengalaman kegiatan teror itulah yang mungkin membuat Hambali sangat licin atau sulit dijamah. Bisa jadi, dia leluasa mondar-mandir di sejumlah negara Asia Tenggara. Apalagi, menurut berbagai informasi intelijen asing yang dikutip sejumlah media massa Barat, Hambali pernah melarikan diri ke Asia Selatan, khususnya Pakistan atau Afghanistan.
Menelusuri jejak Hambali memang sulit. Buktinya, saat SCTV berkunjung ke kediamannya di Desa Sukamanah, Kecamatan Karang Tengah, Cianjur, ibunda Hambali, Eni Mariani, tak percaya dengan tudingan polisi. Ia tak yakin anaknya terlibat dalam jaringan teroris internasional. Sebab, sejak kecil putranya dikenal sebagai lelaki pendiam yang taat beragama.
Menurut Eni, nama anaknya sebenarnya bukan Hambali atau Ridwan Isamuddin, seperti yang disebut selama ini. Nama anaknya itu adalah Encep Nurjaman. Encep adalah anak tertua dari 12 bersaudara yang lahir di Desa Sukamanah, 1966. Namun, saat Encep berusia 20 tahun, ia sudah meninggalkan Sukamanah untuk pergi ke Malaysia. Saat itu Encep yang baru menamatkan sekolah menengah umum mengaku ingin berjualan batik di Negeri Jiran.
Bibinya Encep, Entin mengungkapkan, pada mulanya ia masih sempat mengirim kabar kepada ibunya di Sukamanah. Bahkan, sesekali Encep pulang ke kampung halamannya. Namun, setelah itu tak ada lagi kabar dari Encep. Bahkan, ada anggota keluarganya yang menyangka Encep sudah meninggal dunia. Lantaran itulah, baik Eni maupun Entin sangat kaget begitu nama Hambali atau Encep disebut-sebut sebagai anggota jaringan teroris internasional.
Keterangan dua anggota terdekat Hambali diamini sejumlah warga Desa Sukamanah. Mereka juga tak percaya Encep Nurjaman melakukan hal itu. Jelas tudingan itu membuat mereka mengaku bingung karena selama ini kampung tersebut aman-aman saja. Bahkan warga tidak pernah melihat perilaku menyimpang pada Encep, yang oleh polisi disebut sebagai Hambali dan dikaitkan dengan aksi peledakan bom [baca: Warga Membantah Encep Nurjaman Teroris].
Pengakuan mereka diperkuat Ustad Wahyuddin, seorang pengurus Pondok Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Wahyuddin yang dikonfirmasi mengaku tak mengenal Hambali atau lelaki bernama Ridwan Isamuddin. Menurut dia, banyak santri bernama Hambali. Bahkan, dia secara tegas menyatakan tak merasa Hambali--dengan wajah seperti yang terpampang di media massa--pernah menjadi murid Pesantren Ngruki. "Saya tidak mengenal orang ini. Walaupun tanpa jenggot, saya tidak kenal," ujar Wahyuddin [baca: Ustad Wahyuddin: Hambali Bukan Santri Ngruki].
Wahyuddin berpendapat, dokumen yang menyebutkan Hambali pernah menjadi santri Ponpres Ngruki hanyalah rekayasa. Pengajar agama yang telah bekerja selama 30 tahun ini mengatakan sangat mengenal para alumninya. Tapi dia mengakui bisa tak mengenali siswa yang hanya tinggal beberapa hari atau beberapa pekan saja.
Beberapa pengakuan itu jelas menohok jajaran Polri. Akhirnya, Kapolri tak dapat memastikan keberadaan Hambali atau Ridwan Isamuddin. Hanya, dia menduga pria tersebut kini tak ada di Indonesia. Selain itu, Kapolri sekaligus membantah pemerintah mendapat tekanan dari negara Barat dan lambat memerangi terorisme. Buktinya, dia memaparkan, pemerintah sudah lama memburu Hambali, bahkan jauh sebelum Tragedi World Trade Center di New York, AS, 11 September 2001.
Kapolri boleh saja berpendapat begitu. Yang jelas, teror bom dan ancaman peledakan masih menghantui sejumlah kota di Tanah Air, meski pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang Antiterorisme.(ANS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
