Iduladha yang Suram bagi Warga Afghanistan
Desika Pemita09/11/2011 22:56
Liputan6.com, Kabul: Hari Raya Kurban yang telah berlalu menyisakan kebahagian bagi yang merayakannya. Sayangnya, kemeriahaan Iduladha itu tak bisa dirasakan oleh warga Afghanistan yang negaranya tengah terlibat perang.
Dampak perang tak hanya meninggalkan darah yang berceceran di setiap sudut Afghanistan. Tapi perang juga meninggalkan masalah sosial. Puluhan anak jalanan dan wanita lemah dengan pakaian yang kotor terlihat mengemis untuk bertahan hidup.
Kantor Berita Xinhua mewartakan, Rabu (9/11), warga Afghanistan, khususnya wanita, terpaksa mengemis untuk membantu keluarga mereka. Seorang wanita Afghan, Bibi Fatima, menuturkan jika konflik berkepanjangan telah menghancurkan hidupnya. Ia terpaksa meminta uang dan daging kurban dari keluarga kaya pada hari Iduladha kemarin. "Saya bisa mendapatkan daging kambing dan sapi hingga 10 kilogram," ungkap wanita berusia 56 tahun itu dengan sedih.
Wanita malang itu telah kehilangan semua anggota keluarga, termasuk suaminya. Sambil berjalan dengan tongkat dan membawa karung di punggungnya, ia menambahkan, suaminya meninggal di Kota Mazar-e-Sharif, 13 tahun lalu.
Fatima tidak sendirian dalam menghadapi masalah itu. Muzhgan juga kehilangan suaminya dalam serangan bom bunuh diri di Kabul tiga tahun lalu. Wanita berusia 31 tahun itu mengatakan mengemis adalah tindakan yang tabu. Tapi ia terpaksa melakukannya untuk bisa bertahan hidup.(ULF)
Dampak perang tak hanya meninggalkan darah yang berceceran di setiap sudut Afghanistan. Tapi perang juga meninggalkan masalah sosial. Puluhan anak jalanan dan wanita lemah dengan pakaian yang kotor terlihat mengemis untuk bertahan hidup.
Kantor Berita Xinhua mewartakan, Rabu (9/11), warga Afghanistan, khususnya wanita, terpaksa mengemis untuk membantu keluarga mereka. Seorang wanita Afghan, Bibi Fatima, menuturkan jika konflik berkepanjangan telah menghancurkan hidupnya. Ia terpaksa meminta uang dan daging kurban dari keluarga kaya pada hari Iduladha kemarin. "Saya bisa mendapatkan daging kambing dan sapi hingga 10 kilogram," ungkap wanita berusia 56 tahun itu dengan sedih.
Wanita malang itu telah kehilangan semua anggota keluarga, termasuk suaminya. Sambil berjalan dengan tongkat dan membawa karung di punggungnya, ia menambahkan, suaminya meninggal di Kota Mazar-e-Sharif, 13 tahun lalu.
Fatima tidak sendirian dalam menghadapi masalah itu. Muzhgan juga kehilangan suaminya dalam serangan bom bunuh diri di Kabul tiga tahun lalu. Wanita berusia 31 tahun itu mengatakan mengemis adalah tindakan yang tabu. Tapi ia terpaksa melakukannya untuk bisa bertahan hidup.(ULF)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Berita Terpopuler
- Dua Kamerawan Terbaik SCTV Gugur dalam Tugas
- Teka Teki Jatuhnya Sukhoi
- Inilah 45 Nama Korban Tewas Sukhoi
- Puluhan Orang Tewas Tersambar Petir
- Hitung Jari Lebih Cepat dari Kalkulator
- KNKT: Parasut Tak Dipakai Pilot untuk Melarikan Diri
- Kedatangan Presiden SBY Ditolak Mahasiswa
- Seluruh Korban Sukhoi Teridentifikasi
- Mabes Polri Masih Evaluasi Konser Lady Gaga
- Basarnas Hentikan Pencarian Korban Sukhoi

