Ketupat, Perekat Keluarga Saat Berlebaran
Wiwik Susilo11/09/2010 04:08
Liputan6.com, Solo: Ketupat opor ayam. Menu ini biasanya selalu menjadi hidangan saat Hari Raya Idulfitri. Bahkan, ada yang bilang, berlebaran tanpa ada ketupat opor seperti hambar bagi umat Islam yang merayakan. Tak heran bila tradisi ketupat selalu ada, setidaknya seperti terlihat di Solo, Jawa Tengah, saat Lebaran tahun ini.
Tak ada yang tahu sejak kapan ketupat dikenal di Solo? Namun, setiap Lebaran tiba, penjual selongsong ketupat pasti selalu bermunculan di kota tersebut. Tak hanya dari Solo, banyak juga penjaja ketupat yang datang dari Semarang, Salatiga, dan sejumlah wilayah lain. Mereka menangguk rejeki musiman dengan cara berjualan selongsong ketupat.
Fahrudin adalah seorang di antara yang berjualan selongsong ketupat saat Lebaran. Pria asal Salatiga itu telah menjalani bisnis musiman selongsong ketupat selama 15 tahun. Tiap mendekati Lebaran, dirinya selalu disibukkan mencari janur kuning untuk dijadikan selongsong ketupat.
Menurut Fahrudin, selongsong ketupat dijual seharga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per ikat yang berisi 10 selongsong ketupat. Keuntungan yang didapat memang tak menentu. Kendati begitu, Fahrudin tetap menjajakan selongsong ketupat untuk tambahan pendapatan.
Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Kota Solo, ketupat menjadi menu pengganti nasi saat Lebaran. Tradisi ketupat juga bisa diartikan sebagai simbol saling memaafkan karena ketupat dalam bahasa Jawa disebut dengan mengaku lepat yang artinya mengakui kesalahan.
Tak heran jika kebiasaan tradisi ketupat hingga kini terus bertahan. Pada hari terakhir Ramadan, biasanya warga sudah saling mengirim antaran ketupat ke rumah atau tetangga. Mereka juga menyediakannya sendiri dengan memasak secara bersama-sama anggota keluarga. Itulah sebabnya, bagi mereka rasanya tak lengkap bila merayakan Lebaran tanpa ada ketupat.(ULF)
Tak ada yang tahu sejak kapan ketupat dikenal di Solo? Namun, setiap Lebaran tiba, penjual selongsong ketupat pasti selalu bermunculan di kota tersebut. Tak hanya dari Solo, banyak juga penjaja ketupat yang datang dari Semarang, Salatiga, dan sejumlah wilayah lain. Mereka menangguk rejeki musiman dengan cara berjualan selongsong ketupat.
Fahrudin adalah seorang di antara yang berjualan selongsong ketupat saat Lebaran. Pria asal Salatiga itu telah menjalani bisnis musiman selongsong ketupat selama 15 tahun. Tiap mendekati Lebaran, dirinya selalu disibukkan mencari janur kuning untuk dijadikan selongsong ketupat.
Menurut Fahrudin, selongsong ketupat dijual seharga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per ikat yang berisi 10 selongsong ketupat. Keuntungan yang didapat memang tak menentu. Kendati begitu, Fahrudin tetap menjajakan selongsong ketupat untuk tambahan pendapatan.
Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Kota Solo, ketupat menjadi menu pengganti nasi saat Lebaran. Tradisi ketupat juga bisa diartikan sebagai simbol saling memaafkan karena ketupat dalam bahasa Jawa disebut dengan mengaku lepat yang artinya mengakui kesalahan.
Tak heran jika kebiasaan tradisi ketupat hingga kini terus bertahan. Pada hari terakhir Ramadan, biasanya warga sudah saling mengirim antaran ketupat ke rumah atau tetangga. Mereka juga menyediakannya sendiri dengan memasak secara bersama-sama anggota keluarga. Itulah sebabnya, bagi mereka rasanya tak lengkap bila merayakan Lebaran tanpa ada ketupat.(ULF)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
