PBNU Putuskan Idulfitri 10 September
Zumrotul Muslimin09/09/2010 02:37
Liputan6.com, Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memutuskan Idulfitri 1413 Hiriyah jatuh pada Jumat (10/9) setelah tim rukyat yang diturunkan Lajnah Falakiyah PBNU tidak berhasil melihat bulan dengan mata telanjang (ru`yatul hilal bil fi`li).
"Berpijak dari hasil tim rukyat tersebut, maka kami kabarkan kepada warga NU agar menyempurnakan puasa Ramadan selama 30 hari dan salat Idulfitri pada hari Jumat," kata Ketua Kominfo dan Publikasi PBNU Sulthan Fatoni di Jakarta, Rabu (8/9) malam.
Sulthan menambahkan, informasi kepastian waktu salat Ied upenting bagi PBNU sebagai bagian dari tugas ulama membimbing umat Islam agar beribadah dengan baik dan benar.
Dikatakannya, Muktamar ke-20 NU di Surabaya pada 1954 telah menjelaskan bahwa Rasulullah dan Khulafaurrasyidun tidak mengenal metode lain dalam penetapan awal dan akhir puasa selain selain dengan ru'yatul hilal bil fi'li. Menurutnya, metode hisab untuk menentukan awal Ramadan dan awal Syawal baru diperbolehkan Imam Muththarif, guru Imam Bukhari.
Keputusan PBNU sejalan dengan keputusan sidang isbat yang digelar Kementerian Agama yang diikuti ormas Islam dan berbagai instansi terkait serta disaksikan oleh para duta besar negara sahabat. Berdasar pengamatan, posisi hilal atau bulan baru masih di bawah ufuk, sehingga tidak mungkin terlihat mata telanjang.(ANT/JUM)
"Berpijak dari hasil tim rukyat tersebut, maka kami kabarkan kepada warga NU agar menyempurnakan puasa Ramadan selama 30 hari dan salat Idulfitri pada hari Jumat," kata Ketua Kominfo dan Publikasi PBNU Sulthan Fatoni di Jakarta, Rabu (8/9) malam.
Sulthan menambahkan, informasi kepastian waktu salat Ied upenting bagi PBNU sebagai bagian dari tugas ulama membimbing umat Islam agar beribadah dengan baik dan benar.
Dikatakannya, Muktamar ke-20 NU di Surabaya pada 1954 telah menjelaskan bahwa Rasulullah dan Khulafaurrasyidun tidak mengenal metode lain dalam penetapan awal dan akhir puasa selain selain dengan ru'yatul hilal bil fi'li. Menurutnya, metode hisab untuk menentukan awal Ramadan dan awal Syawal baru diperbolehkan Imam Muththarif, guru Imam Bukhari.
Keputusan PBNU sejalan dengan keputusan sidang isbat yang digelar Kementerian Agama yang diikuti ormas Islam dan berbagai instansi terkait serta disaksikan oleh para duta besar negara sahabat. Berdasar pengamatan, posisi hilal atau bulan baru masih di bawah ufuk, sehingga tidak mungkin terlihat mata telanjang.(ANT/JUM)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
