Lebaran, Mengapa Harus Mudik?  

Ulfan Rahmad
08/09/2010 21:14
Liputan6.com, Jakarta: Lebaran di Indonesia selalu identik dengan kegiatan mudik. Padahal, tidak jarang mudik terkesan memaksakan, baik dari segi ekonomi maupun keselamatan. Bahkan, mudik tak hanya berujung pada suka cita. Banyak juga mudik yang berakhir dengan duka atau kematian. Untuk itu, Barometer SCTV mendiskusikan masalah tersebut, Rabu (8/9), dengan menghadirkan narasumber cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat dan sosiolog Imam Prasodjo.

Menurut Komaruddin Hidayat, mudik adalah tradisi yang sudah dijalani turun temurun. Orang tua, jika anaknya tak datang saat Lebaran, seperti ada yang hilang. Ada yang kurang. Itulah sebabnya, anak berusaha untuk tidak mengecewakan orang tua. Mereka pulang ke kampung untuk bertemu orang tua, saudara, teman, atau yang lain. "Ini bagian dari menunjukkan rasa gembira kita," ujar Komaruddin, yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Komaruddin menambahkan, tradisi mudik antara satu daerah dengan daerah lain berbeda. Bagi orang Bugis, ikatan mudiknya tak terlalu kuat. Biasanya mereka baru pulang kampung setelah Lebaran. Begitu juga dengan orang Minang. Ini berbeda dengan orang dari Jawa atau Sunda yang memiliki tradisi kuat untuk mudik.

Sedangkan menurut Imam Prasodjo mudik terjadi karena masyarakat Indonesia memiliki keluarga besar. Sebagiannya tinggal di kampung halaman. Misalnya, para suami yang bekerja di kota. Kadang mereka harus meninggalkan anak istri di kampung halaman. Nah, menjelang Lebaran inilah mereka kemudian pulang kampung. "Karena serempak, jadi seperti orang janjian. Ini yang membuat arusnya luar biasa," kata Imam.

Imam menambahkan, mudik juga menjadi satu-satunya cara bagi sebagian orang untuk bertemu keluarganya. Jadi bukan pamer keberhasilan. Melainkan kesempatan mengunjungi kampung halaman, bertemu teman, dan sebagainya. "Coba lihat para pembantu rumah tangga. Setelah mereka bekerja keras, kini saatnya bagi mereka pulang kampung bertemu keluarga dan teman," lanjut Imam.

Komaruddin menambahkan, tradisi mudik sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa negara juga memiliki, meski waktunya berbeda-beda. Di Cina, Jepang, dan Amerika Serikat juga ada tradisi mudik. Namun, khusus di Indonesia, itu terjadi saat Lebaran.

Bagi masyarakat Indonesia--khususnya masyarakat Jawa, kata Komaruddin, bukan hanya karena orang tua, mereka pulang ke kampung halamannya. Tempat kelahiran dan kuburan juga menjadi alasan tersendiri mereka kembali. "Lihat saja, Pak Harto waktu meninggal dimakamkan di Solo. Gus Dur di Jombang. Bung Karno di Blitar. Tapi Pak Hatta di Tanah Kusir," ujar Komaruddin, mencontohkan. Nah, dari ketiga itu, puncak mudik terjadi saat Lebaran.

Alasan itu juga yang disampaikan Heri, pemudik di Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta Pusat. Kendati harus berdesak-desakan dan tak dapat kursi, dia tetap nekat pulang ke kampung halamannya. "Soalnya keluarga di kampung semua," kata Heri, menyampaikan alasan dirinya mudik.

Untuk itu, Heri dan pemudik lain tak takut menempuh risiko, seperti kecopetan atau menjadi korban pembiusan. Mereka akan selalu berhati-hati selama dalam perjalanan. Misalnya dengan cara menolak bila diberi makanan dan minuman dari orang yang tak dikenal. "Soalnya saya pernah menjadi korban hipnotis. Jadi kini harus lebih berhati-hati," ungkap Sumiyati, pemudik. Kejadian yang pernah dialaminya tak membuat Sumiyati kapok untuk bermudik.

Imam Prasodjo mengungkapkan fakta soal kecelakaan lalu lintas. Selama arus mudik 2009, ada 728 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan selama mudik. Korbannya kebanyakan pemudik bersepeda motor. Namun, ada juga yang mengendarai kendaraan lain, seperti mobil pribadi atau bus. Untuk mengantisipasi kecelakaan serupa, Imam meminta penumpang bus proaktif. Segera tegur sopir bus apabila sudah ugal-ugalan dan membahayakan. "Sebab itu menyangkut nyawa Anda. Bukan hanya nyawa sang sopir," kata Imam.

Sedangkan mengenai kemacetan, Imam Prasodjo menawarkan solusi lain. Dia berharap pemerintah memperbanyak kapal laut dan membangun pelabuhan baru. Sebab, sebanyak apa pun kapal di laut, tak akan menimbulkan kemacetan. Dia juga mengusulkan agar gerbong kereta api diperbanyak. "Jangan seperti tahun ini, jumlah gerbong lebih sedikit bila dibanding tahun sebelumnya," harap Imam.

Walau ada berbagai kejadian negatif, namun tradisi mudik tetap mengandung hal positif. Setidaknya itu yang dirasakan Komaruddin. Setiap mudik, dia bisa bersilaturahmi dengan orang tuanya di Magelang, Jawa Tengah. Selain itu, ada pemerataan rezeki di kampung halaman setiap tradisi mudik berlangsung. Sekarang tinggal pemerintah yang harus serius memperbaiki infrastruktur agar tradisi itu bisa berjalan baik. "Sebab, mudik itu luar biasa. Bisa menjadi gerakan besar untuk membangun daerah masing-masing," lanjut Komaruddin.

Imam Prasodjo sepakat dengan Komaruddin. Dia berharap, ajang mudik sebaiknya tak hanya dimanfaatkan untuk pulang kampung. Tapi juga bisa membuat desa asal menjadi maju. Untuk tahun ini, Imam mengajak teman-temannya yang juga mudik membawa sedikitnya lima buku. Nanti, buku-buku tersebut akan dimanfaatkan buat masyarakat yang masih berada di kampung halaman.

Baik Komaruddin dan Imam Prasodjo juga sepaham bahwa mudik pemerintah harus bisa mengorganisir kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, tak ada lagi pemudik yang kehilangan nyawa dengan sia-sia selama di perjalanan. Pemudik juga harus mau berbuat sesuatu yang berarti buat kampung halamannya masing-masing. Bukan hanya sekadar pamer kekayaan dan berhasilan setelah sekian lama bekerja di kota.(ULF)

adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler