LSI: Popularitas SBY Turun
Apriyanti03/09/2010 23:28
Liputan6.com, Jakarta: Kantor Kepresidenan menyatakan apresiasinya atas survei tingkat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI). Survei yang menempatkan tingkat popularitas SBY pada angka 66 persen atau turun 19 persen dari tahun sebelumnya akan menjadi pelecut bagi pemerintah lebih bekerja keras. Demikian dikatakan Staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief di Jakarta, Jumat (3/9).
Menurut alumnus Fisipol UGM itu, naik turunnya popularitas Presiden merupakan hal biasa dan tak perlu disikapi berlebihan. Bila dibandingkan survei LSI terakhir pada Januari 2010 yang memperlihatkan popularitas Presiden di angka 70 persen, berarti saat ini terjadi penurunan sekitar 4 persen. "Tapi, saya optimis, kinerja pemerintah di tahun kedua akan lebih positif, sehingga popularitas Presiden akan meningkat kembali," kata Andi.
Andi Arief menambahkan, pengalaman naik turunnya popularitas Presiden telah dialami sejak zaman pemerintahan SBY jilid pertama (2004-2009). Penurunan popularitas sempat terjadi tatkala pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Namun, popularitas yang sempat anjlok itu dapat diperbaiki. Bahkan meningkat jauh lebih tinggi ketika pemerintah berhasil mengimplementasikan kebijakan-kebijakan populis seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), BOS (bantuan Operasional Sekolah), dan KUR (Kredit Usaha Rakyat).
Meskipun demikian, Andi tak menampik hasil survei merupakan cermin dinamika publik yang substansinya harus ditangkap para pengambil kebijakan. Hasil survei LSI pada Agustus 2010, kata Andi, menunjukkan harapan yang tinggi dari publik agar Kabinet SBY-Boediono dapat langsung tancap gas di tahun pertama pemerintahannya. Namun, berbagai persoalan politik seperti reperkusi kasus Century telah mengurangi energi Kabinet untuk fokus pada pelaksanaan program-program pro-rakyat.
Karena itu, Andi berharap di tahun kedua pemerintahan, anggota-anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dapat memberikan konsentrasi penuh. Yakni dalam menyukseskan pelaksanaan program-program kerakyatan, serta lebih peka pada rasa keadilan masyarakat.(AIS)
Menurut alumnus Fisipol UGM itu, naik turunnya popularitas Presiden merupakan hal biasa dan tak perlu disikapi berlebihan. Bila dibandingkan survei LSI terakhir pada Januari 2010 yang memperlihatkan popularitas Presiden di angka 70 persen, berarti saat ini terjadi penurunan sekitar 4 persen. "Tapi, saya optimis, kinerja pemerintah di tahun kedua akan lebih positif, sehingga popularitas Presiden akan meningkat kembali," kata Andi.
Andi Arief menambahkan, pengalaman naik turunnya popularitas Presiden telah dialami sejak zaman pemerintahan SBY jilid pertama (2004-2009). Penurunan popularitas sempat terjadi tatkala pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Namun, popularitas yang sempat anjlok itu dapat diperbaiki. Bahkan meningkat jauh lebih tinggi ketika pemerintah berhasil mengimplementasikan kebijakan-kebijakan populis seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), BOS (bantuan Operasional Sekolah), dan KUR (Kredit Usaha Rakyat).
Meskipun demikian, Andi tak menampik hasil survei merupakan cermin dinamika publik yang substansinya harus ditangkap para pengambil kebijakan. Hasil survei LSI pada Agustus 2010, kata Andi, menunjukkan harapan yang tinggi dari publik agar Kabinet SBY-Boediono dapat langsung tancap gas di tahun pertama pemerintahannya. Namun, berbagai persoalan politik seperti reperkusi kasus Century telah mengurangi energi Kabinet untuk fokus pada pelaksanaan program-program pro-rakyat.
Karena itu, Andi berharap di tahun kedua pemerintahan, anggota-anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dapat memberikan konsentrasi penuh. Yakni dalam menyukseskan pelaksanaan program-program kerakyatan, serta lebih peka pada rasa keadilan masyarakat.(AIS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
