Empat Bulan Nelayan Tak Melaut
Kristianto Nugroho23/08/2010 17:51
Liputan6.com, Kulon Progo: Akibat cuaca buruk yang terjadi, para nelayan di Pantai Trisik, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah empat bulan tidak melaut.
Di tengah mendesaknya kebutuhan jelang lebaran, pendapatan para nelayan ini justru menurun. Besarnya angin dan gelombang laut selatan Kulon Progo memaksa para petani untuk tidak melaut. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini memang menjadi tahun paceklik bagi para nelayan ikan laut.
Walaupun begitu, terkadang beberapa nelayan mencoba peruntungan dengan menebarkan jaring di pantai. Dalam sehari para nelayan ini harus berpindah-pindah tempat untuk mencari ikan laut yang berkumpul di tepi pantai. Jika beruntung, ada yang mendapatkan satu ekor ikan sekali jaring. Namun, ada pula yang harus menelan kekecewaan karena pulang dengan tangan kosong.
Bukan hal menggembirakan memang pulang hanya dengan satu ikat ikan yang hanya berisi lima hingga sepuluh ekor ikan. Jika dijual pun harganya tak sampai Rp 20 ribu. Padahal dalam sekali melaut, para nelayan ini harus merogoh kocek sedikitnya Rp 150 ribu untuk bahan bakar kapal.
Namun, buruknya cuaca ini tak menyurutkan semangat para nelayan. Tak mendapat hasil dari melaut untuk sementara waktu, mereka beralih profesi menjadi petani cabai. Hasilnya pun cukup lumayan, sekali panen dapat menghasilkan 12 kilogram cabai keriting. (APY/YUS)
Di tengah mendesaknya kebutuhan jelang lebaran, pendapatan para nelayan ini justru menurun. Besarnya angin dan gelombang laut selatan Kulon Progo memaksa para petani untuk tidak melaut. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini memang menjadi tahun paceklik bagi para nelayan ikan laut.
Walaupun begitu, terkadang beberapa nelayan mencoba peruntungan dengan menebarkan jaring di pantai. Dalam sehari para nelayan ini harus berpindah-pindah tempat untuk mencari ikan laut yang berkumpul di tepi pantai. Jika beruntung, ada yang mendapatkan satu ekor ikan sekali jaring. Namun, ada pula yang harus menelan kekecewaan karena pulang dengan tangan kosong.
Bukan hal menggembirakan memang pulang hanya dengan satu ikat ikan yang hanya berisi lima hingga sepuluh ekor ikan. Jika dijual pun harganya tak sampai Rp 20 ribu. Padahal dalam sekali melaut, para nelayan ini harus merogoh kocek sedikitnya Rp 150 ribu untuk bahan bakar kapal.
Namun, buruknya cuaca ini tak menyurutkan semangat para nelayan. Tak mendapat hasil dari melaut untuk sementara waktu, mereka beralih profesi menjadi petani cabai. Hasilnya pun cukup lumayan, sekali panen dapat menghasilkan 12 kilogram cabai keriting. (APY/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
