Noor Huda: Jihad Bisa dengan Jalan Damai
Eko Yudho dan Aries Wicaksono17/08/2010 06:17
Liputan6.com, Sidoarjo: Apa itu jihad? Sejumlah anak bangsa menafsirkannya dengan melakukan berbagai aksi teror atau meledakan bom di sejumlah tempat yang dianggap sebagai simbol Amerika Serikat, negara yang dianggap sebagai musuh Islam.
Benarkah harus seperti itu jihad ditafsirkan? Bagi penulis buku Temanku Teroris, Noor Huda Ismail, jihad tak selalu dengan cara mengangkat senjata. Menurut lulusan Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah, yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir ini, banyak jalan lain untuk berjihad dengan cara damai.
Noor Huda juga mengkritik cara pemerintah dalam menangani para teroris. "Cenderung disamaratakan, semua dilabelkan teroris," tutur Noor Huda usai dialog dan bedah buku Temanku Teroris di depan belasan narapidana berbagai kasus teroris di Lapas Kelas Satu di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (16/8). Menurut Noor, setiap orang itu beda motif serta beda teroris. "Beda juga penyelesaiannya," ujar Noor Huda.
Bagi teman sekamar Utomo Pamukas alias Mubarok saat nyantri di Ngruki ini, salah satu dampak nyata dari aksi terorisme adalah lahirnya anak-anak yatim. Padahal, dalam Islam menghardik saja terhadap anak yatim sangat dilarang.
Hayati Eka Laksmi adalah salah seorang keluarga korban Bom Bali I. Ia harus membesarkan kedua anaknya, Alif serta Tifaldi, sendirian. Pada 12 Oktober 2002, Eka kehilangan suaminya, Imawan Sarjono, dalam tragedi itu.
Untuk membesarkan anaknya, ia mengajar dan sebuah membuka toko kecil di rumahnnya di Dalung, Denpasar, Bali. Meski menjadi korban teroris, Eka tak mau ada anggapan semua umat muslim, khususnya para santri diidentikan dengan teroris.
Selain dari sisi korban, menurut Noor Huda, anak-anak yatim juga muncul dari keluarga pelaku. Bagaimana mereka nantinya akan memandang jihad dengan kekerasan atau cara damai?(BOG)
Benarkah harus seperti itu jihad ditafsirkan? Bagi penulis buku Temanku Teroris, Noor Huda Ismail, jihad tak selalu dengan cara mengangkat senjata. Menurut lulusan Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah, yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir ini, banyak jalan lain untuk berjihad dengan cara damai.
Noor Huda juga mengkritik cara pemerintah dalam menangani para teroris. "Cenderung disamaratakan, semua dilabelkan teroris," tutur Noor Huda usai dialog dan bedah buku Temanku Teroris di depan belasan narapidana berbagai kasus teroris di Lapas Kelas Satu di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (16/8). Menurut Noor, setiap orang itu beda motif serta beda teroris. "Beda juga penyelesaiannya," ujar Noor Huda.
Bagi teman sekamar Utomo Pamukas alias Mubarok saat nyantri di Ngruki ini, salah satu dampak nyata dari aksi terorisme adalah lahirnya anak-anak yatim. Padahal, dalam Islam menghardik saja terhadap anak yatim sangat dilarang.
Hayati Eka Laksmi adalah salah seorang keluarga korban Bom Bali I. Ia harus membesarkan kedua anaknya, Alif serta Tifaldi, sendirian. Pada 12 Oktober 2002, Eka kehilangan suaminya, Imawan Sarjono, dalam tragedi itu.
Untuk membesarkan anaknya, ia mengajar dan sebuah membuka toko kecil di rumahnnya di Dalung, Denpasar, Bali. Meski menjadi korban teroris, Eka tak mau ada anggapan semua umat muslim, khususnya para santri diidentikan dengan teroris.
Selain dari sisi korban, menurut Noor Huda, anak-anak yatim juga muncul dari keluarga pelaku. Bagaimana mereka nantinya akan memandang jihad dengan kekerasan atau cara damai?(BOG)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
