Bill Farmer: Indonesia Teman yang Baik
Juanita Wiratmaja07/06/2010 07:52
Liputan6.com, Jakarta: Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer akan segera mengakhiri tugasnya. Dia mempunyai banyak kesan selama hampir lima tahun bertugas di Tanah Air. Terlebih berbagai persoalan, dari terorisme, Timor Leste, dan Papua kerap mewarnai hubungan kedua negara ini.
Ibaratnya, hubungan RI-Australia acapkali digambarkan sebagai hubungan yang bersifat benci tapi rindu. Selalu saja ada kerikil. Namun, kedua negara mampu bersikap dewasa dan menyelesaikan semua persoalan yang ada. Baru-baru ini, Bill Falmer menerima reporter SCTV Juanita Wiratmaja untuk menceritakan suka duka selama bertugas di Indonesia. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda menjelaskan evolusi hubungan Indonesia dan Australia?
Saya pikir kata-kata terbaik yang bisa saya pakai adalah kata-kata yang digunakan Presiden SBY dan PM Rudd. Hubungan kedua negara dalam fase terbaik sepanjang sejarah. Ini terbukti dari kunjungan Presiden SBY ke Australia, Maret lalu. Saya sangat senang dengan cara warga dan parlemen Australia menghormati Presiden SBY, dan lewat presiden, menghargai Indonesia. Kunjungan itu menunjukkan dengan jelas, dari kerja sama yang luas, Indonesia dan Australia bekerja sama sebagai rekan yang alami, sebagai tetangga dan teman.
Apakah isu seperti Papua, Balibo Five, dan Timor Leste akan mempengaruhi hubungan kedua negara ke depannya?
Saya pikir selalu ada potensi munculnya persoalan ini dalam hubungan Indonesia-Australia. Ini sesuatu yang biasa. Kita harus mengatasi persoalan ini dalam konteks positif, saling hormat. Pemerintah kita menunjukkan mereka bisa mengatasi persoalan ini. Papua adalah isu yang dari waktu ke waktu terus menciptakan kesalahpahaman di antara kita. Tapi Traktat Lombok tentang kerja sama pertahanan sangat penting. Dalam komitmen kesepakatan, kedua negara saling menghormati integritas wilayah dan tidak akan mendukung gerakan separatisme. Ini adalah pernyataan penting kedua negara. Artinya Australia dengan sepenuhnya mengakui bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia.
Selama bertugas hampir lima tahun, situasi apa yang paling sulit diatasi?
Saya bisa katakan, selama saya di sini 98 persen positif. Memang ada perbedaan dari waktu ke waktu. Masa tersulit, secara pribadi, adalah setelah kecelakaan pesawat 2007 di Yogyakarta dan Juli tahun lalu setelah pengeboman Hotel Marriot di Jakarta. Sebab teman kerja dan sahabat kami di kedutaan menjadi korban dalam kedua kasus itu. Hal berat untuk dilalui. Saya tersemangati dengan cara rekan kerja di kedutaan, yang bekerja profesional di masa susah itu dan kerja sama kami secara produktif dan profesional dengan pihak Indonesia, terutama dengan Polri dan organisasi lain. Saya senang, kita bekerja sama dalam berbagai bidang untuk mengurangi resiko keselamatan transportasi. Jadi ada sejumlah kebaikan di balik kejadian yang menyedihkan.
Bagaimana melanjutkan dan meningkatkan hubungan yang sudah dicapai?
Jadi, sudah ada niatan baik. Ada beberapa bidang yang bisa ditingkatkan, misalnya perdagangan dan investasi bilateral. Kita akan mencari cara meningkatkan hubungan dan sejumlah upaya tengah dilakukan.
Anda akan segera meninggalkan Indonesia Juli mendatang. Apa yang akan Anda rindukan dari Indonesia?
Saya pasti akan kembali. Saya dan istri saya minggu lalu tinggal di hotel kecil di Yogyakarta. Kami meninggalkan koper penuh pakaian di sana. Kepada hotel kami mengatakan untuk menjaganya, karena kami akan segera kembali. Kami bermaksud menjadikan Indonesia bagian dari hidup kami ke depannya.
Apakah Yogya salah satu kota favorit Anda?
Ada banyak kota favorit saya. Tapi saya menemukan ada atmosfer tertentu di Kota Yogya dan Solo yang sangat positif.(ULF)
Ibaratnya, hubungan RI-Australia acapkali digambarkan sebagai hubungan yang bersifat benci tapi rindu. Selalu saja ada kerikil. Namun, kedua negara mampu bersikap dewasa dan menyelesaikan semua persoalan yang ada. Baru-baru ini, Bill Falmer menerima reporter SCTV Juanita Wiratmaja untuk menceritakan suka duka selama bertugas di Indonesia. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda menjelaskan evolusi hubungan Indonesia dan Australia?
Saya pikir kata-kata terbaik yang bisa saya pakai adalah kata-kata yang digunakan Presiden SBY dan PM Rudd. Hubungan kedua negara dalam fase terbaik sepanjang sejarah. Ini terbukti dari kunjungan Presiden SBY ke Australia, Maret lalu. Saya sangat senang dengan cara warga dan parlemen Australia menghormati Presiden SBY, dan lewat presiden, menghargai Indonesia. Kunjungan itu menunjukkan dengan jelas, dari kerja sama yang luas, Indonesia dan Australia bekerja sama sebagai rekan yang alami, sebagai tetangga dan teman.
Apakah isu seperti Papua, Balibo Five, dan Timor Leste akan mempengaruhi hubungan kedua negara ke depannya?
Saya pikir selalu ada potensi munculnya persoalan ini dalam hubungan Indonesia-Australia. Ini sesuatu yang biasa. Kita harus mengatasi persoalan ini dalam konteks positif, saling hormat. Pemerintah kita menunjukkan mereka bisa mengatasi persoalan ini. Papua adalah isu yang dari waktu ke waktu terus menciptakan kesalahpahaman di antara kita. Tapi Traktat Lombok tentang kerja sama pertahanan sangat penting. Dalam komitmen kesepakatan, kedua negara saling menghormati integritas wilayah dan tidak akan mendukung gerakan separatisme. Ini adalah pernyataan penting kedua negara. Artinya Australia dengan sepenuhnya mengakui bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia.
Selama bertugas hampir lima tahun, situasi apa yang paling sulit diatasi?
Saya bisa katakan, selama saya di sini 98 persen positif. Memang ada perbedaan dari waktu ke waktu. Masa tersulit, secara pribadi, adalah setelah kecelakaan pesawat 2007 di Yogyakarta dan Juli tahun lalu setelah pengeboman Hotel Marriot di Jakarta. Sebab teman kerja dan sahabat kami di kedutaan menjadi korban dalam kedua kasus itu. Hal berat untuk dilalui. Saya tersemangati dengan cara rekan kerja di kedutaan, yang bekerja profesional di masa susah itu dan kerja sama kami secara produktif dan profesional dengan pihak Indonesia, terutama dengan Polri dan organisasi lain. Saya senang, kita bekerja sama dalam berbagai bidang untuk mengurangi resiko keselamatan transportasi. Jadi ada sejumlah kebaikan di balik kejadian yang menyedihkan.
Bagaimana melanjutkan dan meningkatkan hubungan yang sudah dicapai?
Jadi, sudah ada niatan baik. Ada beberapa bidang yang bisa ditingkatkan, misalnya perdagangan dan investasi bilateral. Kita akan mencari cara meningkatkan hubungan dan sejumlah upaya tengah dilakukan.
Anda akan segera meninggalkan Indonesia Juli mendatang. Apa yang akan Anda rindukan dari Indonesia?
Saya pasti akan kembali. Saya dan istri saya minggu lalu tinggal di hotel kecil di Yogyakarta. Kami meninggalkan koper penuh pakaian di sana. Kepada hotel kami mengatakan untuk menjaganya, karena kami akan segera kembali. Kami bermaksud menjadikan Indonesia bagian dari hidup kami ke depannya.
Apakah Yogya salah satu kota favorit Anda?
Ada banyak kota favorit saya. Tapi saya menemukan ada atmosfer tertentu di Kota Yogya dan Solo yang sangat positif.(ULF)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
