Akibat Kemiskinan, Balita Idap Hydrocephalus Tiga Tahun
Budi Harto21/03/2010 12:10
Liputan6.com, Pekalongan: Akibat kemiskinan, seorang balita penderita hydrocephalus di Pekalongan, Jawa Tengah yang sudah berusia tiga tahun lebih tak mampu berobat. Padahal keluarga korban sudah beberapa kali mengajukan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) namun hingga kini selalu ditolak.
Bocah malang tersebut bernama Reva. Semakin hari, kepala Reva kian membesar. Bahkan kondisi balita warga Desa Gandarum Kajen, Pekalongan itu, semakin parah. Sang ibu, Kurniati tak tahu penyakit apa yang diderita anaknya, karena untuk ke dokter ia tak punya biaya. Selama ini hanya kasih sayang yang bisa ia berikan kepada Reva.
Menurut Kurniati, pembesaran kepala Reva terjadi sejak lahir. Ditambah lagi, kondisi badan sang anak juga lemah. Betapa tidak, untuk menggerakkan tubuh mungilnya pun tak mampu. Setiap hari yang terdengar hanya tangis kesakitan Reva. Kalau sudah begitu ia hanya bisa membelai kepalanya untuk menghibur anaknya.
Kini, Kurniati hanya bisa berharap ada uluran tangan dari para dermawan untuk mengobati anaknya. Karena seberapa kerasnya ia dan suaminya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan dibawah Rp 10 ribu per hari, tentu tak mampu membawa anaknya ke dokter.(BJK/AYB)
Bocah malang tersebut bernama Reva. Semakin hari, kepala Reva kian membesar. Bahkan kondisi balita warga Desa Gandarum Kajen, Pekalongan itu, semakin parah. Sang ibu, Kurniati tak tahu penyakit apa yang diderita anaknya, karena untuk ke dokter ia tak punya biaya. Selama ini hanya kasih sayang yang bisa ia berikan kepada Reva.
Menurut Kurniati, pembesaran kepala Reva terjadi sejak lahir. Ditambah lagi, kondisi badan sang anak juga lemah. Betapa tidak, untuk menggerakkan tubuh mungilnya pun tak mampu. Setiap hari yang terdengar hanya tangis kesakitan Reva. Kalau sudah begitu ia hanya bisa membelai kepalanya untuk menghibur anaknya.
Kini, Kurniati hanya bisa berharap ada uluran tangan dari para dermawan untuk mengobati anaknya. Karena seberapa kerasnya ia dan suaminya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan dibawah Rp 10 ribu per hari, tentu tak mampu membawa anaknya ke dokter.(BJK/AYB)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
