Kawanan Gajah Duduki Perkampungan
Arfan Yap Bano18/03/2010 20:57
Liputan6.com, Bengkalis: Dua perkampungan di Desa Petani, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Kamis (18/3) masih "diambil alih" oleh kawanan gajah liar yang kelaparan dan memaksa puluhan keluarga di kampung itu mengungsi. Laporan warga yang bermukim di Desa Petani, menyebutkan, kawanan gajah yang awalnya berjumlah sekitar 45 ekor itu, kini hanya tinggal beberapa ekor, namun masih menguasai perkampungan.
"Sudah dua pekan ini kami terpaksa menumpang di rumah tetangga yang rumahnya jauh dari lokasi gajah," kata Raya (45), warga yang menjadi korban kawanan gajah liar. Menurut dia, jika hewan bertubuh besar dan berkulit tebal itu diusir dikhawatirkan tidak mau pergi, tetapi malah menyerang warga yang mencoba mengamankan kampungnya dari hewan yang dilindungi tersebut.
Kepala Desa Petani, Riantono, mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak, dirinya hanya dapat mengimbau agar tetap waspada terutama pada malam hari. Selain itu warga juga diminta berjaga-jaga saat siang hari karena kawanan gajah itu datang secara tiba-tiba hingga tidak menutup kemungkinan menerobos rumah warga untuk mencari makanan.
Menurut aktivis pencinta lingkungan setempat, dewasa ini penanganan konflik antara gajah dan manusia di Bengkalis masih sebatas sosialisasi tanpa ada aksi. "Penanganan gajah yang dilakukan selama ini hanya dibahas dalam rapat dan sosialisasi saja, sedangkan tindakan nyata dari pemerintah atau instansi terkait belum ada," ujar Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Alam dan Lingkungan, Simamora. Jika kondisi itu terus didiamkan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi saling bunuh mengingat sudah banyak manusia yang meninggal karena diinjak gajah akibat konflik itu, katanya lagi.(Ant/AYB)
"Sudah dua pekan ini kami terpaksa menumpang di rumah tetangga yang rumahnya jauh dari lokasi gajah," kata Raya (45), warga yang menjadi korban kawanan gajah liar. Menurut dia, jika hewan bertubuh besar dan berkulit tebal itu diusir dikhawatirkan tidak mau pergi, tetapi malah menyerang warga yang mencoba mengamankan kampungnya dari hewan yang dilindungi tersebut.
Kepala Desa Petani, Riantono, mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak, dirinya hanya dapat mengimbau agar tetap waspada terutama pada malam hari. Selain itu warga juga diminta berjaga-jaga saat siang hari karena kawanan gajah itu datang secara tiba-tiba hingga tidak menutup kemungkinan menerobos rumah warga untuk mencari makanan.
Menurut aktivis pencinta lingkungan setempat, dewasa ini penanganan konflik antara gajah dan manusia di Bengkalis masih sebatas sosialisasi tanpa ada aksi. "Penanganan gajah yang dilakukan selama ini hanya dibahas dalam rapat dan sosialisasi saja, sedangkan tindakan nyata dari pemerintah atau instansi terkait belum ada," ujar Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Alam dan Lingkungan, Simamora. Jika kondisi itu terus didiamkan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi saling bunuh mengingat sudah banyak manusia yang meninggal karena diinjak gajah akibat konflik itu, katanya lagi.(Ant/AYB)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
