Menangkar Predator
Tim Eksis SCTV18/03/2010 01:25
Liputan6.com, Jakarta: Buaya adalah reptilia purba yang hidup sejak zaman dinosaurus. Tenang, bergerak seperlunya, adalah ciri khas buaya. Tapi, sesungguhnya buaya adalah predator yang buas. Pemangsa dengan tipe penyergap ganas.
Orang Yunani menyebut buaya dengan istilah Crocodeilos atau cacing bebatuan. Istilah ini muncul karena kebiasaan buaya yang kerap berjemur di tepi sungai berbatu. Di Indonesia, ada beberapa istilah untuk buaya. Misalnya baya atau bajul dalam bahasa Jawa atau bicokok dalam bahasa Betawi.
Buaya hidup dalam habitat air tawar seperti sungai, danau, dan rawa, meski tak sedikit pula yang hidup di air payau, campuran air tawar dan asin. Santapan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang. Dan ketika ada bebek tersesat di wilayah kekuasaannya, buaya pun siaga satu.
Rahang buaya sangat kuat. Giginya runcing dan tajam, menjadikannya hewan dengan kekuatan menggigit paling dahsyat. Tekanan gigitan buaya sekitar 15 kali lipat gigitan anjing Rottweiler atau kira-kira 10 kali lipat cengkraman hiu putih raksasa.
Namun, buaya bukannya harus dibiaskan lepas begitu saja. Hewan ini bisa juga diternakkan atau ditangkar. Seperti yang dilakukan Jemari. Sudah 20 tahun pria ini bekerja sebagai pawang buaya di areal penangkaran buaya Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatra Utara.
Setiap hari Jemari memeriksa buaya demi buaya di kolam-kolam penangkaran tanpa pernah cemas menjadi korban. Di lahan lebih dari dua hektare ini, hampir 3.000 ekor buaya berkembang biak.
Sekitar 51 tahun silam, Lo Than Muk, seorang pecinta hewan, memelihara 12 ekor buaya pemberian pemburu. Bayi-bayi buaya itu dirawat baik-baik sampai akhirnya berkembang biak. Dan ketika buaya semakin banyak, pada tahun 1959, Than Muk membuat penangkaran.
Than Muk meninggal dunia setahun lalu dan mewariskan buaya-buaya itu kepada istrinya Lim Hui Cui. Sepeninggal suaminya, Hui Cui memang tak punya pilihan. Ribuan buaya buas peninggalan suaminya tak mungkin ia telantarkan. Bersama Jemari, Hui Cui kini mengurus buaya-buaya itu.
Meski terbiasa hidup di air, untuk melakukan reproduksi buaya memilih daratan sebagai tempat yang paling aman. Buaya betina biasanya akan mencari gundukan tanah atau pasir untuk menyimpan telur-telurnya. Dari jarak sekitar dua meter, induk buaya akan mengawasi siapa pun yang mendekati sarang telur.
Pada proses penetasan, suhu di dalam sarang menjadi unsur yang cukup penting. Semakin tinggi suhu sarang, makin cepat telur buaya menetas. Biasanya dari proses penyimpanan hingga menetas, sebutir telur buaya membutuhkan waktu sekitar 30 hari sampai 90 hari.(ADO)
Orang Yunani menyebut buaya dengan istilah Crocodeilos atau cacing bebatuan. Istilah ini muncul karena kebiasaan buaya yang kerap berjemur di tepi sungai berbatu. Di Indonesia, ada beberapa istilah untuk buaya. Misalnya baya atau bajul dalam bahasa Jawa atau bicokok dalam bahasa Betawi.
Buaya hidup dalam habitat air tawar seperti sungai, danau, dan rawa, meski tak sedikit pula yang hidup di air payau, campuran air tawar dan asin. Santapan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang. Dan ketika ada bebek tersesat di wilayah kekuasaannya, buaya pun siaga satu.
Rahang buaya sangat kuat. Giginya runcing dan tajam, menjadikannya hewan dengan kekuatan menggigit paling dahsyat. Tekanan gigitan buaya sekitar 15 kali lipat gigitan anjing Rottweiler atau kira-kira 10 kali lipat cengkraman hiu putih raksasa.
Namun, buaya bukannya harus dibiaskan lepas begitu saja. Hewan ini bisa juga diternakkan atau ditangkar. Seperti yang dilakukan Jemari. Sudah 20 tahun pria ini bekerja sebagai pawang buaya di areal penangkaran buaya Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatra Utara.
Setiap hari Jemari memeriksa buaya demi buaya di kolam-kolam penangkaran tanpa pernah cemas menjadi korban. Di lahan lebih dari dua hektare ini, hampir 3.000 ekor buaya berkembang biak.
Sekitar 51 tahun silam, Lo Than Muk, seorang pecinta hewan, memelihara 12 ekor buaya pemberian pemburu. Bayi-bayi buaya itu dirawat baik-baik sampai akhirnya berkembang biak. Dan ketika buaya semakin banyak, pada tahun 1959, Than Muk membuat penangkaran.
Than Muk meninggal dunia setahun lalu dan mewariskan buaya-buaya itu kepada istrinya Lim Hui Cui. Sepeninggal suaminya, Hui Cui memang tak punya pilihan. Ribuan buaya buas peninggalan suaminya tak mungkin ia telantarkan. Bersama Jemari, Hui Cui kini mengurus buaya-buaya itu.
Meski terbiasa hidup di air, untuk melakukan reproduksi buaya memilih daratan sebagai tempat yang paling aman. Buaya betina biasanya akan mencari gundukan tanah atau pasir untuk menyimpan telur-telurnya. Dari jarak sekitar dua meter, induk buaya akan mengawasi siapa pun yang mendekati sarang telur.
Pada proses penetasan, suhu di dalam sarang menjadi unsur yang cukup penting. Semakin tinggi suhu sarang, makin cepat telur buaya menetas. Biasanya dari proses penyimpanan hingga menetas, sebutir telur buaya membutuhkan waktu sekitar 30 hari sampai 90 hari.(ADO)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
