Nouri al-Maliki Masih Unggul di Pemilu Irak
Restia Juwita15/03/2010 17:23
Liputan6.com, Baghdad: Hasil baru Pemilu Irak menujukkan Perdana Menteri Nouri al-Maliki memimpin di tujuh dari 18 provinsi, dan posisi kedua dipimpin mantan perdana menteri Iyad Allawi dengan lima provinsi.
Aliansi Nasional Irak (INA), pesaing utama Maliki di antara mayoritas Syiah Irak, membuntuti jauh di belakang. Hasil pemilihan parlemen pertama Irak sejak 2005 akan membentuk masa depan Irak sebagai stabilitas baru lahir yang akan diuji oleh penarikan pasukan AS dan perjuangan politik Irak akan merongrong upaya untuk menegakkan kembali negaranya di panggung dunia.
Maliki, yang diyakini banyak orang Irak akan meningkatkan sektor keamanan, memenangkan hampir dua kali lebih banyak suara INA seperti di selatan Basra. Hasil awal ini baru menghimpun lebih dari 3 juta suara dari sekitar 12 juta pemilih.
Hasil akhir tampaknya tidak bisa diketahui dalam beberapa pekan ini. Para politisi Irak merasa cemas dan mengkritik Komisi Independen Pemilihan Tinggi (IHEC) lantaran tak bisa segera mengumumkan hasil akhir.
Maliki, dalam pernyataan di televisi, Ahad (14/3), mengakui bahwa pemungutan suara pada 7 Maret lalu memiliki beberapa masalah. Namun, ia mengatakan bahwa tidak ada pemilu yang "nol pelanggaran." Tapi, itu tidak mengubah hasil.
Pihak Alawi sendiri telah mengajukan daftar panjang keluhan tentang penipuan, termasuk suara yang ditemukan di tong sampah dan lebih dari 200 ribu tentara tidak mampu untuk memilih karena nama mereka tidak muncul secara resmi.(YUS)
Aliansi Nasional Irak (INA), pesaing utama Maliki di antara mayoritas Syiah Irak, membuntuti jauh di belakang. Hasil pemilihan parlemen pertama Irak sejak 2005 akan membentuk masa depan Irak sebagai stabilitas baru lahir yang akan diuji oleh penarikan pasukan AS dan perjuangan politik Irak akan merongrong upaya untuk menegakkan kembali negaranya di panggung dunia.
Maliki, yang diyakini banyak orang Irak akan meningkatkan sektor keamanan, memenangkan hampir dua kali lebih banyak suara INA seperti di selatan Basra. Hasil awal ini baru menghimpun lebih dari 3 juta suara dari sekitar 12 juta pemilih.
Hasil akhir tampaknya tidak bisa diketahui dalam beberapa pekan ini. Para politisi Irak merasa cemas dan mengkritik Komisi Independen Pemilihan Tinggi (IHEC) lantaran tak bisa segera mengumumkan hasil akhir.
Maliki, dalam pernyataan di televisi, Ahad (14/3), mengakui bahwa pemungutan suara pada 7 Maret lalu memiliki beberapa masalah. Namun, ia mengatakan bahwa tidak ada pemilu yang "nol pelanggaran." Tapi, itu tidak mengubah hasil.
Pihak Alawi sendiri telah mengajukan daftar panjang keluhan tentang penipuan, termasuk suara yang ditemukan di tong sampah dan lebih dari 200 ribu tentara tidak mampu untuk memilih karena nama mereka tidak muncul secara resmi.(YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
