Pelaku UKM Tolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik
Syamsu Nursyam13/03/2010 15:06
Liputan6.com, Karawang: Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (13/3), menyatakan menolak rencana pemerintah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), sebesar 15 persen. Rencana ini dianggap sangat membebani mereka, sebab, jika listrik naik, merekapun harus menaikkan harga produknya. Sedangkan saat ini, omset penjualan mengalami penurunan, belum lagi bersaing dengan produk buatan Cina. Akibatnya, usaha mereka pun terancam bangkrut.
Seperti yang dialami Enang Jamal. Pengusaha topi di Desa Wanci Mekar, Kecamatan Kota Baru, Karawang ini mengatakan, usaha yang digelutinya sangat bergantung pada listrik. Dengan rencana pemerintah menaikan tarif dasar listrik itu, ia khawatir akan mematikan usahanya. Enang menjelaskan, sebelum produk buatan Cina masuk ke Indonesia, ia mampu mempekerjakan 20 orang karyawan, namun kini tinggal 15 karyawan saja.
Sebelumnya, ia juga bisa menghasilkan 200 hingga 250 kodi per pekan, tapi saat ini hanya bisa menghasilkan 160 kodi, yang dijual seharga Rp 125 ribu per kodinya, serta dipasarkan ke Tanah Abang, Jakarta. Bila pemerintah jadi menaikan TDL, ia terpaksa akan menaikkan harga topinya. "Tapi kalau harga topi naik, langganan pasti beralih ke produk topi dari Cina, yang harganya sangat murah", kata Enang.
Enang menganjurkan, sebelum TDL dinaikkan, pemerintah terlebih dahulu memperbaiki pelayanan PLN. Karena menurutnya, saat ini PLN masih sering melakukan pemadaman listrik bergilir selama berjam-jam, tanpa pemberitahuan. Ia mengharapkan pemerintah memperhatikan kelangsungan usaha kecil dan menengah milik masyarakat. Jangan sampai UKM gulung tikar, lantaran tidak mampu membayar listrik.[baca: Tarif Dasar Listrik Naik Juli 2010].(ARL)
Seperti yang dialami Enang Jamal. Pengusaha topi di Desa Wanci Mekar, Kecamatan Kota Baru, Karawang ini mengatakan, usaha yang digelutinya sangat bergantung pada listrik. Dengan rencana pemerintah menaikan tarif dasar listrik itu, ia khawatir akan mematikan usahanya. Enang menjelaskan, sebelum produk buatan Cina masuk ke Indonesia, ia mampu mempekerjakan 20 orang karyawan, namun kini tinggal 15 karyawan saja.
Sebelumnya, ia juga bisa menghasilkan 200 hingga 250 kodi per pekan, tapi saat ini hanya bisa menghasilkan 160 kodi, yang dijual seharga Rp 125 ribu per kodinya, serta dipasarkan ke Tanah Abang, Jakarta. Bila pemerintah jadi menaikan TDL, ia terpaksa akan menaikkan harga topinya. "Tapi kalau harga topi naik, langganan pasti beralih ke produk topi dari Cina, yang harganya sangat murah", kata Enang.
Enang menganjurkan, sebelum TDL dinaikkan, pemerintah terlebih dahulu memperbaiki pelayanan PLN. Karena menurutnya, saat ini PLN masih sering melakukan pemadaman listrik bergilir selama berjam-jam, tanpa pemberitahuan. Ia mengharapkan pemerintah memperhatikan kelangsungan usaha kecil dan menengah milik masyarakat. Jangan sampai UKM gulung tikar, lantaran tidak mampu membayar listrik.[baca: Tarif Dasar Listrik Naik Juli 2010].(ARL)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
